Menjadi PNS

Posted in Bunga Rampai Psikologi on Agustus 9, 2010 by mediapsikologi

Tulisan ini sebenarnya sudah menjadi perenungan sejak dahulu, hanya mencoba menuangkannya dalam tulisan baru terinspirasi setelah membaca blog menarik (Romisatriowahono).

Sebenarnya menjadi hal tidak adil ketika memberi sedikit perenungan terhadap etos kerja PNS, karena rasanya banyak pihak yang melayangkan protes atau kritikan. Dan saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang “sering” sekali protes tentang bagaimana PNS bekerja. Sudah sejak kecil, saya sudah berjanji untuk tidak mengikuti dab bahkan menjadi PNS. Ini akibat sering main di kantor Bapak saya sejak kecil. Sejak otak saya masuk dalam tahap analisis operasional. Melihat kerja staf dalam departemen yang Bapak saya pimpin (kebudayaan & sejarah) yang terlihat sejak pagi membaca Koran, maen catur, cerita di pojok-pojok ruangan dan bahkan mengajak anak bos untuk diajak cerita atau bermain. Suasana dalam ruangan memang sangat diam, teduh dan kondusif untuk menghasilkan sebuah karya, seperti menujukkan sebuah kualitas pekerjaan yang dilakukan. Ternyata apa yang terjadi adalah, setiap orang sibuk dengan “pekerjaan” nya masing-masing.

Kondisi ini tidak terlalu saya ambil pusing karena keadaan saya ketika masih kecil. Pengamatan serta analisis ini berkembang seiring dengan pertambahan pengetahuan yang saya alami. Melihat bahwa PNS selalu berkeliaran di toko-toko, rumah-rumah makan bahkan pasar dan seringnya berdiskusi dengan teman yang juga memperhatikan fenomena tersebut, dan kenyataan bahwa di Kota Kupang, menajdi PNS adalah cita-cita tertinggi setiap orang dan anak muda yang mencari pekerjaan, saya juga akan berpikir, suatu waktu, ada kemungkinan saya akan menjadi PNS juga.

Kemungkinan ini mendorong saya untuk berpikir mencari celah dimana menjadi PNS yang “bekerja” dan berkualitas. Dari semua kemingkinan tersebut, profesi PNS yang bekerja hanya terjadi bagi mereka yang bekerja sebagai tenaga pengajar. Sejak saat itulah, kemungkinan menjadi PNS hanya saya peruntukan untuk profesi sebagai tenaga pengajar saja. Pemahaman dan keyakinan seperti itu bertahan sampai saya menyelesaikan strata 1 saya.

Kondisi itu bertahan dan diperkuat setelah saya melanjutkan strata 2. Memiliki teman-teman yang berbagi cerita tentang kehidupan pekerjaan mereka menjadi PNS, lalu mengalami sendiri setelah hampir 20 tahun yang lalu di dalam kantor bapak saya. Saat melakukan permohonan ijin melakukan penelitian di tanah air beta ini, betapa terkejutnya ketika saya mendapati bahawa hari senin, jam 9 pagi, PNS-PNS dalam ruangan tempat melakukan permohonan ijin sedang ramai. Ruangan itu kira-kira seluas 6×7 m, berisi sekitar 10 orang PNS dan bunyi suara TV dan dengungan tidak jelas dari mereka yang bercerita, beberapa yang menonton, beberapa yang membaca Koran, dan tak 1 pun yang sedang terlihat serius melakukan tugasnya. Ketika saya masuk, butuh waktu 20 detik untuk membuat mereka sadar akan kehadiran saya padahal saya sudah mengetuk pintu dan mengucapkan salam selamat pagi. Entah sengaja atau memang sibuk dengan aktivitas mereka itu, saya tak dihiraukan.

Setelah masuk pun, hanya 1 orang yang memperhatikan saya dan menyakan tujuan saya datang tanpa meminta saya duduk karena tidak ada 1 kursi yang tersisa untuk melayani warga karena di penuhi oleh PNS yang melakukan “aktivitas” mereka. Saya pun dilayani dengan keadaan berdiri.

Sambil senyum-senyum memahami kondisi ini, saya segera menyelesaikan tugas dan bergegas pergi ke ruangan dan, dan hasilnya pada hari itu saya berkeliling 3 ruangan dan tidak ada hasil. Surat yang harusnya bisa diselesaikan saat itu juga, baru bisa diambil besok dengan alasan “maaf, saya bekerja sendiri, jadi sibuk”, padahal kondisinya saat saya datang adalah (bisa ditebak) sedang bercerita. Dan semakin kuatlah saya untuk tidak ingi bekerja sebagai PNS dengan jabatan structural.

Setelah menyalesaikan strata 2 saya, niat untuk pulang dan membangun Kota Kupang menjadi tujuan utama adalah dibidang pendidikan. Setelah 1 tahun bergabung dengan LSM local akhirnya saya di terima di salah satu Universitas Negeri terbesar dan tertua di Kota Kupang di fakultas FKIP. Syukur pada Tuhan untuk keberuntungan ini.

Hari ini, tepatnya 1 bulan 29 hari sejak saya menjalankan tugas sebagai PNS (tetapi status PNSnya sudah 6 bulan 29 hari).

Sudah hampir 2 bulan saya menjalankan status saya dan bukan tugas sebagai PNS. Menjalankan status yaitu wajib lapor, wajib mengikuti apel pagi sebagai wujud pengabdian pada negara dan institusi (atau apalah itu namanya) dan pastinya menerima gaji bahkan uang lauk pauk. Sedangkan tugas saya sebagai dosen, tidak tersentuh sama sekali hampir 2 bulan ini.

Dan berikut beberapa hal yang ingin saya share, tentang kekagetan saya setelah menjadi PNS dalam jabatan fungsional alias tenaga pengajar.Biar lebih detail, saya akan menceritakan bagaimana kegiatan saya sehari-hari…

Terhitung tanggal 1 juni, kami diwajibkan datang pagi untuk mengikuti apel pagi pada pukul 07.15 Witang. Lamanya cereminy tersebut tergantung siapa yang menjadi pemimpin apel hari itu. Kira-kira 1/2 jam kemudian kami dibubarkan. Setelah itu, aktifitas lanjutan adalah mencari “tempat” yang nyaman untuk “bercerita”. Karena Kami (saya dan 2 teman lainnya yang baru masuk) bukanlah tipe yang senang menghabiskan waktu dengan cara seperti itu, maka kami memilih pulang untuk melanjutkan aktifitas masing2 yang menunggu.

Kegiatan seperti diatas, berlangsung sampai hari ini. Kami hanya mampu bertahan 30 menit berada di Fakultas tercinta itu.  Sisanya kami habiskan dengan aktifitas lain.

Kondisi ini sangat membuat saya merasa bersalah dengan “tanah dan bumi”. Liat saja, ditengah-tengah susahnya orang bekerja untuk mendapatkan gaji yg layak ntuk bertahan hidup, saya bahkan tidak mengerjakan apa-apa dan mendapat bayaran yg bagus. dan karena rasa bersalah ini saya sempat menanyakan pekerjaan apakah yang bisa saya kerjakan? dan jawabannya adalah saya mendapat senyuman yang terlihat seperti mengejek…(“sok banget seh”). Akhirnya, untuk mengurangi rasa bersalah ini, saya membawa pekerjaan (yang tentunya berkaitan dengan pendidikan) untuk saya kerjakan di kampus. Hasilnya memang saya bertahan menyelesaikan waktu tugas saya di kampus.

Sampai pada tahap ini, akhirnya saya berpikir bagaimana tidak larut dalam system, tetapi menjadi diri sendiri dengan system PNS yang ada. Semoga saya tidak menunda-nunda pekerjaan, semoga tidak melihat berapa uang yang menjadi jatah saya jika bekerja, semoga tepat waktu, semoga tidak mencari muka dan semoga produktif.

Tetapi tidak semua PNS seperti itu, setelah saya amati, semua ini hanya masalah “mind set” yang perlu bongkar dan di tata kembali. Seburuk apapun system, ketika mind set orang bagus, tidak sulit untuk menjadi agen of change.

Mari menjadi PNS yang berdedikasi dan berkualiatas…

KARAKTER & PERMAINAN TRADISIONAL

Posted in jurnal psikologi on Februari 4, 2013 by mediapsikologi

Ketika Kita Kehilangan Kekayaan, Anda Tidak Kehilngan Apa-Apa. Ketika Kita Kehilangan Kesehatan,
Anda Kehilangan Sesuatu. Ketika Kehilangan Karakter, Anda Kehilangan Segala-Galanya
(Billy Graham)

Menurun atau punah nya peradaban suatu bangsa bukanlah dikerenakan oleh perang atau bahkan kemiskinan tetapi karena menurunnya karakter masyarakat didalamnya.
Thomas Lickona dalam bukunya “Educating for Character: How Our Schools Can Teach Repect and Responsibility” menegaskan bahwa kualitas karakter generasi mudanya yang menjadi indikator penting apakah sebuah bangsa dapat maju atau tidak. Lickona juga mengidentifikasi 10 tanda-tanda karakter generasi muda yang perlu diwaspadai karena dapat mengancam kehancuran bangsa, yaitu : 1) meningkatnya kekerasan dikalangan remaja, 2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk, 3) pengaruh peer-group yang kuat dalam tindak kekerasan, 4) meningkatnya perilaku merusak diri seperti narkoba, alkohol dan seks bebas, 5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk, 6) menurunnya etos kerja, 8) rendahnya rasa tanggung jawab invidu dan warga Negara, 9) membudayanya ketidakjujuran dan, 10) adanya rasa saling curiga dan kebencian diantara sesama.
Jika kita berkaca dari 10 tanda diatas, fenonema yang terjadi di Indonesia secara umum dan NTT khusunya, menunjukkan semua tanda-tanda tersebut sudah terjadi dan bahkan sudah mencapai tahap yang cukup mempirihatinkan.
Upaya baik preventif maupun pengobatan terhadap menurunnya moralitas di sudah dilakukan banyak pihak mulai dari pembinaan-pembinaan dalam masyarakat sampai pada pembuatan undang-undang dan kekuatan hukum yang lebih mengikat. Salah satu upaya preventif/ tindakan pencegahan adalah melalui pendidikan. Melalui upaya ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas karakter generasi muda sehingga dapat mengurangi berbagai masalah karakter bangsa.
Apa itu Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter bukan lagi hal baru di dalam sejarah kehidupan manusia. Sejak dulu orangtua selalu mengarahkan anak-anaknya untuk berlaku sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam budaya mereka.Karakter menjadi jantung dari pendidikan itu sendiri.
Bapak pendidikan yaitu Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan budi pekerti (kekuatan batin dan karakter), pikiran dan tubuh anak. Hal ini menyiratkan bahwa melalui pendidikan terbentuklah manusia yang memiliki kecerdasan baik kecerdasan kognisi, kecerdasan sosial-emosional, kecerdasan spiritual maupun kinestetik.
Berdasarkan masukan dari masyarakat Pemerintah sendiri dalam hal ini adalah Kementrian Pendidikan khususnya bidang penelitian dan pengembangan , mengembangkan pendidikan budaya dan karakter bangsa pada tanggal 14 Januari 2010 sebagai Gerakan Nasional. Kebijakan ini bukan mengubah kurikulum tetapi menekankan pada sikap dan ketrampilan kepala sekolah, guru dan konselor berintegrasi dan menginternalisasikan nilai-nilai karakter dalam proses pembelajaran
Ada 18 nilai karakter yang diatur dalam Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa berdasarkan Naskah Pengembangan Pendidikan Karakter yaitu nilai religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/ komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, dan tanggung jawab. Nilai-nilai inilah yang diharapkan dapat di internalisasikan dalam keseluruhan proses belajar mengajar.

Pendidikan Karakter dalam Permainan Tradisional
Pendidikan yang berkarakter dapat ditunjang salah satu nya dengan permainan tradisional. Permainan tradisional biasa juga disebut permainan rakyat. Permainan ini tumbuh dan berkembang dalam masyarakat pedesaan. Permainan tradisional juga merupakan simbolisasi dari pengetahuan turun temurun dan kaya akan nilai-nilai serta pesan bagi anak. Sifat dan ciri permainan tradisional adalah sudah tua, tidak diketahui asal usulnya, siapa penciptanya dan dari mana asalnya.
Permainan tradisional sangat bergantung dengan lingkungan tempat dia tumbuh sehingga otomatis nilai-nilai dalam masyarakat terinternalisasi didalamnya. Sehingga sebenarnya sangat efektif jika permainan tradisional dipakai dalam proses pembentukan karakter anak.
Setidaknya ada 56 permainan tradisional yang muncul dari kebudayaan masyarakat NTT. Permainan-permainan ini terkadang sama hanya berbeda nama serta mengalami perubahan dalam aturan bermain dan penamaannya. Permainan Gasing misalnya. Di Flores Timur di sebut dengan nama Kote, Timor disebut dengan permainan Piol, Sabu disebut dengan permainan Womaka, Alor sub etnik Abui disebut dengan Kong dan Sumba disebut dengan Pamangku. Permainan ini memiliki fungsi selain memperoleh kesenangan tetapi nilai-nilai seperti kerjasama, nilai kreatifitas, penyelesaian konflik, toleransi, tanggung jawab, rasa ingin tahu dan semangat kebangsaan.
Keseluruhan proses permainan tradisional sebenarnya mengandung nilai-nilai karakter yang baik (good character) yang dapat membentuk karakter anak. Mulai dari saat anak memutuskan untuk bermain. Pada saat itu terlihat bagaimana anak harus berbagi peran, memilih teman kelompok yang sesuai, menyelesaikan konflik yang terjadi saat pemilihan peran tersebut. Pada saat itu pula anak belajar bagaimana bekerja sama, belajar untuk toleransi, memiliki nilai-nilai kekeluargaan, menghargai pendapat teman yang lain. Pada saat bermain, anak tentunya harus bekerjasama dalam menentukan strategi mencapai tujuan yaitu kemenangan, pada saat itu anak harus saling menghargai, belajar menerima kekalahan, mampu menahan emosi saat terjadi pertentangan dalam kelompok, kerja keras dan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan, disiplin mengikuti aturan yang ditetapkan bersama,
Permainan tradisional juga secara tidak langsung sudah mengajarkan anak untuk memiliki nilai kecintaan terhadap milik bangsa, semangat kebangsaan sekaligus melestarikan budaya. Juga mengajarkan anak untuk tidak hidup dalam budaya hedonis dan konsumtif seperti membeli dan memainkan permainan modern video games.
Kayanya nilai-nilai karakter yang terkandung dalam permainan tradisional harusnya memberi inspirasi kepada kita untuk memanfaatkan kebudayaan lokal sebagai salah satu model pembentukan karakter anak bangsa dan sesuai dengan nilai-nilai masyarakat Indonesia.

Mencintai apa yg harus nya kau cintai

Posted in Bunga Rampai Psikologi on Oktober 5, 2010 by mediapsikologi

Hssss…hawa di dalam ruangan ini berkisar antara 35-36 derajat celsius.Bisa dibayangkan panas nya kan?

Adaptasi…hm itulahkeberuntungan menjadi mahluk ciptaan Tuhan. Diberi kemampuan untuk adaptasi, termasuk tubuh ini dengan lingkungannya.

Mulai dari mana ya…

spertinya mulai dengan adaptasi juga bisa..

Adaptasi dengan “rumah” kedua saya sekarang, yaitu fakultas, tepatnya jurusan….saya maasih mencoba untuk adaptasi dengan kondisinya.

Sebagai kantor…ini merupakan rumah kedua bagi saya. bagaimana tidak, setengah hari saya dihabiskan disini. Layaknya rumah, harusnya anda betah didalam nya. Betah itu harus di  dukung oleh situasi dan fasilitas.
KOndisi sekarang adalah…kami keluar masuk ruangan seperti hotel dan menuntut agar situasi, fasilitas disediakan dan bagus dan 1 lagi…mengeluhkan keadaan sekarang dan 1 lagi (this is the last one) semua diukur dengan Uang. They always say like this “kita sudah ajukan kefakultas agar mengeluarkan uang untuk itu, tapi”..

Sy berpikir bahwa keadaan ini mmg tidak akan berubah. mnecoba untuk hidup dalam kenyataann sekarang sambil menanamkan rasa cinta pada tempat ini.

Oke skarang coba kita melist hal-hal yang membuat rumah ini nyaman dan bisa membuat kita betah…:

1. Air minum : apakah itu butuh uang dari fakultas untuk melakukan itu? toh kenyataan sekarang adalah kita menghabiskan uang untuk membeli minum setiap hari…apa salahnya uang itu di kumpulkan untuk membeli minuman yg bisa dipake bersama atau paling tidak diri sendiri dengan fasilitas kulkas yang ada tapi trnyta dijadikan lemari file?hhhh????

2. ruangan dosen sangat kotor dan berdebu…marilah membeli sulak atau kain lap untuk kebersihan dan kenyamanan…apakah itu butuh acc rektor untuk mendapatkan sulak?

Hmmm, itu 2 hal sederhana untuk membuat kita mencintai rumah ini…itu contoh maksud saya.Kalau yang kecil2 itu tidak mampu dijalankan, bagaimana dengan yang besar2 lagi…

oke deh…sy ingin melakukan itu tanpa menunggu acc uang..

Hubungan persepsi ttg kekerasan dgn Konsep diri

Posted in jurnal psikologi with tags , , on Mei 29, 2010 by mediapsikologi

 

THE RELATIONSHIP BETWEEN CHILDREN’S PERCEPTION OF VIOLENCE AND AUTHORITARIAN PARENTING STYLE WITH SELF CONCEPT IN SABU AND ROTE ETHNIC ENVIRONMENTS IN KOTA KUPANG

 Bunga[1], Ekowarni[2]

 Program Magister Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada 

ABSTRACT

             One of the impacts of child abuse is negative self concept. In the fact, both of parents or teachers ways to educate their children used by a violence. This research   examines the relation between children perception of violence and authoritarian parenting style with self concept viewed by Sabu and Rote ethnic environment at Kota Kupang. The sample is the children live in ethnic Sabu and Rote environment, it has also Sabu and Rote ethnic (N= 150, age 11-12). The method used in the research is the scale of children’s perception of violence, the scale of authoritarian of parenting style and the scale self concept.

            The result showed that children perception of violence and authoritarian of parenting style together influence the self concept (F= 5.311, R2= 0.067, p = 0.006). t-test result showed no self concept differences between children live in Sabu and Rote ethnic environments (t hitung = 0.932 dan t tabel = 1,640).


[1] Program Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada

[2] Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada

Pengantar

                Salah satu tugas perkembangan yang harus diselesaikan pada tahapan kanak-kanak adalah konsep diri anak. Konsep diri memiliki peran yang cukup penting dalam penentuan  sikap, perilaku dan reaksi anak terhadap orang lain dan lingkungan sekitarnya.

                Banyak anak yang mengembangkan dengan konsep diri yang cenderung negatif. Namun sayang orangtua, guru dan orang dewasa yang bertanggung untuk membimbing mereka tidak menyadari hal itu.

                Konsep diri yang cenderung negatif ini banyak terlihat pada anak-anak di Kota Kupang. Ini tampak jelas ketika anak mulai melebarkan sayap ke Sekolah Dasar. Anak-anak di Kota Kupang sangat pemalu, tidak percaya diri, penakut, cepat putus asa, selalu mengatakan “tidak”, selalu mengatakan saya “tidak dapat/ mampu”, mengatakan “saya tidak berani”.

                Perilaku-perilaku tersebut memang dianggap tidak baik oleh para orangtua dan pendidik, tetapi justru mereka memperkuat berkembangnya konsep diri yang negatif itu dengan kekerasan, baik fisik seperti memukul untuk membuat anak mau melakukan sesuatu, kekerasan emosional seperti menghina anak di depan kelas. Model ini diperkuat orang dewasa seperti orangtua, guru dan orang dewsa lainnya dengan keyakinan bahwa kekerasan yang mereka terima dulu itulah yang membuat mereka menjadi orang yang berguna saat ini.

Banyak faktor yang mempengaruhi tumbuh dan kembang anak, termasuk pembentukan konsep diri anak. Bronfenbrener dalam Santrock (1999), seorang pencetus teori ekologi mengungkapkan bahwa lingkungan sosiokultural anak sangat mempengaruhi perkembangan anak. Lingkungan itu dimulai dari lingkungan yang sangat dekat dengan anak yaitu hubungannya dengan keluarga, meluas pada teman sebaya, sekolah, dan masyarakat; bagaimana pengalaman yang anak alami dalam lingkungan-lingkungan tersebut; bagaimana interaksi antara lingkungan-lingkungan itu mempengaruhi anak dan kemudian meluas pada bagaimana kebudayaan dalam lingkungan tempat tinggal anak mempengaruhi perkembangannya. Apabila lingkungan disekitar anak di Kota Kupang penuh dengan kekerasan baik yang dilakukan orangtua, guru dan masyarakat, tentunya akan mempengaruhi perkembangan kepribadiannya. Apa yang anak Kota Kupang lihat, dengar mengenai sikap orang lain terhadap dirinya bahkan apa yang dirasakan akibat perlakuan orang lain, akan dievaluasi anak menjadi suatu konsep tentang dirinya.

Secara khusus penelitian ini mengambil lingkungan etnis sebagai salah satu objek amatan. Peneliti ingin mengetahui bagaimana perbedaan lingkungan tempat tinggal anak ini mempengaruhi konsep diri yang anak kembangkan.

Berdasarkan fenomena  yang disajikan diatas, menarik bagi penulis untuk mengetahui lebih lanjut tentang :

  1. Apakah ada hubungan antara persepsi anak terhadap kekerasan dan pola asuh otoriter dengan konsep diri ditinjau dari lingkungan etnis Sabu dan Rote di Kota Kupang.
  2. Apakah ada hubungan antara persepsi anak terhadap kekerasan dengan konsep diri ditinjau dari lingkungan etnis Sabu dan Rote di Kota Kupang.
  3. Apakah ada hubungan antara pola asuh otoriter dengan konsep diri di tinjau dari lingkungan etnis Sabu dan Rote di Kota Kupang.
  4. Apakah ada perbedan konsep diri antara anak yang tinggal di lingkungan etnis Sabu dan Rote.

Teori utama mengenai konsep diri yang dipakai adalah teori konsep diri yang dikemukakan oleh Shalvelson. Menurut Shalvelson  (Marsh et al., 1983) konsep diri adalah persepsi individu tentang dirinya yang terbentuk dari pengalaman individu dalam lingkungan, interaksi dengan orang-orang terdekatnya (significant others) dan atribut-atribut yang dikenakan padanya. Konsep diri menurut Fitts dalam Tarakanita (2001) adalah bagaimana diri diamati, dipersepsi dan dialami oleh individu tersebut. Didalam konsep diri juga mengandung unsur penilaian dan mempengaruhi tingkah laku seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain. Lanjutnya Fitts juga mengemukakan bahwa konsep diri merupakan suatu konstruk sentral untuk mengenal dan mengerti individu yang erat hubungan dengan dunia fenomenalnya, sehingga dalam dunia fenomenalnya aspek yang memegang peranan penting adalah dirinya sendiri.

Penelitian ini menggunakan model konsep diri dari Shalvelson, Hubner dan Stanton. Berikut model konsep diri umum yang diajukan Shavelson, Hubner dan Stanton dalam Song (1984) :

GENERAL SELF CONCEPT
ACADEMIC SELF CONCEPT
PRESENTATION OF SELF
ABILITY SELF CONCEPT
PEER SELF CONCEPT
SOCIAL SELF CONCEPT
CONFIDENCE SELF CONCEPT
FAMILY SELF CONCEPT
ACHIEVEMENT SELF CONCEPT
CLASSROOM SELF CONCEPT
PHYSICAL SELF CONCEPT
NATURAL SCIENCE
SOCIAL STUDIES
LANGUAGE
MATHEMATICS

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Model Konsep Diri oleh Shavelson,

 Hubner dan Stanon (Song, 1984)

 

 

Bagi Shalvelson (Marsh et al., 1984), konsep diri ini sangat multi dimensi dan bergerak secara hirarki. Dimulai dari konsep diri akademik (matematika dan membaca) dan kemudian ke konsep diri secara umum. Konsep diri ini kurang multifaced seiring dengan dengan perkembangan individu, bayi menjadi dewasa dan tergantung juga dengan sistem lain yang individu terima dalam kelompok.

Shavelson menetapkan skala yang lengkap mengenai konsep diri (Marsh et al., 1983) . Secara ringkas aspek konsep diri tersebut dapat dilihat dari tabel berikut :

ASPEK  DESKRIPSI 
Kemampuan fisik Kemampuan dan minat yang berkaitan dengan olahraga maupun aktivitas fisik lainnya
Penampilan Fisik Sejauh mana seseorang memiliki fisik yang menarik.
Hubungan dengan lawan jenis Interaksi dengan sahabat seumur yang memiliki jenis kelamin berbeda
Hubungan dengan sesama jenis Interaksi dengan sahabat seumur yang memiliki kesamaan jenis kelamin
Hubungan antara anak dengan orangtua Interaksi anak dengan orangtua
Matematika Kemampuan, rasa suka, dan ketertarikan pada matematika dan ilmu logika
Verbal Kemampuan, rasa suka dan ketertarikan pada bahasa, khususnya bahasa inggris dan membaca
Sekolah secara umum Kemampuan, rasa suka dan ketertarikan pada subjek-subjek yang berkaitan dengan sekolah
Konsep diri secara umum Kemampuan untuk menghargai diri sendiri dan membangun rasa percaya diri

Tabel 1.  Aspek Konsep Diri menurut Shalvelson

                Menurut Burns (1979), konsep diri dipengaruhi oeh beberapa faktor yaitu bagaimana diri fisiknya dan bagaimana anak mencitra kondisi fisiknya; umpan balik orang-orang terdekat anak seperti orangtua, teman sebaya dan guru juga praktek membesarkan anak atau pola asuh.

Praktek-pratek pengasuhan dan hubungan anak baik dengan teman sebaya maupun guru serta masyarakat yang diwarnai kekerasan di Kota Kupang mempengaruhi perkembangan konsep diri anak. Menurut Walgito (2002) persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan, yakni merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera.. Jadi apa yang dialami oleh anak selama 11 tahun merupakan stimulus awal yang kemudian diorganisasikan dan diinterpretasikan sehingga individu menyadari, mengerti tentang apa yang diindera dan memunculkan respon (Branca, dalam Walgito, 2002). Anak di Kota Kupang, dengan inderanya menangkap stimulus yang ada berupa kata-kata makian, penghinaan, pemukulan dan perbuatan kasar lainnya, mengorganisasikan dan menginterpretasikannya sehingga anak menyadari apa yang dialaminya sebagai bentuk kasih sayang ataukah penolakan orangtua maupun lingkungan terhadapnya, kemudian memunculkan respon dengan mengembangkan konsep diri yang positif ataukan negatif.

Kekerasan terhadap anak biasa dikenal secara global sebagai “child abuse”. Kekerasan pada anak adalah tindakan melukai yang berulang-ulang secara fisik dan emosional terhadap anak yang ketergantungan, melalui desakan hasrat, hukuman badan yang tak terkendali, degradasi dan cemoohan permanen atau kekerasan seksual, biasanya dilakukan para orangtua atau pihak lain yang seharusnya merawat anak (Baker dalam Huraerah, 2007). Banton (2004) mendefenisikan kekerasan terhadap anak sebagai perilaku-perilaku yang merugikan anak-anak dalam kondisi apapun, atau kegagalan dalam menyediakan kebutuhan  dasar anak. Menurut Richard Gelles dalam Huraerah (2007), kekerasan terhadap anak adalah perbuatan disengaja yang menyebabkan kerugian atau bahaya terhadap anak-anak secara fisik maupun emosional.

Persepsi anak terhadap kekerasan adalah proses pemaknaan stimulus yang di tangkap anak lewat inderanya (melihat, mendengar, merasakan kekerasan yang dilakukan orang-orang yang seharusnya mengasihi nya). Proses pemaknaan inilah yang menjadi dasar perilaku anak.

Skala perespsi anak terhadap kekerasan ini dikembangkan berdasarkan aspek-aspek dibawah ini :

  1. Kekerasan merupakan pewarisan kekerasan antar generasi (intergenerational transmission of violance).

Menurut Gelles (Huraerah, 2007), pewarisan kekerasan antar generasi adalah perilaku kekerasan dipelajari seorang anak dari orangtuanya  kemudian mengembangkannya ketika dewasa/ menjadi orangtua nantinya. Orangtua dulunya menjadi patuh, disiplin dan berhasil karena di perlakukan keras oleh orangtua mereka masing-masing, sehingga mereka meyakini bahwa cara pendidikan yang mereka terima dahulu adalah cara yang efektif untuk menghasilkan generasi yang unggul.

  1. Kekerasan fisik

Menurut Tampubulon, et al (2003) kekerasan fisik adalah semua tindakan yang mengakibatkan luka fisik pada anak. Kekerasan fisik itu meliputi menampar, menjewer, mencubit, memukul dengan dahan pohon, dengan tongkat, cambuk atau benda keras lainnya, melempar dengan benda keras, mendorong, menendang, membenturkan anak ke dinding, mengikat anak di pohon, push up, jalan dengan lutut dan dijemur.

  1. Kekerasan emosional

Kekerasan emosional adalah semua tindakan yang berpengaruh buruk terhadap perkembangan emosi dan sosial anak. Menurut Banton (2004) kekerasan emosional seperti memarahi, menghardik, memaki, mengatai anak sebagai anak yang tidak berguna, tidak dicintai, bodoh dan selalu mengecewakan orangtua; dan Vaughan (1996) menambahkannya yaitu membicarakan kegagalan anak terus menerus dan menghinanya.

  1. Kekerasan seksual

Kekerasan seksual adalah semua tindakan yang memaksa atau merayu anak untuk mengambil bagian dalam aktivitas seksual, baik itu yang disadari atau tidak. Menurut Lawson (Huraerah, 2007) kekerasan seksual meliputi kontak fisik, penetrasi/ tidak penetrasi, memegang bagian tubuh yang tidak boleh disentuh, serta aktivitas bukan kontak fisik seperti mengajak anak menonton adegan porno, memperlihatkan gambar-gambar porno, menganjurkan anak untuk berperilaku yang tidak pantas seperti exhibitionism, mengajak anak berbicara porno, tindakan yang menyebabkan anak masuk dalam tujuan prostitusi atau menggunakan anak sebagai model foto porno.

Sedangkan pola asuh otoriter atau  pola pengasuhan authoritarian menurut Diana Baumrind dalam Santrock (1999) adalah suatu gaya yang membatasi dan menghukum yang menuntut anak untuk mengikuti perintah-perintah orangtua dan menghormati pekerjaan dan usaha. Orangtua yang otoriter menetapkan dengan tegas dan tidak memberi peluang yang besar kepada anak-anak untuk berbicara (bermusyawarah). menuntut kepatuhan dan konformitas yang tinggi.  Mereka lebih suka menghukum, diktator dan kaku dalam menerapkan disiplin bagi anak-anak.

Pola asuh otoriter ini akan di ukur menggunakan ciri-ciri pola asuh otoriter menurut Diana Baumrind dalam Mahmud (2004) yaitu orangtua menuntut kepatuhan yang tinggi, tidak boleh bertanya, menghukum bila anak melanggar tuntutan, tidak membicarakan berbagai masalah dengan anak, sedikit sekali memberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaan, tidak memberi kesempatan kepada anak untuk mengatur dirinya sendiri.

Metode

Penelitian mengunakan analisa regresi dan uji t-test untuk hipotesis mengetahui perbedaan yang akan diukur.

Subjek penelitian adalah anak usia Kelas 5 dan 6 SD, usia 11- 12 tahun, jenis kelamin Laki dan Perempuan, tinggal di lingkungan etnis Sabu dan etnis Rote dan bersuku Sabu dan Rote

Penelitian ini dilaksanakan di 4 Sekolah Dasar yang ada di Kelurahan berbasis etnis yaitu 2 kelurahan etnis Sabu dan  2 kampung etnis Rote. Kampung etnis Sabu yaitu SDN Nunbaun Sabu di kelurahan Nunbaun Sabu dan SDI Nunbaun Delha di kelurahan Nunbaun Delha; sedang kampung etnis Rote yaitu SDI Osmok di kelurahan Namusain dan SDI Kayu Putih di  kelurahan  Oebobo.

 

 

Hasil Penelitian dan Pembahasan

                Hasil uji hipotesis yang menunjukkan persepsi anak terhadap kekerasan dan pola asuh otoriter secara bersama-sama berperan negatif terhadap konsep diri, artinya variabel persepsi anak terhadap kekerasan dan pola asuh otoriter bersama-sama merupakan prediktor yang baik bagi konsep diri, yaitu semakin tinggi persepsi anak dan semakin otoriter pola asuh yangditerima anak, semakin rendah konsep diri yang anak kembangkan (F = 5.311, p = 0.006, R = 0,260, R2 = 0,067. Ini dapat diketahui bahwa sumbangan efektif kedua prediktor terhadap konsep diri sebesar 6,7 %, sedangkan sisanya (100% – 6,7% = 93,3 %) dijelaskan prediktor-prediktor lain. Ini berarti hipotesis pertama dalam penelitian ini diterima. Hasil penelitian ini mendukung pendapat Coopersmith dalam Calhoun & Joan  (1990) yang menyatakan bahwa konsep diri anak dipelajari melalui kontak dan pengalaman anak bersama orang lain, belajar diri sendiri melalui cermin orang lain. Anak belajar untuk memahami penilaian orang lain terhadap dirinya sendiri (Puspasari, 2007).  Burns (1979) menegaskan bahwa  bagaimana umpan balik yang diberikan orang-orang terdekat di sekitar anak dan bagaimana bentuk pengasuhan yang dikembangkan orangtua, dipersepsi dan dipahami anak apakah sebagai ancaman, pujian hukuman ataukah penghargaan, yang kemudian akan dikembangkan menjadi suatu konsep mengenai siapa dirinya.

                Secara terpisah, persepsi anak terhadap kekerasan berperan negatif terhadap konsep diri. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa hipotesis ini diterima. Ini berarti semakin tinggi persepsi anak terhadap kekerasan, semakin negatif konsep diri anak. Ini bisa dilihat dengan nilai beta 0.257, t = 3.175, dan p =  0.002, taraf signifikansi p < 0.05 (signifikan). Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Isliko (2008) bahwa ada hubungan positif antara persepsi remaja terhadap budaya kekerasan di Kota Kupang dengan tingkat agresifitas remaja. Berarti semakin tinggi persepsi remaja terhadap budaya kekerasan semakin tinggi juga tingkat agresifitasnya. Penelitian serupa mengenai persepsi anak terhadap kekerasan, yang dilakukan oleh  Lating (2007) menunjukkan bahwa ada semakin tinggi persepsi anak terhadap kekerasan semakin rendah tingkat ketrampilan sosial yang dikembangkan anak. Apa yang anak persepsilah yang sebenarnya mempengaruhi apakah sebuah stimulus atau rangsangan yang dilihat dan dirasakan itu menjadi ancaman atau penghargaan.

                Hipotesis ketiga berbunyi “ada hubungan negatif antara pola asuh otoriter dengan konsep diri”. Dari hasil uji regresi menunjukkan bahwa hipotesis ini ditolak. Ini dibuktikan dengan nilai beta sebesar -0.104, t = -1.289, p = 0,199, dengan taraf signifikan p < 0,005. Ini berarti ada kemungkinan semakin otoriter pengasuhan yang diterima anak, maka semakin positif konsep diri yang dikembangkan anak dan sebaliknya juga ada kemungkinan semakin tidak otoriter pengasuhan yang diterima anak, maka semakin negatif  juga konsep diri anak.

Anak di kota Kupang sangat terbiasa dengan pola pengasuhan yang otoriter, misalnya semua diatur dan ditentukan orangtua, anak tidak punya hak untuk bertanya, kekerasan menjadi pilihan terakhir ketika menyelesaikan konflik orangtua anak, anak harus menuruti semua kemauan orangtua tanpa boleh membantah. Setiap hari anak diperhadapkan dengan kondisi seperti itu, akhirnya anak telah terbiasa dan tidak menganggap itu sebagai masalah.

                Hipotesis keempat berbunyi “ada perbedaan konsep diri antara anak yang tinggal di lingkungan etnis Sabu dan Rote”. Konsep diri anak yang tinggal di lingkungan etnis Sabu lebih tinggi dari etnis Rote. Uji t-test konsep diri antara anak yang tinggal di lingkungan etnis Sabu dan Rote, yang diasumsikan bahwa anak yang tinggal di lingkungan etnis Sabu memiliki konsep diri lebih tinggi daripada anak yang tinggal di lingkungan etnis Rote, tidak terbukti. Nilai t hitung lebih kecil dari pada nilai t table (t hitung < t table = 0.932 < 1,640). Ini berarti tidak ada perbedaan konsep diri antara anak yang tinggal di lingkungan etnis Sabu dan Rote. Hasil penelitian ini serupa dengan penelitian yang dilakukan Phinney (dalam Tarakanita, 2001) yaitu tidak menemukan adanya hubungan antara status identitas etnik dengan self esteem pada kelompok etnik remaja minoritas dengan kelompok mayoritas.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan pada bab terdahulu, maka terdapat beberapa point penting yang dapat disimpulkan :

  1. Ada hubungan antara persepsi anak terhadap kekerasan dan pola asuh otoriter dengan konsep diri. Ini berarti variabel persepsi anak terhadap kekerasan dan pola asuh otoriter bersama-sama merupakan prediktor yang baik bagi konsep diri.
  2. Ada hubungan negatif antara persepsi anak terhdap kekerasan dengan konsep diri. Ini berarti semakin tinggi persepsi anak terhadap kekerasan, semakin negatif konsep diri anak
  3. Tidak ada hubungan antara pola asuh otoriter dengan konsep diri. Ini berarti ada kemungkinan semakin otoriter pengasuhan yang diterima anak, maka semakin positif konsep diri yang dikembangkan anak.
  4. Tidak ada perbedaan konsep diri antara anak yang tinggal di lingkungan etnis Sabu dan Rote.

Penelitian ini memberi masukan bagi pada pemerintah untuk menggalakkan sosialisasi UU N0.23/ 2002 ke para orangtua, sekolah-sekolah dan masyarakat. Para orangtua agar tidak mengembangkan pola pengasuhan yang diwarnai kekerasan dan orangtua juga harusnya dilibatkan dalam program anti kekerasan terhadap anak. Guru diharapkan tidak lagi mengembangkan pola pendidikan keras yang sudah terjadi turun temurun dan sekolah-sekolah serta guru-guru juga harus dilibatkan dalam program anti kekerasan terhadap anak. Pelatihan cara mengajar yang lebih efektif bagi guru-guru. Ini dimaksudkan agar guru dapat mencari alternatif memberi hukuman tanpa kekerasan Studi ini bisa menjadi studi awal bagi pergerakan pemberantas kekerasan terhadap anak di Kota kupang. Perlu sosialisasi mengenai kekerasan terhadap anak dan dampaknya bagi perkembangan anak. Metode penelitian yang digunakan dapat diperluas dengan menggunakan metode lainnya seperti metode experiment, atau kualitatif

DAFTAR PUSTAKA

Banton, R., 2004, dalam Child Abuse, Childhood Study, an Intrduction, Australia: Blackwell Publishing.

 Burns, R. B., 1979, The Self Concept : Theory, Measurement, Development and Behavior, London: Longman Group Limited.

 Calhoun, J.F & Joan R. A., 1990, Psychology of Adjustment and Human Relationships, New York: Mc Graw-Hill.

Huraerah, A., 2007, Child Abuse (kekerasan terhadap anak), Bandung: Nuansa.

 Lating, A. D., Hubungan antara Persepsi Anak terhadap Kekerasan dengan Ketrampilan Sosial di tinjau dari Lingkungan yang Berbeda,. Tesis, Program Studi Psikologi, Universitas Gadjah Mada, 2007, tidak diterbitkan.

 Mahmud, H. R.,2004, Hubungan antara gaya pengasuhan orangtua dengan tingkah laku prososial anak, Jurnal Psikodinamika, Vol. 6, No. 2, hal 48-57

 Marsh, W. H, Joseph R & Ian D. S., 1983, Self-Concept: The Construct Validity of Interpretations Based Upon the SDQ, Journal of Personality and Social Psychology, Vol 45, No. 1, hal. 173-187.

Marsh, W. H, Len C, Joseph R, Jennifer B & Ray L. D., 1984, The Relationship Between Dimensions of Self-Attribution and Dimensions of Self Concept, Journal of Educational Psychology, Vol. 76, No. 1, hal 3-32

Puspasari, A., 2007, Mengukur Konsep Diri Anak, Cara Praktis bagi Orangtua untuk Mengukur dan Mengembangkan Konsep Diri Anak, Jakarta: Alex Media Komputindo.

Santrock, J. W., 1999, Life-Span Development, New York. McGraw-Hill College.

Song, In-Sub, John H., 1984, Home Environment, Self Concept and Academic Achievement: A causal Modeling Approach, Journal of Educational Psychology, Vol. 76, No. 6, hal 1269-1281.

Tampubulon, L. H, Rianto A, Elli B. H & Nur H., 2003, Pengkajian Mengenai Kekerasan terhadap Anak di Kabupaten Sikka dan Ende, NTT, Kerja sama UNICEF, Cooperazione Italiana & NZIAD.

Tarakanita, I., 2001, Hubungan Status Etnik dengan Konsep Diri Mahasiswa (Studi pada Kelompok Remaja Akhir Etnik dan Etnik Cina di Universitas Kristen Maranatha Bandung), Jurnal Psikologi, Vol. 7, No. 1, hal. 1-15.

Vaughan, R. P., 1996, Child Abuse and Its Consequences, Human Development Magazine, Vol.17, No. 2, hal. 12-16.

Walgito, B., 2002, Pengantar Psikologi Umum, Yoyakarta : Andi Offset.

Novel : San Pek Eng Tay

Posted in Resensi Buku with tags on Mei 24, 2010 by mediapsikologi

Wajah : San Pek Eng Tay

Baca lebih lanjut

Jurnal Perkembangan

Posted in Bunga Rampai Psikologi on Maret 30, 2010 by mediapsikologi

THE RELATIONSHIP BETWEEN CHILDREN’S PERCEPTION OF VIOLENCE

AND AUTHORITARIAN PARENTING STYLE WITH SELF CONCEPT

IN SABU AND ROTE ETHNIC ENVIRONMENTS

IN KOTA KUPANG

Bunga[1], Ekowarni[2]

Program Magister Psikologi

Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada

ABSTRACT

One of the impacts of child abuse is negative self concept. In the fact, both of parents or teachers ways to educate their children used by a violence. This research   examines the relation between children perception of violence and authoritarian parenting style with self concept viewed by Sabu and Rote ethnic environment at Kota Kupang. The sample is the children live in ethnic Sabu and Rote environment, it has also Sabu and Rote ethnic (N= 150, age 11-12). The method used in the research is the scale of children’s perception of violence, the scale of authoritarian of parenting style and the scale self concept.

The result showed that children perception of violence and authoritarian of parenting style together influence the self concept (F= 5.311, R2= 0.067, p = 0.006). t-test result showed no self concept differences between children live in Sabu and Rote ethnic environments (t hitung = 0.932 dan t tabel = 1,640).

Key words : Children’s perception of violence, Authoritarian parenting style, Self- concept


[1] Program Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada

[2] Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada

Pengantar

Salah satu tugas perkembangan yang harus diselesaikan pada tahapan kanak-kanak adalah konsep diri anak. Konsep diri memiliki peran yang cukup penting dalam penentuan  sikap, perilaku dan reaksi anak terhadap orang lain dan lingkungan sekitarnya.

Banyak anak yang mengembangkan dengan konsep diri yang cenderung negatif. Namun sayang orangtua, guru dan orang dewasa yang bertanggung untuk membimbing mereka tidak menyadari hal itu.

Konsep diri yang cenderung negatif ini banyak terlihat pada anak-anak di Kota Kupang. Ini tampak jelas ketika anak mulai melebarkan sayap ke Sekolah Dasar. Anak-anak di Kota Kupang sangat pemalu, tidak percaya diri, penakut, cepat putus asa, selalu mengatakan “tidak”, selalu mengatakan saya “tidak dapat/ mampu”, mengatakan “saya tidak berani”.

Perilaku-perilaku tersebut memang dianggap tidak baik oleh para orangtua dan pendidik, tetapi justru mereka memperkuat berkembangnya konsep diri yang negatif itu dengan kekerasan, baik fisik seperti memukul untuk membuat anak mau melakukan sesuatu, kekerasan emosional seperti menghina anak di depan kelas. Model ini diperkuat orang dewasa seperti orangtua, guru dan orang dewsa lainnya dengan keyakinan bahwa kekerasan yang mereka terima dulu itulah yang membuat mereka menjadi orang yang berguna saat ini.

Banyak faktor yang mempengaruhi tumbuh dan kembang anak, termasuk pembentukan konsep diri anak. Bronfenbrener dalam Santrock (1999), seorang pencetus teori ekologi mengungkapkan bahwa lingkungan sosiokultural anak sangat mempengaruhi perkembangan anak. Lingkungan itu dimulai dari lingkungan yang sangat dekat dengan anak yaitu hubungannya dengan keluarga, meluas pada teman sebaya, sekolah, dan masyarakat; bagaimana pengalaman yang anak alami dalam lingkungan-lingkungan tersebut; bagaimana interaksi antara lingkungan-lingkungan itu mempengaruhi anak dan kemudian meluas pada bagaimana kebudayaan dalam lingkungan tempat tinggal anak mempengaruhi perkembangannya. Apabila lingkungan disekitar anak di Kota Kupang penuh dengan kekerasan baik yang dilakukan orangtua, guru dan masyarakat, tentunya akan mempengaruhi perkembangan kepribadiannya. Apa yang anak Kota Kupang lihat, dengar mengenai sikap orang lain terhadap dirinya bahkan apa yang dirasakan akibat perlakuan orang lain, akan dievaluasi anak menjadi suatu konsep tentang dirinya.

Secara khusus penelitian ini mengambil lingkungan etnis sebagai salah satu objek amatan. Peneliti ingin mengetahui bagaimana perbedaan lingkungan tempat tinggal anak ini mempengaruhi konsep diri yang anak kembangkan.

Berdasarkan fenomena  yang disajikan diatas, menarik bagi penulis untuk mengetahui lebih lanjut tentang :

  1. Apakah ada hubungan antara persepsi anak terhadap kekerasan dan pola asuh otoriter dengan konsep diri ditinjau dari lingkungan etnis Sabu dan Rote di Kota Kupang.
  2. Apakah ada hubungan antara persepsi anak terhadap kekerasan dengan konsep diri ditinjau dari lingkungan etnis Sabu dan Rote di Kota Kupang.
  3. Apakah ada hubungan antara pola asuh otoriter dengan konsep diri di tinjau dari lingkungan etnis Sabu dan Rote di Kota Kupang.
  4. Apakah ada perbedan konsep diri antara anak yang tinggal di lingkungan etnis Sabu dan Rote.

Teori utama mengenai konsep diri yang dipakai adalah teori konsep diri yang dikemukakan oleh Shalvelson. Menurut Shalvelson  (Marsh et al., 1983) konsep diri adalah persepsi individu tentang dirinya yang terbentuk dari pengalaman individu dalam lingkungan, interaksi dengan orang-orang terdekatnya (significant others) dan atribut-atribut yang dikenakan padanya. Konsep diri menurut Fitts dalam Tarakanita (2001) adalah bagaimana diri diamati, dipersepsi dan dialami oleh individu tersebut. Didalam konsep diri juga mengandung unsur penilaian dan mempengaruhi tingkah laku seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain. Lanjutnya Fitts juga mengemukakan bahwa konsep diri merupakan suatu konstruk sentral untuk mengenal dan mengerti individu yang erat hubungan dengan dunia fenomenalnya, sehingga dalam dunia fenomenalnya aspek yang memegang peranan penting adalah dirinya sendiri.

Penelitian ini menggunakan model konsep diri dari Shalvelson, Hubner dan Stanton. Berikut model konsep diri umum yang diajukan Shavelson, Hubner dan Stanton dalam Song (1984) :

Gambar 1. Model Konsep Diri oleh Shavelson,

Hubner dan Stanon (Song, 1984)

Bagi Shalvelson (Marsh et al., 1984), konsep diri ini sangat multi dimensi dan bergerak secara hirarki. Dimulai dari konsep diri akademik (matematika dan membaca) dan kemudian ke konsep diri secara umum. Konsep diri ini kurang multifaced seiring dengan dengan perkembangan individu, bayi menjadi dewasa dan tergantung juga dengan sistem lain yang individu terima dalam kelompok.

Shavelson menetapkan skala yang lengkap mengenai konsep diri (Marsh et al., 1983) . Secara ringkas aspek konsep diri tersebut dapat dilihat dari tabel berikut :

ASPEK DESKRIPSI
Kemampuan fisik Kemampuan dan minat yang berkaitan dengan olahraga maupun aktivitas fisik lainnya
Penampilan Fisik Sejauh mana seseorang memiliki fisik yang menarik.
Hubungan dengan lawan jenis Interaksi dengan sahabat seumur yang memiliki jenis kelamin berbeda
Hubungan dengan sesama jenis Interaksi dengan sahabat seumur yang memiliki kesamaan jenis kelamin
Hubungan antara anak dengan orangtua Interaksi anak dengan orangtua
Matematika Kemampuan, rasa suka, dan ketertarikan pada matematika dan ilmu logika
Verbal Kemampuan, rasa suka dan ketertarikan pada bahasa, khususnya bahasa inggris dan membaca
Sekolah secara umum Kemampuan, rasa suka dan ketertarikan pada subjek-subjek yang berkaitan dengan sekolah
Konsep diri secara umum Kemampuan untuk menghargai diri sendiri dan membangun rasa percaya diri

Tabel 1.  Aspek Konsep Diri menurut Shalvelson

Menurut Burns (1979), konsep diri dipengaruhi oeh beberapa faktor yaitu bagaimana diri fisiknya dan bagaimana anak mencitra kondisi fisiknya; umpan balik orang-orang terdekat anak seperti orangtua, teman sebaya dan guru juga praktek membesarkan anak atau pola asuh.

Praktek-pratek pengasuhan dan hubungan anak baik dengan teman sebaya maupun guru serta masyarakat yang diwarnai kekerasan di Kota Kupang mempengaruhi perkembangan konsep diri anak. Menurut Walgito (2002) persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan, yakni merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera.. Jadi apa yang dialami oleh anak selama 11 tahun merupakan stimulus awal yang kemudian diorganisasikan dan diinterpretasikan sehingga individu menyadari, mengerti tentang apa yang diindera dan memunculkan respon (Branca, dalam Walgito, 2002). Anak di Kota Kupang, dengan inderanya menangkap stimulus yang ada berupa kata-kata makian, penghinaan, pemukulan dan perbuatan kasar lainnya, mengorganisasikan dan menginterpretasikannya sehingga anak menyadari apa yang dialaminya sebagai bentuk kasih sayang ataukah penolakan orangtua maupun lingkungan terhadapnya, kemudian memunculkan respon dengan mengembangkan konsep diri yang positif ataukan negatif.

Kekerasan terhadap anak biasa dikenal secara global sebagai “child abuse”. Kekerasan pada anak adalah tindakan melukai yang berulang-ulang secara fisik dan emosional terhadap anak yang ketergantungan, melalui desakan hasrat, hukuman badan yang tak terkendali, degradasi dan cemoohan permanen atau kekerasan seksual, biasanya dilakukan para orangtua atau pihak lain yang seharusnya merawat anak (Baker dalam Huraerah, 2007). Banton (2004) mendefenisikan kekerasan terhadap anak sebagai perilaku-perilaku yang merugikan anak-anak dalam kondisi apapun, atau kegagalan dalam menyediakan kebutuhan  dasar anak. Menurut Richard Gelles dalam Huraerah (2007), kekerasan terhadap anak adalah perbuatan disengaja yang menyebabkan kerugian atau bahaya terhadap anak-anak secara fisik maupun emosional.

Persepsi anak terhadap kekerasan adalah proses pemaknaan stimulus yang di tangkap anak lewat inderanya (melihat, mendengar, merasakan kekerasan yang dilakukan orang-orang yang seharusnya mengasihi nya). Proses pemaknaan inilah yang menjadi dasar perilaku anak.

Skala perespsi anak terhadap kekerasan ini dikembangkan berdasarkan aspek-aspek dibawah ini :

  1. Kekerasan merupakan pewarisan kekerasan antar generasi (intergenerational transmission of violance).

Menurut Gelles (Huraerah, 2007), pewarisan kekerasan antar generasi adalah perilaku kekerasan dipelajari seorang anak dari orangtuanya  kemudian mengembangkannya ketika dewasa/ menjadi orangtua nantinya. Orangtua dulunya menjadi patuh, disiplin dan berhasil karena di perlakukan keras oleh orangtua mereka masing-masing, sehingga mereka meyakini bahwa cara pendidikan yang mereka terima dahulu adalah cara yang efektif untuk menghasilkan generasi yang unggul.

  1. Kekerasan fisik

Menurut Tampubulon, et al (2003) kekerasan fisik adalah semua tindakan yang mengakibatkan luka fisik pada anak. Kekerasan fisik itu meliputi menampar, menjewer, mencubit, memukul dengan dahan pohon, dengan tongkat, cambuk atau benda keras lainnya, melempar dengan benda keras, mendorong, menendang, membenturkan anak ke dinding, mengikat anak di pohon, push up, jalan dengan lutut dan dijemur.

  1. Kekerasan emosional

Perkembangan anak

Posted in Bunga Rampai Psikologi on Maret 14, 2010 by mediapsikologi

Proses tumbuh dan berkembang adalah proses yang kompleks dari kehidupan manusia karena berbicara mengenai seluruh keadaan manusia mulai dari sejak dalam kandungan hingga meninggal. Proses tumbuh dan berkembang ini meliputi aspek fisik, emosi dan sosial.

Hal penting yang perlu dipahami mengenai proses tumbuh kembang:

  1. Perkembangan ditandai dengan pertumbuhan. Perkembangan adalah proses pertumbuhan baik fisik, kognisi, psikis maupun sosial emosi nya. Proses perubahan mulai dari pembuahan sampai pada kehidupan yang lebih kompleks. Untuk pendidik harus jeli melihat perubahan-perubahan anak yang progresif (maju). Perubahan itu menandai bahwa anak berkembang. Sebaliknya, terjadi pula regresi (menurun) perkembangan atau stagnasi (tidak menunjukkan perubahan) perkembangan.
  2. Setiap tahapan memiliki “masa kritis”. Hal lain yang perlu mendapat perhatian khusus adalah pemahaman bahwa setiap tahapan perkembangan manusia memiliki “masa kritis” yang harus dilewati. Masa kritis ini jika penanganannya salah akan membuat perkembangan menjadi menyimpang dari tahapan normal.

“masa kritis”usia dini (0-6 tahun) yang perlu diperhatikan :

  1. Masa egosentris : pada usia ini anak sangat perpusat pada diri sendiri, mau menang sendiri, selalu ingin mengunggulkan diri. Ini menjadi cikal bakal tumbuhnya identitas diri. Orang dewasa seperti orangtua, saudara harus mengarahkan rasa egosentris ini dengan memperkenalkan aturan-aturan yang disepakati keluarga dengan tetap menjadi dirinya sendiri.
  2. Masa menentang : karena rasa “egosentris” itu membuat anak pada umumnya menunjukkan sikap atau perilaku menentang atau melawan. Dan biasanya mengahadapi hal ini, orangtua akan mendidik dengan keras, sehingga mengakibatkan anak tumbuh menjadi pribadi yang keras kepala.
  3. Masa imitasi : usia ini adalah usia meniru. Anak akan meniru sikap, perilaku dan kata-kata orang di sekitarnya. Sehingga perlu diwaspadai karena anak akan meniru semua perilaku baik buruk maupun yang baik.

“masa kritis” usia 12-18 tahun yang perlu diperhatikan :

  1. a. Masa pertentangan : diusia ini keinginan untuk mandiri begitu tinggi, sehingga timbul rasa selalu ingin melakukan hal-hal yang mereka anggap baik. Biasanya  menuntut orangtua untuk memahami. Seringkali terjadi pertentangan antara remaja dan orangtua. Menangani masalah ini, orangtua tidak harus berlaku keras dan otoriter. Memberi pemahaman yang baik tentang keinginan dan tidak perlu mengkonfrontasi mereka dan beri pemahaman mengenai bagaimana mengambil keputusan yang saling menghormati hak orangtua maupun remaja.
  2. b. Masa kebingungan : perubahan dari segi fisik dan berakibat pada segi psikis remaja, menimbulkan banyak gejolak dalam diri remaja. Seringkali anak bingung dan terjebak dalam situasi itu. Menghadapi perubahan tersebut, orangtua perlu memberi pengertian tentang perkembangannya, dan selalu membimbing dengan kasih sayang.
  3. c. Masa pembuktian diri : usia ini, keinginan remaja untuk membuktikan diri tinggi, sehingga orangtua perlu melihat dan memfasilitasi keinginan tersebut.
  1. Perkembangan merupakan kematangan belajar

Kematangan menunjukkan adanya kesiapan untuk berubah. Anak yang sudah matang dalam hal berbicara, memiliki perbendaharaan kaya yang lebih banyak, sehingga dapat berkomunikasi dengan lancar.

  1. Pola perkembangan anak dapat diprediksi

Perkembangan anak dapat diprediksi sebab setiap anak memiliki kesamaan dalam perkembangan secara umum. Sehingga dengan mengetahui tahapan perkembangan anak sesuai dengan umurnya, sangat membantu orangtua mengembangkan pendidikan yang tepat sasaran.

  1. Perkembangan anak berbeda satu sama yang lain

Walaupun setiap perkembangan anak dapat diramalkan, ada pula tahapan perkembangan yang menunjukkan irama dan tempo yang berbeda dari setiap anak. Orangtua harus awas dengan keadaan anak-anak satu persatu.