<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Memahami psikologi dengan cara sederhana</title>
	<atom:link href="http://beatriksbunga.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://beatriksbunga.wordpress.com</link>
	<description>All about psychologi</description>
	<lastBuildDate>Fri, 15 Oct 2010 04:55:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='beatriksbunga.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Memahami psikologi dengan cara sederhana</title>
		<link>http://beatriksbunga.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://beatriksbunga.wordpress.com/osd.xml" title="Memahami psikologi dengan cara sederhana" />
	<atom:link rel='hub' href='http://beatriksbunga.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Mencintai apa yg harus nya kau cintai</title>
		<link>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/10/05/mencintai-apa-yg-harus-nya-kau-cintai/</link>
		<comments>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/10/05/mencintai-apa-yg-harus-nya-kau-cintai/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Oct 2010 06:41:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mediapsikologi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bunga Rampai Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beatriksbunga.wordpress.com/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[Hssss&#8230;hawa di dalam ruangan ini berkisar antara 35-36 derajat celsius.Bisa dibayangkan panas nya kan? Adaptasi&#8230;hm itulahkeberuntungan menjadi mahluk ciptaan Tuhan. Diberi kemampuan untuk adaptasi, termasuk tubuh ini dengan lingkungannya. Mulai dari mana ya&#8230; spertinya mulai dengan adaptasi juga bisa.. Adaptasi dengan &#8220;rumah&#8221; kedua saya sekarang, yaitu fakultas, tepatnya jurusan&#8230;.saya maasih mencoba untuk adaptasi dengan kondisinya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beatriksbunga.wordpress.com&amp;blog=11982234&amp;post=128&amp;subd=beatriksbunga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hssss&#8230;hawa di dalam ruangan ini berkisar antara 35-36 derajat celsius.Bisa dibayangkan panas nya kan?</p>
<p>Adaptasi&#8230;hm itulahkeberuntungan menjadi mahluk ciptaan Tuhan. Diberi kemampuan untuk adaptasi, termasuk tubuh ini dengan lingkungannya.</p>
<p>Mulai dari mana ya&#8230;</p>
<p>spertinya mulai dengan adaptasi juga bisa..</p>
<p>Adaptasi dengan &#8220;rumah&#8221; kedua saya sekarang, yaitu fakultas, tepatnya jurusan&#8230;.saya maasih mencoba untuk adaptasi dengan kondisinya.</p>
<p>Sebagai kantor&#8230;ini merupakan rumah kedua bagi saya. bagaimana tidak, setengah hari saya dihabiskan disini. Layaknya rumah, harusnya anda betah didalam nya. Betah itu harus di  dukung oleh situasi dan fasilitas.<br />
KOndisi sekarang adalah&#8230;kami keluar masuk ruangan seperti hotel dan menuntut agar situasi, fasilitas disediakan dan bagus dan 1 lagi&#8230;mengeluhkan keadaan sekarang dan 1 lagi (this is the last one) semua diukur dengan Uang. They always say like this &#8220;kita sudah ajukan kefakultas agar mengeluarkan uang untuk itu, tapi&#8221;..</p>
<p>Sy berpikir bahwa keadaan ini mmg tidak akan berubah. mnecoba untuk hidup dalam kenyataann sekarang sambil menanamkan rasa cinta pada tempat ini.</p>
<p>Oke skarang coba kita melist hal-hal yang membuat rumah ini nyaman dan bisa membuat kita betah&#8230;:</p>
<p>1. Air minum : apakah itu butuh uang dari fakultas untuk melakukan itu? toh kenyataan sekarang adalah kita menghabiskan uang untuk membeli minum setiap hari&#8230;apa salahnya uang itu di kumpulkan untuk membeli minuman yg bisa dipake bersama atau paling tidak diri sendiri dengan fasilitas kulkas yang ada tapi trnyta dijadikan lemari file?hhhh????</p>
<p>2. ruangan dosen sangat kotor dan berdebu&#8230;marilah membeli sulak atau kain lap untuk kebersihan dan kenyamanan&#8230;apakah itu butuh acc rektor untuk mendapatkan sulak?</p>
<p>Hmmm, itu 2 hal sederhana untuk membuat kita mencintai rumah ini&#8230;itu contoh maksud saya.Kalau yang kecil2 itu tidak mampu dijalankan, bagaimana dengan yang besar2 lagi&#8230;</p>
<p>oke deh&#8230;sy ingin melakukan itu tanpa menunggu acc uang..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/beatriksbunga.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/beatriksbunga.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/beatriksbunga.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/beatriksbunga.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/beatriksbunga.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/beatriksbunga.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/beatriksbunga.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/beatriksbunga.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/beatriksbunga.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/beatriksbunga.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/beatriksbunga.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/beatriksbunga.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/beatriksbunga.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/beatriksbunga.wordpress.com/128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beatriksbunga.wordpress.com&amp;blog=11982234&amp;post=128&amp;subd=beatriksbunga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/10/05/mencintai-apa-yg-harus-nya-kau-cintai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f8fd0322dec9c1bd8e374523cdbaffa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">beatriksbunga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjadi PNS</title>
		<link>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/08/09/menjadi-pns/</link>
		<comments>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/08/09/menjadi-pns/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Aug 2010 13:25:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mediapsikologi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bunga Rampai Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beatriksbunga.wordpress.com/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini sebenarnya sudah menjadi perenungan sejak dahulu, hanya mencoba menuangkannya dalam tulisan baru terinspirasi setelah membaca blog menarik (Romisatriowahono). Sebenarnya menjadi hal tidak adil ketika memberi sedikit perenungan terhadap etos kerja PNS, karena rasanya banyak pihak yang melayangkan protes atau kritikan. Dan saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang “sering” sekali protes [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beatriksbunga.wordpress.com&amp;blog=11982234&amp;post=99&amp;subd=beatriksbunga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini sebenarnya sudah menjadi perenungan sejak dahulu, hanya mencoba menuangkannya dalam tulisan baru terinspirasi setelah membaca blog menarik (Romisatriowahono).</p>
<p>Sebenarnya menjadi hal tidak adil ketika memberi sedikit perenungan terhadap etos kerja PNS, karena rasanya banyak pihak yang melayangkan protes atau kritikan. Dan saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang “sering” sekali protes tentang bagaimana PNS bekerja. Sudah sejak kecil, saya sudah berjanji untuk tidak mengikuti dab bahkan menjadi PNS. Ini akibat sering main di kantor Bapak saya sejak kecil. Sejak otak saya masuk dalam tahap analisis operasional. Melihat kerja staf dalam departemen yang Bapak saya pimpin (kebudayaan &amp; sejarah) yang terlihat sejak pagi membaca Koran, maen catur, cerita di pojok-pojok ruangan dan bahkan mengajak anak bos untuk diajak cerita atau bermain. Suasana dalam ruangan memang sangat diam, teduh dan kondusif untuk menghasilkan sebuah karya, seperti menujukkan sebuah kualitas pekerjaan yang dilakukan. Ternyata apa yang terjadi adalah, setiap orang sibuk dengan “pekerjaan” nya masing-masing.</p>
<p>Kondisi ini tidak terlalu saya ambil pusing karena keadaan saya ketika masih kecil. Pengamatan serta analisis ini berkembang seiring dengan pertambahan pengetahuan yang saya alami. Melihat bahwa PNS selalu berkeliaran di toko-toko, rumah-rumah makan bahkan pasar dan seringnya berdiskusi dengan teman yang juga memperhatikan fenomena tersebut, dan kenyataan bahwa di Kota Kupang, menajdi PNS adalah cita-cita tertinggi setiap orang dan anak muda yang mencari pekerjaan, saya juga akan berpikir, suatu waktu, ada kemungkinan saya akan menjadi PNS juga.</p>
<p>Kemungkinan ini mendorong saya untuk berpikir mencari celah dimana menjadi PNS yang “bekerja” dan berkualitas. Dari semua kemingkinan tersebut, profesi PNS yang bekerja hanya terjadi bagi mereka yang bekerja sebagai tenaga pengajar. Sejak saat itulah, kemungkinan menjadi PNS hanya saya peruntukan untuk profesi sebagai tenaga pengajar saja. Pemahaman dan keyakinan seperti itu bertahan sampai saya menyelesaikan strata 1 saya.</p>
<p>Kondisi itu bertahan dan diperkuat setelah saya melanjutkan strata 2. Memiliki teman-teman yang berbagi cerita tentang kehidupan pekerjaan mereka menjadi PNS, lalu mengalami sendiri setelah hampir 20 tahun yang lalu di dalam kantor bapak saya. Saat melakukan permohonan ijin melakukan penelitian di tanah air beta ini, betapa terkejutnya ketika saya mendapati bahawa hari senin, jam 9 pagi, PNS-PNS dalam ruangan tempat melakukan permohonan ijin sedang ramai. Ruangan itu kira-kira seluas 6&#215;7 m, berisi sekitar 10 orang PNS dan bunyi suara TV dan dengungan tidak jelas dari mereka yang bercerita, beberapa yang menonton, beberapa yang membaca Koran, dan tak 1 pun yang sedang terlihat serius melakukan tugasnya. Ketika saya masuk, butuh waktu 20 detik untuk membuat mereka sadar akan kehadiran saya padahal saya sudah mengetuk pintu dan mengucapkan salam selamat pagi. Entah sengaja atau memang sibuk dengan aktivitas mereka itu, saya tak dihiraukan.</p>
<p>Setelah masuk pun, hanya 1 orang yang memperhatikan saya dan menyakan tujuan saya datang tanpa meminta saya duduk karena tidak ada 1 kursi yang tersisa untuk melayani warga karena di penuhi oleh PNS yang melakukan “aktivitas” mereka. Saya pun dilayani dengan keadaan berdiri.</p>
<p>Sambil senyum-senyum memahami kondisi ini, saya segera menyelesaikan tugas dan bergegas pergi ke ruangan dan, dan hasilnya pada hari itu saya berkeliling 3 ruangan dan tidak ada hasil. Surat yang harusnya bisa diselesaikan saat itu juga, baru bisa diambil besok dengan alasan “maaf, saya bekerja sendiri, jadi sibuk”, padahal kondisinya saat saya datang adalah (bisa ditebak) sedang bercerita. Dan semakin kuatlah saya untuk tidak ingi bekerja sebagai PNS dengan jabatan structural.</p>
<p>Setelah menyalesaikan strata 2 saya, niat untuk pulang dan membangun Kota Kupang menjadi tujuan utama adalah dibidang pendidikan. Setelah 1 tahun bergabung dengan LSM local akhirnya saya di terima di salah satu Universitas Negeri terbesar dan tertua di Kota Kupang di fakultas FKIP. Syukur pada Tuhan untuk keberuntungan ini.</p>
<p>Hari ini, tepatnya 1 bulan 29 hari sejak saya menjalankan tugas sebagai PNS (tetapi status PNSnya sudah 6 bulan 29 hari).</p>
<p>Sudah hampir 2 bulan saya menjalankan status saya dan bukan tugas sebagai PNS. Menjalankan status yaitu wajib lapor, wajib mengikuti apel pagi sebagai wujud pengabdian pada negara dan institusi (atau apalah itu namanya) dan pastinya menerima gaji bahkan uang lauk pauk. Sedangkan tugas saya sebagai dosen, tidak tersentuh sama sekali hampir 2 bulan ini.</p>
<p>Dan berikut beberapa hal yang ingin saya share, tentang kekagetan saya setelah menjadi PNS dalam jabatan fungsional alias tenaga pengajar.Biar lebih detail, saya akan menceritakan bagaimana kegiatan saya sehari-hari&#8230;</p>
<p>Terhitung tanggal 1 juni, kami diwajibkan datang pagi untuk mengikuti apel pagi pada pukul 07.15 Witang. Lamanya cereminy tersebut tergantung siapa yang menjadi pemimpin apel hari itu. Kira-kira 1/2 jam kemudian kami dibubarkan. Setelah itu, aktifitas lanjutan adalah mencari &#8220;tempat&#8221; yang nyaman untuk &#8220;bercerita&#8221;. Karena Kami (saya dan 2 teman lainnya yang baru masuk) bukanlah tipe yang senang menghabiskan waktu dengan cara seperti itu, maka kami memilih pulang untuk melanjutkan aktifitas masing2 yang menunggu.</p>
<p>Kegiatan seperti diatas, berlangsung sampai hari ini. Kami hanya mampu bertahan 30 menit berada di Fakultas tercinta itu.  Sisanya kami habiskan dengan aktifitas lain.</p>
<p>Kondisi ini sangat membuat saya merasa bersalah dengan &#8220;tanah dan bumi&#8221;. Liat saja, ditengah-tengah susahnya orang bekerja untuk mendapatkan gaji yg layak ntuk bertahan hidup, saya bahkan tidak mengerjakan apa-apa dan mendapat bayaran yg bagus. dan karena rasa bersalah ini saya sempat menanyakan pekerjaan apakah yang bisa saya kerjakan? dan jawabannya adalah saya mendapat senyuman yang terlihat seperti mengejek&#8230;(&#8220;sok banget seh&#8221;). Akhirnya, untuk mengurangi rasa bersalah ini, saya membawa pekerjaan (yang tentunya berkaitan dengan pendidikan) untuk saya kerjakan di kampus. Hasilnya memang saya bertahan menyelesaikan waktu tugas saya di kampus.</p>
<p>Sampai pada tahap ini, akhirnya saya berpikir bagaimana tidak larut dalam system, tetapi menjadi diri sendiri dengan system PNS yang ada. Semoga saya tidak menunda-nunda pekerjaan, semoga tidak melihat berapa uang yang menjadi jatah saya jika bekerja, semoga tepat waktu, semoga tidak mencari muka dan semoga produktif.</p>
<p>Tetapi tidak semua PNS seperti itu, setelah saya amati, semua ini hanya masalah “mind set” yang perlu bongkar dan di tata kembali. Seburuk apapun system, ketika mind set orang bagus, tidak sulit untuk menjadi agen of change.</p>
<p>Mari menjadi PNS yang berdedikasi dan berkualiatas…</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/beatriksbunga.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/beatriksbunga.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/beatriksbunga.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/beatriksbunga.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/beatriksbunga.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/beatriksbunga.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/beatriksbunga.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/beatriksbunga.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/beatriksbunga.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/beatriksbunga.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/beatriksbunga.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/beatriksbunga.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/beatriksbunga.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/beatriksbunga.wordpress.com/99/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beatriksbunga.wordpress.com&amp;blog=11982234&amp;post=99&amp;subd=beatriksbunga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/08/09/menjadi-pns/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f8fd0322dec9c1bd8e374523cdbaffa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">beatriksbunga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hubungan persepsi ttg kekerasan dgn Konsep diri</title>
		<link>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/05/29/hubungan-persepsi-ttg-kekerasan-dgn-konsep-diri/</link>
		<comments>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/05/29/hubungan-persepsi-ttg-kekerasan-dgn-konsep-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 May 2010 00:35:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mediapsikologi</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnal psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan anak]]></category>
		<category><![CDATA[konsep diri]]></category>
		<category><![CDATA[pola asuh otoriter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beatriksbunga.wordpress.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Jurnal kekerasan anak di Kupang<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beatriksbunga.wordpress.com&amp;blog=11982234&amp;post=70&amp;subd=beatriksbunga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p>THE RELATIONSHIP BETWEEN <strong>CHILDREN’S PERCEPTION OF VIOLENCE</strong> AND <strong>AUTHORITARIAN PARENTING STYLE</strong> WITH <strong>SELF CONCEPT</strong> IN SABU AND ROTE ETHNIC ENVIRONMENTS IN KOTA KUPANG</p>
<p> Bunga<a href="http://beatriksbunga.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn1">[1]</a>, Ekowarni<a href="http://beatriksbunga.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn2">[2]</a></p>
<p> Program Magister Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada </p>
<p>ABSTRACT</p>
<p>             One of the impacts of child abuse is negative self concept. In th<em>e fact, both of parents or teachers ways to educate their children used by a violence. This research   examines the relation between children perception of violence and authoritarian parenting style with self concept viewed by Sabu and Rote ethnic environment at Kota Kupang. The sample is the children live in ethnic Sabu and Rote environment, it has also Sabu and Rote ethnic (N= 150, age 11-12). The method used in the research is the scale of children’s perception of violence, the scale of authoritarian of parenting style and the scale self concept.</em></p>
<p><em>            The result showed that children perception of violence and authoritarian of parenting style together influence the self concept (F= 5.311, R2= 0.067, p = 0.006). t-test result showed no self concept differences between children live in Sabu and Rote ethnic environments (t hitung = 0.932 dan t tabel = 1,640).</em></p>
<hr size="1" /><a href="http://beatriksbunga.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref1">[1]</a> Program Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada</p>
<p><a href="http://beatriksbunga.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref2">[2]</a> Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada</p>
<p><strong>Pengantar</strong></p>
<p>                Salah satu tugas perkembangan yang harus diselesaikan pada tahapan kanak-kanak adalah konsep diri anak. Konsep diri memiliki peran yang cukup penting dalam penentuan  sikap, perilaku dan reaksi anak terhadap orang lain dan lingkungan sekitarnya.</p>
<p>                Banyak anak yang mengembangkan dengan konsep diri yang cenderung negatif. Namun sayang orangtua, guru dan orang dewasa yang bertanggung untuk membimbing mereka tidak menyadari hal itu.</p>
<p>                Konsep diri yang cenderung negatif ini banyak terlihat pada anak-anak di Kota Kupang. Ini tampak jelas ketika anak mulai melebarkan sayap ke Sekolah Dasar. Anak-anak di Kota Kupang sangat pemalu, tidak percaya diri, penakut, cepat putus asa, selalu mengatakan “tidak”, selalu mengatakan saya “tidak dapat/ mampu”, mengatakan “saya tidak berani”.</p>
<p>                Perilaku-perilaku tersebut memang dianggap tidak baik oleh para orangtua dan pendidik, tetapi justru mereka memperkuat berkembangnya konsep diri yang negatif itu dengan kekerasan, baik fisik seperti memukul untuk membuat anak mau melakukan sesuatu, kekerasan emosional seperti menghina anak di depan kelas. Model ini diperkuat orang dewasa seperti orangtua, guru dan orang dewsa lainnya dengan keyakinan bahwa kekerasan yang mereka terima dulu itulah yang membuat mereka menjadi orang yang berguna saat ini.</p>
<p>Banyak faktor yang mempengaruhi tumbuh dan kembang anak, termasuk pembentukan konsep diri anak. Bronfenbrener dalam Santrock (1999), seorang pencetus teori ekologi mengungkapkan bahwa lingkungan sosiokultural anak sangat mempengaruhi perkembangan anak. Lingkungan itu dimulai dari lingkungan yang sangat dekat dengan anak yaitu hubungannya dengan keluarga, meluas pada teman sebaya, sekolah, dan masyarakat; bagaimana pengalaman yang anak alami dalam lingkungan-lingkungan tersebut; bagaimana interaksi antara lingkungan-lingkungan itu mempengaruhi anak dan kemudian meluas pada bagaimana kebudayaan dalam lingkungan tempat tinggal anak mempengaruhi perkembangannya. Apabila lingkungan disekitar anak di Kota Kupang penuh dengan kekerasan baik yang dilakukan orangtua, guru dan masyarakat, tentunya akan mempengaruhi perkembangan kepribadiannya. Apa yang anak Kota Kupang lihat, dengar mengenai sikap orang lain terhadap dirinya bahkan apa yang dirasakan akibat perlakuan orang lain, akan dievaluasi anak menjadi suatu konsep tentang dirinya.</p>
<p>Secara khusus penelitian ini mengambil lingkungan etnis sebagai salah satu objek amatan. Peneliti ingin mengetahui bagaimana perbedaan lingkungan tempat tinggal anak ini mempengaruhi konsep diri yang anak kembangkan.</p>
<p>Berdasarkan fenomena  yang disajikan diatas, menarik bagi penulis untuk mengetahui lebih lanjut tentang :</p>
<ol>
<li>Apakah ada hubungan antara persepsi anak terhadap kekerasan dan pola asuh otoriter dengan konsep diri ditinjau dari lingkungan etnis Sabu dan Rote di Kota Kupang.</li>
<li>Apakah ada hubungan antara persepsi anak terhadap kekerasan dengan konsep diri ditinjau dari lingkungan etnis Sabu dan Rote di Kota Kupang.</li>
<li>Apakah ada hubungan antara pola asuh otoriter dengan konsep diri di tinjau dari lingkungan etnis Sabu dan Rote di Kota Kupang.</li>
<li>Apakah ada perbedan konsep diri antara anak yang tinggal di lingkungan etnis Sabu dan Rote.</li>
</ol>
<p>Teori utama mengenai konsep diri yang dipakai adalah teori konsep diri yang dikemukakan oleh Shalvelson. Menurut Shalvelson  (Marsh et al., 1983) konsep diri adalah persepsi individu tentang dirinya yang terbentuk dari pengalaman individu dalam lingkungan, interaksi dengan orang-orang terdekatnya (<em>significant others</em>) dan atribut-atribut yang dikenakan padanya. Konsep diri menurut Fitts dalam Tarakanita (2001) adalah bagaimana diri diamati, dipersepsi dan dialami oleh individu tersebut. Didalam konsep diri juga mengandung unsur penilaian dan mempengaruhi tingkah laku seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain. Lanjutnya Fitts juga mengemukakan bahwa konsep diri merupakan suatu konstruk sentral untuk mengenal dan mengerti individu yang erat hubungan dengan dunia fenomenalnya, sehingga dalam dunia fenomenalnya aspek yang memegang peranan penting adalah dirinya sendiri.</p>
<p>Penelitian ini menggunakan model konsep diri dari Shalvelson, Hubner dan Stanton. Berikut model konsep diri umum yang diajukan Shavelson, Hubner dan Stanton dalam Song (1984) :</p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>GENERAL SELF CONCEPT</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>ACADEMIC SELF CONCEPT</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>PRESENTATION OF SELF</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>ABILITY SELF CONCEPT</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>PEER SELF CONCEPT</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>SOCIAL SELF CONCEPT</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>CONFIDENCE SELF CONCEPT</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>FAMILY SELF CONCEPT</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>ACHIEVEMENT SELF CONCEPT</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>CLASSROOM SELF CONCEPT</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>PHYSICAL SELF CONCEPT</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>NATURAL SCIENCE</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>SOCIAL STUDIES</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>LANGUAGE</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>MATHEMATICS</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p> </p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Gambar 1. Model Konsep Diri oleh Shavelson,</strong></p>
<p><strong> Hubner dan Stanon (Song, 1984)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bagi Shalvelson (Marsh et al., 1984), konsep diri ini sangat multi dimensi dan bergerak secara hirarki. Dimulai dari konsep diri akademik (matematika dan membaca) dan kemudian ke konsep diri secara umum. Konsep diri ini kurang <em>multifaced</em> seiring dengan dengan perkembangan individu, bayi menjadi dewasa dan tergantung juga dengan sistem lain yang individu terima dalam kelompok.</p>
<p>Shavelson menetapkan skala yang lengkap mengenai konsep diri (Marsh et al., 1983) . Secara ringkas aspek konsep diri tersebut dapat dilihat dari tabel berikut :</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="266" valign="top">ASPEK<strong> </strong></td>
<td width="280" valign="top">DESKRIPSI<strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="266" valign="top"><strong>Kemampuan fisik</strong></td>
<td width="280" valign="top">Kemampuan dan minat yang berkaitan dengan olahraga maupun aktivitas fisik lainnya</td>
</tr>
<tr>
<td width="266" valign="top"><strong>Penampilan Fisik </strong></td>
<td width="280" valign="top">Sejauh mana seseorang memiliki fisik yang menarik.</td>
</tr>
<tr>
<td width="266" valign="top"><strong>Hubungan dengan lawan jenis</strong></td>
<td width="280" valign="top">Interaksi dengan sahabat seumur yang memiliki jenis kelamin berbeda</td>
</tr>
<tr>
<td width="266" valign="top"><strong>Hubungan dengan sesama jenis</strong></td>
<td width="280" valign="top">Interaksi dengan sahabat seumur yang memiliki kesamaan jenis kelamin</td>
</tr>
<tr>
<td width="266" valign="top"><strong>Hubungan antara anak dengan orangtua</strong></td>
<td width="280" valign="top">Interaksi anak dengan orangtua</td>
</tr>
<tr>
<td width="266" valign="top"><strong>Matematika</strong></td>
<td width="280" valign="top">Kemampuan, rasa suka, dan ketertarikan pada matematika dan ilmu logika</td>
</tr>
<tr>
<td width="266" valign="top"><strong>Verbal</strong></td>
<td width="280" valign="top">Kemampuan, rasa suka dan ketertarikan pada bahasa, khususnya bahasa inggris dan membaca</td>
</tr>
<tr>
<td width="266" valign="top"><strong>Sekolah secara umum</strong></td>
<td width="280" valign="top">Kemampuan, rasa suka dan ketertarikan pada subjek-subjek yang berkaitan dengan sekolah</td>
</tr>
<tr>
<td width="266" valign="top"><strong>Konsep diri secara umum</strong></td>
<td width="280" valign="top">Kemampuan untuk menghargai diri sendiri dan membangun rasa percaya diri</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Tabel 1.  Aspek Konsep Diri menurut Shalvelson</strong></p>
<p>                Menurut Burns (1979), konsep diri dipengaruhi oeh beberapa faktor yaitu bagaimana diri fisiknya dan bagaimana anak mencitra kondisi fisiknya; umpan balik orang-orang terdekat anak seperti orangtua, teman sebaya dan guru juga praktek membesarkan anak atau pola asuh.</p>
<p>Praktek-pratek pengasuhan dan hubungan anak baik dengan teman sebaya maupun guru serta masyarakat yang diwarnai kekerasan di Kota Kupang mempengaruhi perkembangan konsep diri anak. Menurut Walgito (2002) persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan, yakni merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera.. Jadi apa yang dialami oleh anak selama 11 tahun merupakan stimulus awal yang kemudian diorganisasikan dan diinterpretasikan sehingga individu menyadari, mengerti tentang apa yang diindera dan memunculkan respon (Branca, dalam Walgito, 2002). Anak di Kota Kupang, dengan inderanya menangkap stimulus yang ada berupa kata-kata makian, penghinaan, pemukulan dan perbuatan kasar lainnya, mengorganisasikan dan menginterpretasikannya sehingga anak menyadari apa yang dialaminya sebagai bentuk kasih sayang ataukah penolakan orangtua maupun lingkungan terhadapnya, kemudian memunculkan respon dengan mengembangkan konsep diri yang positif ataukan negatif.</p>
<p>Kekerasan terhadap anak biasa dikenal secara global sebagai “<em>child abuse</em>”. Kekerasan pada anak adalah tindakan melukai yang berulang-ulang secara fisik dan emosional terhadap anak yang ketergantungan, melalui desakan hasrat, hukuman badan yang tak terkendali, degradasi dan cemoohan permanen atau kekerasan seksual, biasanya dilakukan para orangtua atau pihak lain yang seharusnya merawat anak (Baker dalam Huraerah, 2007). Banton (2004) mendefenisikan kekerasan terhadap anak sebagai perilaku-perilaku yang merugikan anak-anak dalam kondisi apapun, atau kegagalan dalam menyediakan kebutuhan  dasar anak. Menurut Richard Gelles dalam Huraerah (2007), kekerasan terhadap anak adalah perbuatan disengaja yang menyebabkan kerugian atau bahaya terhadap anak-anak secara fisik maupun emosional.</p>
<p>Persepsi anak terhadap kekerasan adalah proses pemaknaan stimulus yang di tangkap anak lewat inderanya (melihat, mendengar, merasakan kekerasan yang dilakukan orang-orang yang seharusnya mengasihi nya). Proses pemaknaan inilah yang menjadi dasar perilaku anak.</p>
<p>Skala perespsi anak terhadap kekerasan ini dikembangkan berdasarkan aspek-aspek dibawah ini :</p>
<ol>
<li>Kekerasan merupakan pewarisan kekerasan antar generasi <em>(intergenerational transmission of violance)</em>.</li>
</ol>
<p>Menurut Gelles (Huraerah, 2007), pewarisan kekerasan antar generasi adalah perilaku kekerasan dipelajari seorang anak dari orangtuanya  kemudian mengembangkannya ketika dewasa/ menjadi orangtua nantinya. Orangtua dulunya menjadi patuh, disiplin dan berhasil karena di perlakukan keras oleh orangtua mereka masing-masing, sehingga mereka meyakini bahwa cara pendidikan yang mereka terima dahulu adalah cara yang efektif untuk menghasilkan generasi yang unggul.</p>
<ol>
<li>Kekerasan fisik</li>
</ol>
<p>Menurut Tampubulon, et al (2003) kekerasan fisik adalah semua tindakan yang mengakibatkan luka fisik pada anak. Kekerasan fisik itu meliputi menampar, menjewer, mencubit, memukul dengan dahan pohon, dengan tongkat, cambuk atau benda keras lainnya, melempar dengan benda keras, mendorong, menendang, membenturkan anak ke dinding, mengikat anak di pohon, <em>push up</em>, jalan dengan lutut dan dijemur.</p>
<ol>
<li>Kekerasan emosional</li>
</ol>
<p>Kekerasan emosional adalah semua tindakan yang berpengaruh buruk terhadap perkembangan emosi dan sosial anak. Menurut Banton (2004) kekerasan emosional seperti memarahi, menghardik, memaki, mengatai anak sebagai anak yang tidak berguna, tidak dicintai, bodoh dan selalu mengecewakan orangtua; dan Vaughan (1996) menambahkannya yaitu membicarakan kegagalan anak terus menerus dan menghinanya.</p>
<ol>
<li>Kekerasan seksual</li>
</ol>
<p>Kekerasan seksual adalah semua tindakan yang memaksa atau merayu anak untuk mengambil bagian dalam aktivitas seksual, baik itu yang disadari atau tidak. Menurut Lawson (Huraerah, 2007) kekerasan seksual meliputi kontak fisik, penetrasi/ tidak penetrasi, memegang bagian tubuh yang tidak boleh disentuh, serta aktivitas bukan kontak fisik seperti mengajak anak menonton adegan porno, memperlihatkan gambar-gambar porno, menganjurkan anak untuk berperilaku yang tidak pantas seperti <em>exhibitionism</em>, mengajak anak berbicara porno, tindakan yang menyebabkan anak masuk dalam tujuan prostitusi atau menggunakan anak sebagai model foto porno.</p>
<p>Sedangkan pola asuh otoriter atau  pola pengasuhan <em>authoritarian</em><em> menurut D</em>iana Baumrind dalam Santrock (1999) adalah suatu gaya yang membatasi dan menghukum yang menuntut anak untuk mengikuti perintah-perintah orangtua dan menghormati pekerjaan dan usaha. Orangtua yang otoriter menetapkan dengan tegas dan tidak memberi peluang yang besar kepada anak-anak untuk berbicara (bermusyawarah). menuntut kepatuhan dan konformitas yang tinggi.  Mereka lebih suka menghukum, diktator dan kaku dalam menerapkan disiplin bagi anak-anak.</p>
<p>Pola asuh otoriter ini akan di ukur menggunakan ciri-ciri pola asuh otoriter menurut Diana Baumrind dalam Mahmud (2004) yaitu orangtua menuntut kepatuhan yang tinggi, tidak boleh bertanya, menghukum bila anak melanggar tuntutan, tidak membicarakan berbagai masalah dengan anak, sedikit sekali memberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaan, tidak memberi kesempatan kepada anak untuk mengatur dirinya sendiri.</p>
<p><strong>Metode</strong></p>
<p>Penelitian mengunakan analisa regresi dan uji t-test untuk hipotesis mengetahui perbedaan yang akan diukur.</p>
<p>Subjek penelitian adalah anak usia Kelas 5 dan 6 SD, usia 11- 12 tahun, jenis kelamin Laki dan Perempuan, tinggal di lingkungan etnis Sabu dan etnis Rote dan bersuku Sabu dan Rote</p>
<p>Penelitian ini dilaksanakan di 4 Sekolah Dasar yang ada di Kelurahan berbasis etnis yaitu 2 kelurahan etnis Sabu dan  2 kampung etnis Rote. Kampung etnis Sabu yaitu SDN Nunbaun Sabu di kelurahan Nunbaun Sabu dan SDI Nunbaun Delha di kelurahan Nunbaun Delha; sedang kampung etnis Rote yaitu SDI Osmok di kelurahan Namusain dan SDI Kayu Putih di  kelurahan  Oebobo.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Hasil Penelitian dan Pembahasan <em></em></strong></p>
<p>                Hasil uji hipotesis yang menunjukkan persepsi anak terhadap kekerasan dan pola asuh otoriter secara bersama-sama berperan negatif terhadap konsep diri, artinya variabel persepsi anak terhadap kekerasan dan pola asuh otoriter bersama-sama merupakan prediktor yang baik bagi konsep diri, yaitu semakin tinggi persepsi anak dan semakin otoriter pola asuh yangditerima anak, semakin rendah konsep diri yang anak kembangkan (F = 5.311, <em>p = </em>0.006, R = 0,260, R2 = 0,067. Ini dapat diketahui bahwa sumbangan efektif kedua prediktor terhadap konsep diri sebesar 6,7 %, sedangkan sisanya (100% &#8211; 6,7% = 93,3 %) dijelaskan prediktor-prediktor lain. Ini berarti hipotesis pertama dalam penelitian ini diterima. Hasil penelitian ini mendukung pendapat Coopersmith dalam Calhoun &amp; Joan  (1990) yang menyatakan bahwa konsep diri anak dipelajari melalui kontak dan pengalaman anak bersama orang lain, belajar diri sendiri melalui cermin orang lain. Anak belajar untuk memahami penilaian orang lain terhadap dirinya sendiri (Puspasari, 2007).  Burns (1979) menegaskan bahwa  bagaimana umpan balik yang diberikan orang-orang terdekat di sekitar anak dan bagaimana bentuk pengasuhan yang dikembangkan orangtua, dipersepsi dan dipahami anak apakah sebagai ancaman, pujian hukuman ataukah penghargaan, yang kemudian akan dikembangkan menjadi suatu konsep mengenai siapa dirinya.</p>
<p>                Secara terpisah, persepsi anak terhadap kekerasan berperan negatif terhadap konsep diri. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa hipotesis ini diterima. Ini berarti semakin tinggi persepsi anak terhadap kekerasan, semakin negatif konsep diri anak. Ini bisa dilihat dengan nilai beta 0.257, t = 3.175, dan <em>p = </em> 0.002, taraf signifikansi p &lt; 0.05 (signifikan). Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Isliko (2008) bahwa ada hubungan positif antara persepsi remaja terhadap budaya kekerasan di Kota Kupang dengan tingkat agresifitas remaja. Berarti semakin tinggi persepsi remaja terhadap budaya kekerasan semakin tinggi juga tingkat agresifitasnya. Penelitian serupa mengenai persepsi anak terhadap kekerasan, yang dilakukan oleh  Lating (2007) menunjukkan bahwa ada semakin tinggi persepsi anak terhadap kekerasan semakin rendah tingkat ketrampilan sosial yang dikembangkan anak. Apa yang anak persepsilah yang sebenarnya mempengaruhi apakah sebuah stimulus atau rangsangan yang dilihat dan dirasakan itu menjadi ancaman atau penghargaan.</p>
<p>                Hipotesis ketiga berbunyi “ada hubungan negatif antara pola asuh otoriter dengan konsep diri”. Dari hasil uji regresi menunjukkan bahwa hipotesis ini ditolak. Ini dibuktikan dengan nilai beta sebesar -0.104, t = -1.289, <em>p </em>= 0,199, dengan taraf signifikan <em>p</em> &lt; 0,005. Ini berarti ada kemungkinan semakin otoriter pengasuhan yang diterima anak, maka semakin positif konsep diri yang dikembangkan anak dan sebaliknya juga ada kemungkinan semakin tidak otoriter pengasuhan yang diterima anak, maka semakin negatif  juga konsep diri anak.</p>
<p>Anak di kota Kupang sangat terbiasa dengan pola pengasuhan yang otoriter, misalnya semua diatur dan ditentukan orangtua, anak tidak punya hak untuk bertanya, kekerasan menjadi pilihan terakhir ketika menyelesaikan konflik orangtua anak, anak harus menuruti semua kemauan orangtua tanpa boleh membantah. Setiap hari anak diperhadapkan dengan kondisi seperti itu, akhirnya anak telah terbiasa dan tidak menganggap itu sebagai masalah.</p>
<p>                Hipotesis keempat berbunyi “ada perbedaan konsep diri antara anak yang tinggal di lingkungan etnis Sabu dan Rote”. Konsep diri anak yang tinggal di lingkungan etnis Sabu lebih tinggi dari etnis Rote. Uji t-test konsep diri antara anak yang tinggal di lingkungan etnis Sabu dan Rote, yang diasumsikan bahwa anak yang tinggal di lingkungan etnis Sabu memiliki konsep diri lebih tinggi daripada anak yang tinggal di lingkungan etnis Rote, tidak terbukti. Nilai t hitung lebih kecil dari pada nilai t table (t hitung &lt; t table = 0.932 &lt; 1,640). Ini berarti tidak ada perbedaan konsep diri antara anak yang tinggal di lingkungan etnis Sabu dan Rote. Hasil penelitian ini serupa dengan penelitian yang dilakukan Phinney (dalam Tarakanita, 2001) yaitu tidak menemukan adanya hubungan antara status identitas etnik dengan <em>self esteem </em>pada kelompok etnik remaja minoritas dengan kelompok mayoritas.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan pada bab terdahulu, maka terdapat beberapa point penting yang dapat disimpulkan :</p>
<ol>
<li>Ada hubungan antara persepsi anak terhadap kekerasan dan pola asuh otoriter dengan konsep diri. Ini berarti variabel persepsi anak terhadap kekerasan dan pola asuh otoriter bersama-sama merupakan prediktor yang baik bagi konsep diri.</li>
<li>Ada hubungan negatif antara persepsi anak terhdap kekerasan dengan konsep diri. Ini berarti semakin tinggi persepsi anak terhadap kekerasan, semakin negatif konsep diri anak</li>
<li>Tidak ada hubungan antara pola asuh otoriter dengan konsep diri. Ini berarti ada kemungkinan semakin otoriter pengasuhan yang diterima anak, maka semakin positif konsep diri yang dikembangkan anak.</li>
<li>Tidak ada perbedaan konsep diri antara anak yang tinggal di lingkungan etnis Sabu dan Rote.</li>
</ol>
<p>Penelitian ini memberi masukan bagi pada pemerintah untuk menggalakkan sosialisasi UU N0.23/ 2002 ke para orangtua, sekolah-sekolah dan masyarakat. Para orangtua agar tidak mengembangkan pola pengasuhan yang diwarnai kekerasan dan orangtua juga harusnya dilibatkan dalam program anti kekerasan terhadap anak. Guru diharapkan tidak lagi mengembangkan pola pendidikan keras yang sudah terjadi turun temurun dan sekolah-sekolah serta guru-guru juga harus dilibatkan dalam program anti kekerasan terhadap anak. Pelatihan cara mengajar yang lebih efektif bagi guru-guru. Ini dimaksudkan agar guru dapat mencari alternatif memberi hukuman tanpa kekerasan Studi ini bisa menjadi studi awal bagi pergerakan pemberantas kekerasan terhadap anak di Kota kupang. Perlu sosialisasi mengenai kekerasan terhadap anak dan dampaknya bagi perkembangan anak. Metode penelitian yang digunakan dapat diperluas dengan menggunakan metode lainnya seperti metode experiment, atau kualitatif</p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>Banton, R., 2004, dalam Child Abuse, <em>Childhood Study, an Intrduction</em>, Australia: Blackwell Publishing.</p>
<p> Burns, R. B., 1979, <em>The Self Concept : Theory, Measurement, Development and Behavior,</em> London: Longman Group Limited.</p>
<p> Calhoun, J.F &amp; Joan R. A., 1990, <em>Psychology of Adjustment and Human Relationships</em>, New York: Mc Graw-Hill.</p>
<p>Huraerah, A., 2007, <em>Child Abuse (kekerasan terhadap anak</em>), Bandung: Nuansa.</p>
<p> Lating, A. D., Hubungan antara Persepsi Anak terhadap Kekerasan dengan Ketrampilan Sosial di tinjau dari Lingkungan yang Berbeda,. <em>Tesis, </em>Program Studi Psikologi, Universitas Gadjah Mada, 2007, tidak diterbitkan.</p>
<p> Mahmud, H. R.,2004, Hubungan antara gaya pengasuhan orangtua dengan tingkah laku prososial anak, <em>Jurnal Psikodinamika, </em>Vol. 6, No. 2, hal 48-57</p>
<p> Marsh, W. H, Joseph R &amp; Ian D. S., 1983<em>, </em>Self-Concept: The Construct Validity of Interpretations Based Upon the SDQ, <em>Journal of Personality and Social Psychology, </em>Vol 45, No. 1, hal. 173-187.</p>
<p>Marsh, W. H, Len C, Joseph R, Jennifer B &amp; Ray L. D., 1984, The Relationship Between Dimensions of Self-Attribution and Dimensions of Self Concept, <em>Journal of Educational Psychology, </em>Vol. 76, No. 1, hal 3-32</p>
<p>Puspasari, A., 2007, <em>Mengukur Konsep Diri Anak, Cara Praktis bagi Orangtua untuk Mengukur dan Mengembangkan Konsep Diri Anak</em>, Jakarta: Alex Media Komputindo.</p>
<p>Santrock, J. W., 1999, <em>Life-Span Development, </em>New York. McGraw-Hill College.</p>
<p>Song, In-Sub, John H., 1984, Home Environment, Self Concept and Academic Achievement: A causal Modeling Approach, <em>Journal of Educational Psychology, </em>Vol. 76, No. 6, hal 1269-1281.</p>
<p>Tampubulon, L. H, Rianto A, Elli B. H &amp; Nur H., <em>2003, </em>Pengkajian Mengenai Kekerasan terhadap Anak di Kabupaten Sikka dan Ende, NTT, <em>Kerja sama UNICEF, Cooperazione Italiana &amp; NZIAD. </em></p>
<p>Tarakanita, I., <em>2001, </em>Hubungan Status Etnik dengan Konsep Diri Mahasiswa (Studi pada Kelompok Remaja Akhir Etnik dan Etnik Cina di Universitas Kristen Maranatha Bandung), <em>Jurnal Psikologi, </em>Vol. 7, No. 1, hal. 1-15.<em></em></p>
<p>Vaughan, R. P., 1996, Child Abuse and Its Consequences, <em>Human Development Magazine</em>, Vol.17, No. 2, hal. 12-16.</p>
<p>Walgito, B., 2002, <em>Pengantar Psikologi Umum</em>, Yoyakarta : Andi Offset.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/beatriksbunga.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/beatriksbunga.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/beatriksbunga.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/beatriksbunga.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/beatriksbunga.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/beatriksbunga.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/beatriksbunga.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/beatriksbunga.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/beatriksbunga.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/beatriksbunga.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/beatriksbunga.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/beatriksbunga.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/beatriksbunga.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/beatriksbunga.wordpress.com/70/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beatriksbunga.wordpress.com&amp;blog=11982234&amp;post=70&amp;subd=beatriksbunga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/05/29/hubungan-persepsi-ttg-kekerasan-dgn-konsep-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f8fd0322dec9c1bd8e374523cdbaffa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">beatriksbunga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Novel : San Pek Eng Tay</title>
		<link>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/05/24/novel-san-pek-eng-tay/</link>
		<comments>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/05/24/novel-san-pek-eng-tay/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 May 2010 15:08:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mediapsikologi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[kisah emansipasi; cinta; San Pek Eng Tay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beatriksbunga.wordpress.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Judul : San Pek Eng Tay : Romantika Emansipasi Seorang Perempuan Pengarang          : OKT Penerbit              : Yayasan Obor Indonesia Halaman              : 302 hal Tahun terbit       : 1990 Novel ini di rekomendasikan oleh seorang teman baik. Namun sebelumnya, saya pernah mendengar Judul novel ini dari sebuah drama seri Cina. Kisah kehidupan San Pek Eng tay [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beatriksbunga.wordpress.com&amp;blog=11982234&amp;post=49&amp;subd=beatriksbunga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_50" class="wp-caption alignnone" style="width: 149px"><span id="more-49"></span><img class="size-full wp-image-50" title="San Pek Eng Tay" src="http://beatriksbunga.files.wordpress.com/2010/05/copy-of-dsc00971.jpg?w=450" alt="Wajah"   /><p class="wp-caption-text">Wajah : San Pek Eng Tay</p></div>
<p>Judul : <a title="Emansipasi &amp; cinta San Pek Eng Tay" href="http://mediapsikologi.wordpress.com" target="_self"><strong>San Pek Eng Tay</strong></a> : Romantika <a title="Emansipasi &amp; cinta San Pek Eng Tay" href="http://mediapsikologi.wordpress.com" target="_blank"><strong>Emansipasi</strong> </a>Seorang Perempuan</p>
<p>Pengarang          : OKT</p>
<p>Penerbit              : Yayasan Obor Indonesia</p>
<p>Halaman              : 302 hal</p>
<p>Tahun terbit       : 1990</p>
<p>Novel ini di rekomendasikan oleh seorang teman baik. Namun sebelumnya, saya pernah mendengar Judul novel ini dari sebuah drama seri Cina.</p>
<p>Kisah kehidupan San Pek Eng tay ini merupakan salah satu karya cina yang sangat mendunia. Cerita ini merupakan cerita rakyat sehingga banyak versi yang beredar mengenai kisah ini.  Mulai dari yang kisah roman percintaan sampai pada perjuangan wanita menggangkat hak nya di negeri tirai bamboo ini.</p>
<p>Di Indonesia sendiri bahkan mengalami enkulturasi dengan kebudayaan Indonesia. Saduran pertama di tulis pertama oleh Boen Sing Hoo berjudul “tjerita Daholoe Kala di Negeri Tjina, Terpoengot dari Tjerita’an Boekoe Menjanjian Tjina Sam, tahun 1885.</p>
<p>Menurut catatan sejarah, kisah ini terjadi pada masa pemerintahan raja Bok Tee, Raja kelima dinasti Chin Timur yang memerintah tahun 345-357 Masehi.</p>
<p>Masa kehidupan mereka masuk dalam zaman “enam dinasti” atau “zaman yang amat gelap gulita” yang berlangsung dari tahun 220-589. Pada zaman ini terjadi peperangan dan perebutan kekuasaan terjadi silih berganti.</p>
<p>Pada masa ini, mulai berkembang sekolah-sekolah tetapi hanya terbatas bagi kaum laki-laki dan kaum wanita hanya boleh mengenyam pendidikan dengan les dirumah, dan itu pun hanya sampai kelas menengah, tidak boleh bergaul dengan laki-laki.</p>
<p>Pada masa mereka ini juga mulai berkembang teknologi pembuatan kertas sehingga diduga San Pek dan Eng telah membaca karya-karya seperti Ngo Keng (lima kalsik), Su si (empat kitab), Tao They Ching, dll.</p>
<p>Versi yang saya baca adalah gubahan dari seorang pengarang Indonesia yang mendedikasikan waktunya untuk menulis ulang cerita ini bagi kaum Novelist Indonesia. Versi yang satu ini menampilkan dua tema diantaranya, yaitu kisah percintaan yang romatik dan dramatis serta kisah kegigihan seorang wanita menmbus dinding kebudayaan yang radikal.</p>
<p>Kisah ini menceritakan kehidupan Eng Tay. Seorang putri tunggal dari mantan Bupati. Seorang gadis dengan perawakan cantik, cerdas dan sangat santun berumur 21 tahun. Telah menghabiskan waktunya untuk belajar di rumah dan telah mencapai tingkat paling tinggi yang di peruntukan bagi perempuan. Selanjutnya Eng Tay hanya akan belajar menyulam dan tidak boleh bergaul dengan siapapun sampai seseorang datang memintanya menjadi istri. Eng Tay tidak ingin kehidupannya berakhir hanya sampai di situ, sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku bagi perempuan pada masa itu. Eng Tay ingin belajar lebih tinggi lagi. Keinginannya begitu kuat, sehingga merencanakan untuk menyamar menjadi laki-laki agar dapat belajar lebih tinggi lagi.</p>
<p>Tentunya hal ini meresahkan kedua orangtuanya. Disatu pihak, mereka menghormati adat istiadat, tetapi juga di pihak lain anak mereka Cuma satu-satunya yaitu Eng Tay. Tapi akhirnya, setelah meyakinkan orangtua nya dan dengan kesepakatan untuk tetap menjaga kehormatannnya sebagai perempuan, akhirnya Eng Tay berangkat di temani abdinya, Gin Sim, yang juga menyamar sebagai laki-laki.</p>
<p>Dalam perjalanannya Ia bertemu dengan San Pek seorang pemuda dari dusun Nio di                                            Hwe-ke yang juga ingin belajar di tempat yang sama yaitu di Hang Ciu, pada seorang guru tua bernama Ciu Su Cian di Ni San. Sejak saat itu mereka menjadi “saudara”.</p>
<p>Di asrama pun mereka menjadi teman sekamar dan hidup bersama selama 3 tahun. Selama kebersamaan mereka berbagi suka dan duka, tidak terpikirkan oleh San Pek bahwa Eng Tay adalah seorang perempuan cantik. Bahkan tanda-tanda pun tidak di pahami oleh San Pek.</p>
<p>Tahun ketiga, setelah banyak yang dipelajari, Eng Tay dipanggil pulang orangtuanya yang rindu setengah mati padanya. Sebelum pergi, Eng Tay menghadap istri gurunya (Ho Si) dan menceritakan kebenarannya bahwa dia seorang perempuan dan menitipkan Kupu-kupu kemala untuk diberikan kepada San Pek dan memohon Ho Si menjaadi perantara cinta mereka.</p>
<p>5 hari berlalu, Eng Tay dengan  gundah menanti San Pek yang berjanji akan mengunjunginya dalam waktu 5 hari kedepan. Dan dalam 5 hari itu juga datang seorang perantara dari keluarga terhormat, mantan seorang gubernur yang hendak menjodohkan Eng Tay dengan anak laki-laki mereka. Niat itu disambut baik oleh orangtuanya dan tanpa membicarakan lebih lanjut, kedua orangtuanya setuju akan perjodohan tersebut.</p>
<p>Jelas Eng Tay menolak setelah mendengar kabar dari abdinya Gin Sim dan ketika ibunya datang memberitahukan. Sehingga terjadilah keteganan diantara Ayah-Ibu dan anak. Eng Tay menolak mentah-mentah perjodohan tersebut sementara orangtuanya sudah terlanjur mengiyakan dan memberi persayaratan “tertentu” yang sudah disanggupi pihak laki-laki.</p>
<p>Eng Tay masih setia pada janji San Pek yang akan datang, namun telah terjadi perjodohan dirinya dengan putra keluarga terhormat. San Pek datang juga dan akhirnya bertemu Eng Tay dan mencertiakan semua hal tersebut.</p>
<p>Bukan main sakitnya hati San Pek mendengar perihal tersebut. Pulang dengan kondisi yang sungguh tidak baik. Dan disitulah awal ketidak berdayaan San Pek. Ia jatuh sakit. Dan berita itu sampai ketelinga Eng Tay yang telah berjanji tidak akan menikah dengan siapa pun kecuali San Pek.</p>
<p>Abdi San Pek mengirim surat dan menyampaikan keadaan tuan mudanya kepada Eng Tay. Dengan berat hati akhirnya Eng Tay menulis surat balasan.</p>
<p>Setelah membaca surat dari Eng Tay, San Pek merasa ini adalah kehendak TUhan bahwa mereka tidakbisa bersatu. Mengetahui ajalnya sudah dekat, San Pek berpesan agar di kuburkan di Ow Kio Tin, tempat dimana terdapat kuburan sepasang suami istri. Di tempat ini mereka pernah mengikrarkan janji bahwa suatu saat nisan keduanya akan tertulis disana.</p>
<p>Tengah hari, abdi San Pek datang untuk mengabari kematian San Pek kepada Eng Tay. Kaget dan kehilangan arah Eng Tay mendengar kabar tersebut. Dengan ijin orangtua, Eng Tay pergi melayat di dusun Nio. Eng Tay sangat bersedih. Setelah penguburannya, Eng Tay pulang ke dusun Ciok.</p>
<p>Perjodohan pun tetap dijalankan. Eng Tay bersedia untuk berjodoh. Hari pernikahannya, para perantara dan abdi pihak laki-laki datang menjemput Eng Tay. Ia bersedia ikut dengan syarat mereka harus melewati Ow Kio Tin  dan San Pek meminta ijin ayahnya untuk member penghormatan kepada San Pek ketika melewati kuburannya.</p>
<p>Peristiwa dramatis dan ajaib terjadi ketika Eng Tay sampai di kuburan tersebut. Seakan sudah mmengetahui takdirnya, Eng Tay datang dengan menggunakan pakaian merah-merah dan berdandan cantik. Kuburan San Pek tiba-tiba terbuka, dan menelan Eng Tay bersamanya.</p>
<p>Gin Sim serta para abdi pihak laki tercengang melihat peristiwa tersebut.</p>
<p>Itulah akhir kisah perjuangan seorang wanita mempertahan hak nya sebagai perempuan yang sering berada dalam posisi bub ordinat. Tidak boleh bersekolah tinggi bahkan menentukan jodoh nya sendiri.</p>
<p>Hm……….</p>
<p>Kisah ini mendapat tempat tersendiri di hati saya, bukan soal cinta, tapi soal bagaimana Eng Tay memahami betul apa yang terbaik yang ia butuhkan dan memiliki keberanian untuk mempertahankan nya. Tidak larut dalam kondisi akan kehilangan kenyamanannya sebagai seorang yang di hormati.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/beatriksbunga.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/beatriksbunga.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/beatriksbunga.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/beatriksbunga.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/beatriksbunga.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/beatriksbunga.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/beatriksbunga.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/beatriksbunga.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/beatriksbunga.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/beatriksbunga.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/beatriksbunga.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/beatriksbunga.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/beatriksbunga.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/beatriksbunga.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beatriksbunga.wordpress.com&amp;blog=11982234&amp;post=49&amp;subd=beatriksbunga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/05/24/novel-san-pek-eng-tay/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f8fd0322dec9c1bd8e374523cdbaffa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">beatriksbunga</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://beatriksbunga.files.wordpress.com/2010/05/copy-of-dsc00971.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">San Pek Eng Tay</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jurnal Perkembangan</title>
		<link>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/03/30/jurnal-perkembangan/</link>
		<comments>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/03/30/jurnal-perkembangan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Mar 2010 00:50:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mediapsikologi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bunga Rampai Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beatriksbunga.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[THE RELATIONSHIP BETWEEN CHILDREN’S PERCEPTION OF VIOLENCE AND AUTHORITARIAN PARENTING STYLE WITH SELF CONCEPT IN SABU AND ROTE ETHNIC ENVIRONMENTS IN KOTA KUPANG Bunga[1], Ekowarni[2] Program Magister Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada ABSTRACT One of the impacts of child abuse is negative self concept. In the fact, both of parents or teachers ways to [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beatriksbunga.wordpress.com&amp;blog=11982234&amp;post=38&amp;subd=beatriksbunga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>THE RELATIONSHIP BETWEEN CHILDREN’S PERCEPTION OF VIOLENCE </strong></p>
<p><strong>AND AUTHORITARIAN PARENTING STYLE WITH SELF CONCEPT </strong></p>
<p><strong>IN SABU AND ROTE ETHNIC ENVIRONMENTS </strong></p>
<p><strong>IN KOTA KUPANG</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Bunga<a href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a>, Ekowarni<a href="#_ftn2"><strong>[2]</strong></a></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Program Magister Psikologi </strong></p>
<p><strong>Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>ABSTRACT</strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><em> One of the impacts of child abuse is negative self concept. In the fact, both of parents or teachers ways to educate their children used by a violence. This research   examines the relation between children perception of violence and authoritarian parenting style with self concept viewed by Sabu and Rote ethnic environment at Kota Kupang. The sample is the children live in ethnic Sabu and Rote environment, it has also Sabu and Rote ethnic (N= 150, age 11-12). The method used in the research is the scale of children’s perception of violence, the scale of authoritarian of parenting style and the scale self concept.</em></p>
<p><em> The result showed that children perception of violence and authoritarian of parenting style together influence the self concept (F= 5.311, R2= 0.067, p = 0.006). t-test result showed no self concept differences between children live in Sabu and Rote ethnic environments (t hitung = 0.932 dan t tabel = 1,640).</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><em>Key words</em></strong> : <em>Children’s perception of violence, Authoritarian parenting style, Self- concept</em></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Program Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada</p>
<p><strong>Pengantar</strong></p>
<p>Salah satu tugas perkembangan yang harus diselesaikan pada tahapan kanak-kanak adalah konsep diri anak. Konsep diri memiliki peran yang cukup penting dalam penentuan  sikap, perilaku dan reaksi anak terhadap orang lain dan lingkungan sekitarnya.</p>
<p>Banyak anak yang mengembangkan dengan konsep diri yang cenderung negatif. Namun sayang orangtua, guru dan orang dewasa yang bertanggung untuk membimbing mereka tidak menyadari hal itu.</p>
<p>Konsep diri yang cenderung negatif ini banyak terlihat pada anak-anak di Kota Kupang. Ini tampak jelas ketika anak mulai melebarkan sayap ke Sekolah Dasar. Anak-anak di Kota Kupang sangat pemalu, tidak percaya diri, penakut, cepat putus asa, selalu mengatakan “tidak”, selalu mengatakan saya “tidak dapat/ mampu”, mengatakan “saya tidak berani”.</p>
<p>Perilaku-perilaku tersebut memang dianggap tidak baik oleh para orangtua dan pendidik, tetapi justru mereka memperkuat berkembangnya konsep diri yang negatif itu dengan kekerasan, baik fisik seperti memukul untuk membuat anak mau melakukan sesuatu, kekerasan emosional seperti menghina anak di depan kelas. Model ini diperkuat orang dewasa seperti orangtua, guru dan orang dewsa lainnya dengan keyakinan bahwa kekerasan yang mereka terima dulu itulah yang membuat mereka menjadi orang yang berguna saat ini.</p>
<p>Banyak faktor yang mempengaruhi tumbuh dan kembang anak, termasuk pembentukan konsep diri anak. Bronfenbrener dalam Santrock (1999), seorang pencetus teori ekologi mengungkapkan bahwa lingkungan sosiokultural anak sangat mempengaruhi perkembangan anak. Lingkungan itu dimulai dari lingkungan yang sangat dekat dengan anak yaitu hubungannya dengan keluarga, meluas pada teman sebaya, sekolah, dan masyarakat; bagaimana pengalaman yang anak alami dalam lingkungan-lingkungan tersebut; bagaimana interaksi antara lingkungan-lingkungan itu mempengaruhi anak dan kemudian meluas pada bagaimana kebudayaan dalam lingkungan tempat tinggal anak mempengaruhi perkembangannya. Apabila lingkungan disekitar anak di Kota Kupang penuh dengan kekerasan baik yang dilakukan orangtua, guru dan masyarakat, tentunya akan mempengaruhi perkembangan kepribadiannya. Apa yang anak Kota Kupang lihat, dengar mengenai sikap orang lain terhadap dirinya bahkan apa yang dirasakan akibat perlakuan orang lain, akan dievaluasi anak menjadi suatu konsep tentang dirinya.</p>
<p>Secara khusus penelitian ini mengambil lingkungan etnis sebagai salah satu objek amatan. Peneliti ingin mengetahui bagaimana perbedaan lingkungan tempat tinggal anak ini mempengaruhi konsep diri yang anak kembangkan.</p>
<p>Berdasarkan fenomena  yang disajikan diatas, menarik bagi penulis untuk mengetahui lebih lanjut tentang :</p>
<ol>
<li>Apakah ada hubungan antara persepsi anak terhadap kekerasan dan pola asuh otoriter dengan konsep diri ditinjau dari lingkungan etnis Sabu dan Rote di Kota Kupang.</li>
<li>Apakah ada hubungan antara persepsi anak terhadap kekerasan dengan konsep diri ditinjau dari lingkungan etnis Sabu dan Rote di Kota Kupang.</li>
<li>Apakah ada hubungan antara pola asuh otoriter dengan konsep diri di tinjau dari lingkungan etnis Sabu dan Rote di Kota Kupang.</li>
<li>Apakah ada perbedan konsep diri antara anak yang tinggal di lingkungan etnis Sabu dan Rote.</li>
</ol>
<p>Teori utama mengenai konsep diri yang dipakai adalah teori konsep diri yang dikemukakan oleh Shalvelson. Menurut Shalvelson  (Marsh et al., 1983) konsep diri adalah persepsi individu tentang dirinya yang terbentuk dari pengalaman individu dalam lingkungan, interaksi dengan orang-orang terdekatnya (<em>significant others</em>) dan atribut-atribut yang dikenakan padanya. Konsep diri menurut Fitts dalam Tarakanita (2001) adalah bagaimana diri diamati, dipersepsi dan dialami oleh individu tersebut. Didalam konsep diri juga mengandung unsur penilaian dan mempengaruhi tingkah laku seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain. Lanjutnya Fitts juga mengemukakan bahwa konsep diri merupakan suatu konstruk sentral untuk mengenal dan mengerti individu yang erat hubungan dengan dunia fenomenalnya, sehingga dalam dunia fenomenalnya aspek yang memegang peranan penting adalah dirinya sendiri.</p>
<p>Penelitian ini menggunakan model konsep diri dari Shalvelson, Hubner dan Stanton. Berikut model konsep diri umum yang diajukan Shavelson, Hubner dan Stanton dalam Song (1984) :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Gambar 1. Model Konsep Diri oleh Shavelson,</strong></p>
<p><strong> Hubner dan Stanon (Song, 1984)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bagi Shalvelson (Marsh et al., 1984), konsep diri ini sangat multi dimensi dan bergerak secara hirarki. Dimulai dari konsep diri akademik (matematika dan membaca) dan kemudian ke konsep diri secara umum. Konsep diri ini kurang <em>multifaced</em> seiring dengan dengan perkembangan individu, bayi menjadi dewasa dan tergantung juga dengan sistem lain yang individu terima dalam kelompok.</p>
<p>Shavelson menetapkan skala yang lengkap mengenai konsep diri (Marsh et al., 1983) . Secara ringkas aspek konsep diri tersebut dapat dilihat dari tabel berikut :</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="266" valign="top">ASPEK<strong> </strong></td>
<td width="280" valign="top">DESKRIPSI<strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="266" valign="top"><strong>Kemampuan fisik</strong></td>
<td width="280" valign="top">Kemampuan dan minat yang berkaitan dengan olahraga maupun aktivitas   fisik lainnya</td>
</tr>
<tr>
<td width="266" valign="top"><strong>Penampilan Fisik </strong></td>
<td width="280" valign="top">Sejauh mana seseorang memiliki fisik yang menarik.</td>
</tr>
<tr>
<td width="266" valign="top"><strong>Hubungan dengan lawan jenis</strong></td>
<td width="280" valign="top">Interaksi dengan sahabat seumur yang memiliki jenis kelamin berbeda</td>
</tr>
<tr>
<td width="266" valign="top"><strong>Hubungan dengan sesama jenis</strong></td>
<td width="280" valign="top">Interaksi dengan sahabat seumur yang memiliki kesamaan jenis kelamin</td>
</tr>
<tr>
<td width="266" valign="top"><strong>Hubungan antara anak dengan orangtua</strong></td>
<td width="280" valign="top">Interaksi anak dengan orangtua</td>
</tr>
<tr>
<td width="266" valign="top"><strong>Matematika</strong></td>
<td width="280" valign="top">Kemampuan, rasa suka, dan ketertarikan pada matematika dan ilmu logika</td>
</tr>
<tr>
<td width="266" valign="top"><strong>Verbal</strong></td>
<td width="280" valign="top">Kemampuan, rasa suka dan ketertarikan pada bahasa, khususnya bahasa   inggris dan membaca</td>
</tr>
<tr>
<td width="266" valign="top"><strong>Sekolah secara umum</strong></td>
<td width="280" valign="top">Kemampuan, rasa suka dan ketertarikan pada subjek-subjek yang   berkaitan dengan sekolah</td>
</tr>
<tr>
<td width="266" valign="top"><strong>Konsep diri secara umum</strong></td>
<td width="280" valign="top">Kemampuan untuk menghargai diri sendiri dan membangun rasa percaya   diri</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Tabel 1.  Aspek Konsep Diri menurut Shalvelson</strong></p>
<p>Menurut Burns (1979), konsep diri dipengaruhi oeh beberapa faktor yaitu bagaimana diri fisiknya dan bagaimana anak mencitra kondisi fisiknya; umpan balik orang-orang terdekat anak seperti orangtua, teman sebaya dan guru juga praktek membesarkan anak atau pola asuh.</p>
<p>Praktek-pratek pengasuhan dan hubungan anak baik dengan teman sebaya maupun guru serta masyarakat yang diwarnai kekerasan di Kota Kupang mempengaruhi perkembangan konsep diri anak. Menurut Walgito (2002) persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan, yakni merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera.. Jadi apa yang dialami oleh anak selama 11 tahun merupakan stimulus awal yang kemudian diorganisasikan dan diinterpretasikan sehingga individu menyadari, mengerti tentang apa yang diindera dan memunculkan respon (Branca, dalam Walgito, 2002). Anak di Kota Kupang, dengan inderanya menangkap stimulus yang ada berupa kata-kata makian, penghinaan, pemukulan dan perbuatan kasar lainnya, mengorganisasikan dan menginterpretasikannya sehingga anak menyadari apa yang dialaminya sebagai bentuk kasih sayang ataukah penolakan orangtua maupun lingkungan terhadapnya, kemudian memunculkan respon dengan mengembangkan konsep diri yang positif ataukan negatif.</p>
<p>Kekerasan terhadap anak biasa dikenal secara global sebagai “<em>child abuse</em>”. Kekerasan pada anak adalah tindakan melukai yang berulang-ulang secara fisik dan emosional terhadap anak yang ketergantungan, melalui desakan hasrat, hukuman badan yang tak terkendali, degradasi dan cemoohan permanen atau kekerasan seksual, biasanya dilakukan para orangtua atau pihak lain yang seharusnya merawat anak (Baker dalam Huraerah, 2007). Banton (2004) mendefenisikan kekerasan terhadap anak sebagai perilaku-perilaku yang merugikan anak-anak dalam kondisi apapun, atau kegagalan dalam menyediakan kebutuhan  dasar anak. Menurut Richard Gelles dalam Huraerah (2007), kekerasan terhadap anak adalah perbuatan disengaja yang menyebabkan kerugian atau bahaya terhadap anak-anak secara fisik maupun emosional.</p>
<p>Persepsi anak terhadap kekerasan adalah proses pemaknaan stimulus yang di tangkap anak lewat inderanya (melihat, mendengar, merasakan kekerasan yang dilakukan orang-orang yang seharusnya mengasihi nya). Proses pemaknaan inilah yang menjadi dasar perilaku anak.</p>
<p>Skala perespsi anak terhadap kekerasan ini dikembangkan berdasarkan aspek-aspek dibawah ini :</p>
<ol>
<li>Kekerasan merupakan pewarisan kekerasan antar generasi <em>(intergenerational transmission of violance)</em>.</li>
</ol>
<p>Menurut Gelles (Huraerah, 2007), pewarisan kekerasan antar generasi adalah perilaku kekerasan dipelajari seorang anak dari orangtuanya  kemudian mengembangkannya ketika dewasa/ menjadi orangtua nantinya. Orangtua dulunya menjadi patuh, disiplin dan berhasil karena di perlakukan keras oleh orangtua mereka masing-masing, sehingga mereka meyakini bahwa cara pendidikan yang mereka terima dahulu adalah cara yang efektif untuk menghasilkan generasi yang unggul.</p>
<ol>
<li>Kekerasan fisik</li>
</ol>
<p>Menurut Tampubulon, et al (2003) kekerasan fisik adalah semua tindakan yang mengakibatkan luka fisik pada anak. Kekerasan fisik itu meliputi menampar, menjewer, mencubit, memukul dengan dahan pohon, dengan tongkat, cambuk atau benda keras lainnya, melempar dengan benda keras, mendorong, menendang, membenturkan anak ke dinding, mengikat anak di pohon, <em>push up</em>, jalan dengan lutut dan dijemur.</p>
<ol>
<li>Kekerasan emosional</li>
</ol>
<p><span id="_marker"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/beatriksbunga.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/beatriksbunga.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/beatriksbunga.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/beatriksbunga.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/beatriksbunga.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/beatriksbunga.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/beatriksbunga.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/beatriksbunga.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/beatriksbunga.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/beatriksbunga.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/beatriksbunga.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/beatriksbunga.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/beatriksbunga.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/beatriksbunga.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beatriksbunga.wordpress.com&amp;blog=11982234&amp;post=38&amp;subd=beatriksbunga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/03/30/jurnal-perkembangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f8fd0322dec9c1bd8e374523cdbaffa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">beatriksbunga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perkembangan anak</title>
		<link>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/03/14/perkembangan-anak/</link>
		<comments>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/03/14/perkembangan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Mar 2010 13:22:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mediapsikologi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bunga Rampai Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beatriksbunga.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Perkembangan berlangsung sepanjang hayat yang meliputi aspek fisik, emosi &#38; soial<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beatriksbunga.wordpress.com&amp;blog=11982234&amp;post=25&amp;subd=beatriksbunga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Proses tumbuh dan berkembang adalah proses yang kompleks dari kehidupan manusia karena berbicara mengenai seluruh keadaan manusia mulai dari sejak dalam kandungan hingga meninggal. Proses tumbuh dan berkembang ini meliputi aspek fisik, emosi dan sosial.</p>
<p><strong>Hal penting yang perlu dipahami mengenai proses tumbuh kembang:</strong></p>
<ol>
<li>Perkembangan ditandai dengan pertumbuhan.      Perkembangan adalah proses pertumbuhan baik fisik, kognisi, psikis maupun      sosial emosi nya. Proses perubahan mulai dari pembuahan sampai pada      kehidupan yang lebih kompleks. Untuk pendidik harus jeli melihat      perubahan-perubahan anak yang progresif (maju). Perubahan itu menandai      bahwa anak berkembang. Sebaliknya, terjadi pula regresi (menurun)      perkembangan atau stagnasi (tidak menunjukkan perubahan) perkembangan.</li>
<li>Setiap tahapan memiliki “masa kritis”. Hal      lain yang perlu mendapat perhatian khusus adalah pemahaman bahwa setiap      tahapan perkembangan manusia memiliki “masa kritis” yang harus dilewati.      Masa kritis ini jika penanganannya salah akan membuat perkembangan menjadi      menyimpang dari tahapan normal.</li>
</ol>
<p><strong>“masa kritis”usia dini (0-6 tahun) yang perlu diperhatikan :</strong></p>
<ol>
<li><strong>Masa egosentris :</strong> pada usia ini anak sangat perpusat pada diri sendiri, mau menang sendiri, selalu ingin mengunggulkan diri. Ini menjadi cikal bakal tumbuhnya identitas diri. Orang dewasa seperti orangtua, saudara harus mengarahkan rasa egosentris ini dengan memperkenalkan aturan-aturan yang disepakati keluarga dengan tetap menjadi dirinya sendiri.</li>
<li><strong>Masa menentang :</strong> karena rasa “egosentris” itu membuat anak pada umumnya menunjukkan sikap atau perilaku menentang atau melawan. Dan biasanya mengahadapi hal ini, orangtua akan mendidik dengan keras, sehingga mengakibatkan anak tumbuh menjadi pribadi yang keras kepala.</li>
<li><strong>Masa imitasi :</strong> usia ini adalah usia meniru. Anak akan meniru sikap, perilaku dan kata-kata orang di sekitarnya. Sehingga perlu diwaspadai karena anak akan meniru semua perilaku baik buruk maupun yang baik.</li>
</ol>
<p><strong>“masa kritis” usia 12-18 tahun yang perlu diperhatikan :</strong></p>
<ol>
<li><strong>a. </strong><strong>Masa pertentangan</strong> : diusia ini keinginan untuk mandiri begitu tinggi, sehingga timbul rasa selalu ingin melakukan hal-hal yang mereka anggap baik. Biasanya  menuntut orangtua untuk memahami. Seringkali terjadi pertentangan antara remaja dan orangtua. Menangani masalah ini, orangtua tidak harus berlaku keras dan otoriter. Memberi pemahaman yang baik tentang keinginan dan tidak perlu mengkonfrontasi mereka dan beri pemahaman mengenai bagaimana mengambil keputusan yang saling menghormati hak orangtua maupun remaja.<strong></strong></li>
<li><strong>b. </strong><strong>Masa kebingungan</strong> : perubahan dari segi fisik dan berakibat pada segi psikis remaja, menimbulkan banyak gejolak dalam diri remaja. Seringkali anak bingung dan terjebak dalam situasi itu. Menghadapi perubahan tersebut, orangtua perlu memberi pengertian tentang perkembangannya, dan selalu membimbing dengan kasih sayang.<strong></strong></li>
<li><strong>c. </strong><strong>Masa pembuktian diri</strong> : usia ini, keinginan remaja untuk membuktikan diri tinggi, sehingga orangtua perlu melihat dan memfasilitasi keinginan tersebut.<strong></strong></li>
</ol>
<ol>
<li>Perkembangan merupakan kematangan belajar</li>
</ol>
<p>Kematangan menunjukkan adanya kesiapan untuk berubah. Anak yang sudah matang dalam hal berbicara, memiliki perbendaharaan kaya yang lebih banyak, sehingga dapat berkomunikasi dengan lancar.</p>
<ol>
<li>Pola perkembangan anak dapat diprediksi</li>
</ol>
<p>Perkembangan anak dapat diprediksi sebab setiap anak memiliki kesamaan dalam perkembangan secara umum. Sehingga dengan mengetahui tahapan perkembangan anak sesuai dengan umurnya, sangat membantu orangtua mengembangkan pendidikan yang tepat sasaran.</p>
<ol>
<li>Perkembangan anak berbeda satu sama yang lain</li>
</ol>
<p>Walaupun setiap perkembangan anak dapat diramalkan, ada pula tahapan perkembangan yang menunjukkan irama dan tempo yang berbeda dari setiap anak. Orangtua harus awas dengan keadaan anak-anak satu persatu.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/beatriksbunga.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/beatriksbunga.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/beatriksbunga.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/beatriksbunga.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/beatriksbunga.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/beatriksbunga.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/beatriksbunga.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/beatriksbunga.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/beatriksbunga.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/beatriksbunga.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/beatriksbunga.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/beatriksbunga.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/beatriksbunga.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/beatriksbunga.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beatriksbunga.wordpress.com&amp;blog=11982234&amp;post=25&amp;subd=beatriksbunga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/03/14/perkembangan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f8fd0322dec9c1bd8e374523cdbaffa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">beatriksbunga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Reuni within…</title>
		<link>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/02/26/reuni-within/</link>
		<comments>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/02/26/reuni-within/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Feb 2010 15:42:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mediapsikologi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beatriksbunga.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[HAri ini sebenarnya ada pertemuan 00 untuk membicarakan reuni. Tapi karena ternyata yang berkumpul adalah komunitas yang “bukan” tipe kami, makanya kami hanya berlalu begitu saja dari kelompok tersebut. Hm..sedikit berkomentar tentang komunitas ini ya. Kami anak angkatan millennium yang di gembar-gemborkan beberapa pihak. Tapi kami tidak cukup bangga dengan orang2 yang tergabung dengan komunitas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beatriksbunga.wordpress.com&amp;blog=11982234&amp;post=23&amp;subd=beatriksbunga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">HAri ini sebenarnya ada pertemuan 00 untuk membicarakan reuni. Tapi karena ternyata yang berkumpul adalah komunitas yang “bukan” tipe kami, makanya kami hanya berlalu begitu saja dari kelompok tersebut.</p>
<p class="MsoNormal">Hm..sedikit berkomentar tentang komunitas ini ya. Kami anak angkatan millennium yang di gembar-gemborkan beberapa pihak. Tapi kami tidak cukup bangga dengan orang2 yang tergabung dengan komunitas tersebut. Yah….mutar2 gk jelas. Gini….</p>
<p class="MsoNormal">Kami bukan kelompok popular waktu sekolah dulu. Kegiatan kami waktu SMA adalah ke sekolah, belajar dan pulang. Kalaupun kami punya kegiatan untuk geng taupun ngecengin orang, kami lakukan dengan sembunyi2. Kami merasa kalah bersaing dengan kelompok anak popular yang belatar belakang orang kaya, geng motor, fashionable, dan 1 lagi, disukai banyak laki-laki baik yang cakep-cakep sampai yang cupu2.  Yang kerjaannya setiap hari hanya jalan-jalan, pacaran, dan melakukan hal2  yang tidak terpikirkan sama sekali oleh kemai kelompok minoritas ini.  Sebagian mereka dalah anak orang kaya, yang mungkin tidak mendapat cukup ruang pengakuan dalam keluarga mereka,; sebagian juatru orang biasa2 saja yang ingin diakui dan akhirnya memaksakan diri untuk mengikuti gaya hidup mereka yang kaya raya itu. Sebenarnya, apa yang mereka lakukan itu hanyalah model2 pencarian identitas diri atau lebih tepatnya sebuah pengakuan.</p>
<p class="MsoNormal">Yah, at least, rasanya 1 sekolah punya mereka.  Kami sungguh merasa tidak punya arti sama sekali.</p>
<p class="MsoNormal">Dan hari ini, ketika 10 tahun berlangsung. 1 Dekade…sebuah undangan dalam situs pertemanan FB (yang cukup mengutungkan kami, karena ternyata “mereka” cukup mengenal kita), mengundang kami untuk kelompok minoritas waktu SMA itu untuk dating ke pertemuan untuk membahas reuni .  Hufff, dilemma…disatu pihak kami ingin bergabung karena berharap bisa bertemu dengan teman-teman  yang lainnya, tapi di 1 pihak kami sungguh kecewa karena ide ini di lontarkan salah 1 anggota geng elit. Dan tahu, siapa yangpastiakan hadir?</p>
<p class="MsoNormal">Yahhh….dan benar tebakan kami, yang dating dan berkumpul pun, mereka yang tergabung dalam geng elit tersebut. Hm, sebuah komunitas yang sampai hari ini masih menjadi kendala bagi kami untuk bergabung.</p>
<p class="MsoNormal">Tapi sesuatu telah terjadi, rencana penghindaran kami terlihat lawan. Mereka memanggil ketika kami berencana untuk mengghindar.</p>
<p class="MsoNormal">Sesuatu yang serba kikuk menghampiri kami. Dari usaha mengenal semua orang yang mereka sebutkan (anak SMA lain ketika mereka menjadi orang gaul itu sekarang) sampai usaha untuk ketawa karena cerita-cerita mengenai kegiatan lucu yang pernah mereka lakukan dan tidak lupa menggosippkan teman yang tiidak hadir. Ughh…betapa seperti di lingkungan asing bagi kami.</p>
<p class="MsoNormal">At least…dari sekelumit cerita, mereka tidak pernah membicarakan diri mereka sendiri dan jadi apa mereka sekarang. Kehidupan orang lain lah yang mereka bahas. Ketika saya perhatikan 1 persatu, ada 1 kesimpulan yang bisa saya tari, bahwa para geng elit ini bukanlah orang yang berhasil. Sebagian dari mereka menikah muda dan hanya menjadi ibu RT dan suami2 mereka trnyta tidak punya pekerjaan yang bisa dibanggakan dan kondisi keluarga mereka tidak seglamour penampakan luar mereka. Mereka kelihatan sangat rapuh, tapi dipoles dengan euphoria masa lalu.</p>
<p class="MsoNormal">Topic pembicaraan pun menjadi tidak menarik karena yang dibicarakan adalah nostalgia tentang masa lalu dimana kejayaan mereka bertahta, sedangan kehidupan sekarang tiak tersentuh bahkan memang tidak ingin di sentuh…</p>
<p class="MsoNormal">1 hal yang membuat ku bangga saat ini adalah saya tidak serapuh mereka. Justru hal yang ingin kami ceritakan adalah bagaimana hidup mu pasca SMA dan bagaimana ikatan saat SMA itu membangun kami mencapai masa depan. Dan itu yang kami nikmati dengan komunitas “tidak popular” kami.</p>
<p class="MsoNormal">Komunitas tidaj popular kami adalah Saya, Nnovi, Leny &amp; Umar. Dan kami sangat bangga dengan diri kami…dulu, sekarang dan esok.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/beatriksbunga.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/beatriksbunga.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/beatriksbunga.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/beatriksbunga.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/beatriksbunga.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/beatriksbunga.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/beatriksbunga.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/beatriksbunga.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/beatriksbunga.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/beatriksbunga.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/beatriksbunga.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/beatriksbunga.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/beatriksbunga.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/beatriksbunga.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beatriksbunga.wordpress.com&amp;blog=11982234&amp;post=23&amp;subd=beatriksbunga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/02/26/reuni-within/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f8fd0322dec9c1bd8e374523cdbaffa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">beatriksbunga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menulis itu sebenarnya mudah&#8230;</title>
		<link>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/02/25/menulis-itu-sebenarnya-mudah/</link>
		<comments>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/02/25/menulis-itu-sebenarnya-mudah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 01:16:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mediapsikologi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bunga Rampai Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Perkembangan anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/02/25/menulis-itu-sebenarnya-mudah/</guid>
		<description><![CDATA[Menulis adalah pekerjaan sederhana yang sudah kita ketahui sejak masa kanak-kanak dulu. Bahkan salah satu gerakan motorik halus manusia sejak bayi adalah geraka menggenggam. Dan tahu apa reaksi orangtua untuk gerakan refleks bayi tersebut? Yap&#8230;memberi sesuatu untuk digenggam seperti jarinya. Beranjak besar, gerakan refleks itu dilanjutkan dengan memberi pensil atau balpoint. Sejak kecil, kita (anak) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beatriksbunga.wordpress.com&amp;blog=11982234&amp;post=17&amp;subd=beatriksbunga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menulis adalah pekerjaan sederhana yang sudah kita ketahui sejak masa kanak-kanak dulu.<br />
Bahkan salah satu gerakan motorik halus manusia sejak bayi adalah geraka menggenggam. Dan tahu apa reaksi orangtua untuk gerakan refleks bayi tersebut?<br />
Yap&#8230;memberi sesuatu untuk digenggam seperti jarinya. Beranjak besar, gerakan refleks itu dilanjutkan dengan memberi pensil atau balpoint. Sejak kecil, kita (anak) sebenarnya sudah dimotivasi untuk menulis. Sesuatu ransangan dini yang sebenarnya luar biasa.<br />
Karena semua gerakan motorik, baik halus maupun kasar pada masa bayi dan kanak-kanak sangat mempengaruhi perkembangan otak anak.<br />
Memasuki masa sekolah, Pra-TK, TK dan SD tahun pertama, kegiatan tulis menulis menjadi prioritas. Anak Pra_TK (umur 3-4 tahun) sekarang sudah dibekali dengan kemampuan menulis. Meningkat ke masa TK, menulis semua huruf dan mengenal hurus sudah menjadi target utama. Dan dengan bangga baik guru maupun orangtua menjadikan kemampuan menulis (&amp; membaca) menjadi indikator kecerdasan anak. Setelah memasuki masa SD, kelas 1, menulis menjadi prioritas utama. Anak kelas 1 SD yang tidak memiliki kemampuan dalam menulis huruf dan angka menjadi beban khusus bagi para guru SD kelas 1.<br />
Memasuki SD&#8230;kemampuan menulis dan membaca menjadi prioritas utama. Sejak itu semua mata pelajaran anak berkaitan dengan menulis&#8230;mencatat apa yang ditulis di papan tulis, menghafal dan menunggu di tes yang jawabannya sesuai dengan isi tulisan dalam buku. Belum lagi ada kegiatan menulis indah, yang penekanannya adalah harus belajar menulis serapi dan seindah mungkin.<br />
Hm&#8230;intinya, sebenarnya semua yang berhubungan dengan tulis menulis sebenarnya sudah menjadi hal yang familiar di kehidupan kita, khususnya Indonesia.<br />
Hal ini berbeda dengankeadaan di negara maju seperti Australia (yang paling dekat dengan INA), pekerjaan tulis menulis adalah kegiatan yang baru dilakukan setelah memasuki SD. Anak Balita dibiarkan memanfaatkan waktunya dengan bermain dan menemukan sesuatu yang berarti untuk membangun pengertiannya. Balita diberi ransangan dengan bermain untuk pengembangan motorik, kognisi dan sosialnya. Fungsi orang dewasa sebagai pembimbing atau fasilitator saja bukan sumber pengetahuan. Orang dewasa tidak mendikte sesuatu untuk membangun pengertian pada diri anak.<br />
Berkaitan dengan kegiatan menulis dan membaca, hal pertama yang ditanam adalah bagaimana anak dapat menulis dan membaca, tetapi menanamkan  kesadaran tentang pentingnya menulis dan membaca; anak diberi rasa mencintai buku sebagai sumber pengetahuan dan menulis sebagai sarana menyalurkan pengetahuan.<br />
Rasa cinta terhadap dunia sastra iniah yang membuat orang diluar sana lebih produktif dibandingkan dengan kita. Penekanan kita hanya kuantitas seperti mampu menulis pada umur yang lebih muda, tuliasannya sudah rapi dan indah. Sebaliknya bukan penekanan pada kualitas seperti rasa cinta kepada dunia tulis menulis.<br />
At least, jadilah kami yang kemudian mengalami kesulitan ketika membuat paper saat memasuki bangku sekolah yang lebih tinggi seperti di Universitas. Bukan masa sekolah menengah, karena penekanan segi kuantitas ini ternyata masih terus berjalan. Mendengar, mendiikte dan mengulang yang didikte, tidak diajar berpikir kritis dan sistematis. Kesulitan menggoda saat model belajar mulai berbeda saat di bangku kuliah. Membuat laporan, paper, resume menjadi hal yang luar biasa sulit bagi kita.<br />
Dan hal negative yang timbul untuk mengatasi hal ini adalah “copy paste” atau plagiat. Meng-copy paste tugas teman, mengambil artikel dari internet yang ditulis orang tanpa menyebutkan sumber lalu meng-copy-nya tanpa melakukan perubahan, bahkan yang lebih parah adalah mengambil karya orang lain dan diakui sebagai karya sendiri. Belum lagi beberapa model baru seperti meminta jasa orang lain  untuk menulis baginya.<br />
Hufff, banyak sekali hal negative yang terjadi hanya karena sebuah masalah kecil, yaitu tidak punya kemampuan untuk menulis.<br />
Menulis itu sebenarnya mudah. Ini berkaitan dengan keahlian. Artinya sesuatu yang semakin dilatih, semakin bagus. Kemampuan berpikir sistematis pun dapat di latih. Di bawah ini beberapa tips tentang bagaimana menulis :<br />
1.	Yakinkan diri Anda bahwa Anda mampu membuat karya yang bagus.<br />
2.	Katakan pada diri anda bahwa Anda Bisa<br />
3.	Mulailah memaksakan dirii Anda untuk membaca. Jika hal itu masih sangat sulit, mulai dengan sesuatu yang Anda senangi. Misalnya, jika Anda suka membaca novel atau cerpen atau komik atau artiike atau humor atau majalah otomotif atau buku masakan atau cerita-cerita bijak…mulailah dengan membaca hal tersebut. Usahakan membacanya setiap hari.<br />
4.	Komitment dengan jadwal yang Anda atur…usahakan setiap hari membaca 1 tulisan.<br />
5.	Perbanyak jumlah bacaan yang Anda baca ketika sudah mulai terbiasa membaca.<br />
6.	Biasakan buat reading report untuk semua yang kita baca. Termasuk untuk novel atau artikel-artikel.<br />
7.	Coba mulai menulis dengan topic-topik yang kita senangi terlebih dahulu.<br />
8.	Minta orang lain untuk membaca karya kita dan member masukan.<br />
9.	Berlatihlah setiap saat.<br />
10.	Selamat mencoba……………</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/beatriksbunga.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/beatriksbunga.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/beatriksbunga.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/beatriksbunga.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/beatriksbunga.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/beatriksbunga.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/beatriksbunga.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/beatriksbunga.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/beatriksbunga.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/beatriksbunga.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/beatriksbunga.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/beatriksbunga.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/beatriksbunga.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/beatriksbunga.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beatriksbunga.wordpress.com&amp;blog=11982234&amp;post=17&amp;subd=beatriksbunga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/02/25/menulis-itu-sebenarnya-mudah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f8fd0322dec9c1bd8e374523cdbaffa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">beatriksbunga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apa itu Dosa?</title>
		<link>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/02/19/apa-itu-dosa/</link>
		<comments>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/02/19/apa-itu-dosa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 00:19:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mediapsikologi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bunga Rampai Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/02/19/apa-itu-dosa/</guid>
		<description><![CDATA[Hm&#8230;.sy tidak tau apakah ini dosa atau tidak? he2&#8230;itu topik malam tadi saat qt ngumpul&#8230;(qt ini adalah teman masa kecil, Sy, Lius, Nitha &#38; Novi). Ha10x&#8230; Pertanyaan ini di lontarkan Novi pada kita (tepatnya bagi Pak Pdt &#38; sy jg tentunya)&#8230;&#38; Nitha?hny tersnyum mendengar perdebatan kami. Selalu sperti itu permainannya. Apa Merokok berdosa? apa mkn [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beatriksbunga.wordpress.com&amp;blog=11982234&amp;post=15&amp;subd=beatriksbunga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hm&#8230;.sy tidak tau apakah ini dosa atau tidak?<br />
he2&#8230;itu topik malam tadi saat qt ngumpul&#8230;(qt ini adalah teman masa kecil, Sy, Lius, Nitha &amp; Novi).<br />
Ha10x&#8230;<br />
Pertanyaan ini di lontarkan Novi pada kita (tepatnya bagi Pak Pdt &amp; sy jg tentunya)&#8230;&amp; Nitha?hny tersnyum mendengar perdebatan kami. Selalu sperti itu permainannya.<br />
Apa Merokok berdosa? apa mkn sirih itu Dosa? apa Bahasa Roh itu Dosa? dll about dosa&#8230;<br />
Hufff&#8230;.inilah akibatnya jika para hamba Tuhan tidak bijak memberi pengetahuan kepada orang yang baru bertumbuh.<br />
hasilnya seperti pemahamannya Novi dan Jobu.<br />
Sekali lagi, apakah &#8220;itu&#8221; berdosa?<br />
hm&#8230;pertanyaan yang tak ada jawabannya, karena semua yang terjadi di bumi ini dilakukan oleh orang berdosa. bgmn pun berusahanya manusia, tetap ia terlilit dalam dosa. Sehingga akan sulit bagi kita ketika menemukan sesuatu yang baik dari pekerjaan manusia.<br />
lalu untuk apa manusia diberi kesempatan hidup di dunia ini kalo toh semuanya adalah dosa?<br />
Pertanyaan dan pernyataan Novi inilah yang sy hindarari selama ini. Huf&#8230;entah apalagi yang harus sy pertanggungjawabkan untuk DOSA yang melekat pada semua kegiatan yang menurut mereka &#8220;tidak benar&#8221;.<br />
Sebenarnya apakah sebuah kegiatan menjadi Dosa hanya lah semuah stigma yang dibangun masyarakat.<br />
Umpama nya seperti hal ini : orang bertato kedapatan melakukan kejahatan.dan sejak itu semua orang bertato identik dengan sesuatu yang jahat.<br />
Hm&#8230;jadi bisa dibayangkan kalo dunia ini dipenuhi oleh orang2 yang hanya mampu melihat semuanya dari sudut tersebut?</p>
<p>Okaylah&#8230;<br />
keep on ur way eve.<br />
Urusan dosa atau tidak adalah urusan yang berkuasa mengambil keputusan tersebut.<br />
Bless me GOD&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/beatriksbunga.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/beatriksbunga.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/beatriksbunga.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/beatriksbunga.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/beatriksbunga.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/beatriksbunga.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/beatriksbunga.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/beatriksbunga.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/beatriksbunga.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/beatriksbunga.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/beatriksbunga.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/beatriksbunga.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/beatriksbunga.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/beatriksbunga.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beatriksbunga.wordpress.com&amp;blog=11982234&amp;post=15&amp;subd=beatriksbunga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/02/19/apa-itu-dosa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f8fd0322dec9c1bd8e374523cdbaffa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">beatriksbunga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Unfaithfull&#8230;</title>
		<link>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/02/16/unfaithfull-2/</link>
		<comments>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/02/16/unfaithfull-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 01:43:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mediapsikologi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bunga Rampai Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/02/16/unfaithfull-2/</guid>
		<description><![CDATA[Ha10x&#8230;pagi2, harusnya mendengarkan lagu2. Ini malah lagu nya KRISPATI &#8220;cinta putih&#8221; yang ceritanya tentang pengkhianatan. He2&#8230;.musiknya dan penjiwaan semi yang membuat lagu ini enak didengar. Soal syair&#8230;? Tunggu DUlu &#8230; lagu ini sudah saya dengarkan sejak awal lagu ini tapi ajaib..tidak 1 pn syair yang bisa sy hapal dengna baik. Ughhh&#8230;&#8230;..thats me. Tidak pernah bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beatriksbunga.wordpress.com&amp;blog=11982234&amp;post=14&amp;subd=beatriksbunga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ha10x&#8230;pagi2, harusnya mendengarkan lagu2. Ini malah lagu nya KRISPATI &#8220;cinta putih&#8221; yang ceritanya tentang pengkhianatan.<br />
He2&#8230;.musiknya dan penjiwaan semi yang membuat lagu ini enak didengar. Soal syair&#8230;?<br />
Tunggu DUlu &#8230; lagu ini sudah saya dengarkan sejak awal lagu ini tapi ajaib..tidak 1 pn syair yang bisa sy hapal dengna baik.<br />
Ughhh&#8230;&#8230;..thats me. Tidak pernah bisa menghafal syair dengan baik.sampai detik ini!!!<br />
Memang kemampuan bermusik sy parah. Tapi sy bagus menangkap acord2 musik.<br />
KEmbali tentang pengkhianatan&#8230;ilagu ini juga sempat menjadi Ring back tone sy waktu patah hati..,,huf&#8230;kalo dulu, saat bicara tentang segala sesuatu yang membuat patah hati, sy benar2 marah.<br />
Tapi sekarang, bahkan mengingat persisnya sy di khianati ada sama sekali. Benar2 sy melupakannya.<br />
Karena hidup ku sekarang penuh cinta&#8230;sangat penuh cinta&#8230;<br />
Ternyata betul tentang cinta menutupi segala sesuatu..<br />
Kasih menutupi banyak sekali kesalahan.<br />
Itu mengapa bernostalgia tentang bagaimana rasanya saat jatuh cinta penting dilakukan setiap saat&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/beatriksbunga.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/beatriksbunga.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/beatriksbunga.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/beatriksbunga.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/beatriksbunga.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/beatriksbunga.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/beatriksbunga.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/beatriksbunga.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/beatriksbunga.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/beatriksbunga.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/beatriksbunga.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/beatriksbunga.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/beatriksbunga.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/beatriksbunga.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=beatriksbunga.wordpress.com&amp;blog=11982234&amp;post=14&amp;subd=beatriksbunga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://beatriksbunga.wordpress.com/2010/02/16/unfaithfull-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f8fd0322dec9c1bd8e374523cdbaffa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">beatriksbunga</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
