Menulis itu sebenarnya mudah…

Menulis adalah pekerjaan sederhana yang sudah kita ketahui sejak masa kanak-kanak dulu.
Bahkan salah satu gerakan motorik halus manusia sejak bayi adalah geraka menggenggam. Dan tahu apa reaksi orangtua untuk gerakan refleks bayi tersebut?
Yap…memberi sesuatu untuk digenggam seperti jarinya. Beranjak besar, gerakan refleks itu dilanjutkan dengan memberi pensil atau balpoint. Sejak kecil, kita (anak) sebenarnya sudah dimotivasi untuk menulis. Sesuatu ransangan dini yang sebenarnya luar biasa.
Karena semua gerakan motorik, baik halus maupun kasar pada masa bayi dan kanak-kanak sangat mempengaruhi perkembangan otak anak.
Memasuki masa sekolah, Pra-TK, TK dan SD tahun pertama, kegiatan tulis menulis menjadi prioritas. Anak Pra_TK (umur 3-4 tahun) sekarang sudah dibekali dengan kemampuan menulis. Meningkat ke masa TK, menulis semua huruf dan mengenal hurus sudah menjadi target utama. Dan dengan bangga baik guru maupun orangtua menjadikan kemampuan menulis (& membaca) menjadi indikator kecerdasan anak. Setelah memasuki masa SD, kelas 1, menulis menjadi prioritas utama. Anak kelas 1 SD yang tidak memiliki kemampuan dalam menulis huruf dan angka menjadi beban khusus bagi para guru SD kelas 1.
Memasuki SD…kemampuan menulis dan membaca menjadi prioritas utama. Sejak itu semua mata pelajaran anak berkaitan dengan menulis…mencatat apa yang ditulis di papan tulis, menghafal dan menunggu di tes yang jawabannya sesuai dengan isi tulisan dalam buku. Belum lagi ada kegiatan menulis indah, yang penekanannya adalah harus belajar menulis serapi dan seindah mungkin.
Hm…intinya, sebenarnya semua yang berhubungan dengan tulis menulis sebenarnya sudah menjadi hal yang familiar di kehidupan kita, khususnya Indonesia.
Hal ini berbeda dengankeadaan di negara maju seperti Australia (yang paling dekat dengan INA), pekerjaan tulis menulis adalah kegiatan yang baru dilakukan setelah memasuki SD. Anak Balita dibiarkan memanfaatkan waktunya dengan bermain dan menemukan sesuatu yang berarti untuk membangun pengertiannya. Balita diberi ransangan dengan bermain untuk pengembangan motorik, kognisi dan sosialnya. Fungsi orang dewasa sebagai pembimbing atau fasilitator saja bukan sumber pengetahuan. Orang dewasa tidak mendikte sesuatu untuk membangun pengertian pada diri anak.
Berkaitan dengan kegiatan menulis dan membaca, hal pertama yang ditanam adalah bagaimana anak dapat menulis dan membaca, tetapi menanamkan kesadaran tentang pentingnya menulis dan membaca; anak diberi rasa mencintai buku sebagai sumber pengetahuan dan menulis sebagai sarana menyalurkan pengetahuan.
Rasa cinta terhadap dunia sastra iniah yang membuat orang diluar sana lebih produktif dibandingkan dengan kita. Penekanan kita hanya kuantitas seperti mampu menulis pada umur yang lebih muda, tuliasannya sudah rapi dan indah. Sebaliknya bukan penekanan pada kualitas seperti rasa cinta kepada dunia tulis menulis.
At least, jadilah kami yang kemudian mengalami kesulitan ketika membuat paper saat memasuki bangku sekolah yang lebih tinggi seperti di Universitas. Bukan masa sekolah menengah, karena penekanan segi kuantitas ini ternyata masih terus berjalan. Mendengar, mendiikte dan mengulang yang didikte, tidak diajar berpikir kritis dan sistematis. Kesulitan menggoda saat model belajar mulai berbeda saat di bangku kuliah. Membuat laporan, paper, resume menjadi hal yang luar biasa sulit bagi kita.
Dan hal negative yang timbul untuk mengatasi hal ini adalah “copy paste” atau plagiat. Meng-copy paste tugas teman, mengambil artikel dari internet yang ditulis orang tanpa menyebutkan sumber lalu meng-copy-nya tanpa melakukan perubahan, bahkan yang lebih parah adalah mengambil karya orang lain dan diakui sebagai karya sendiri. Belum lagi beberapa model baru seperti meminta jasa orang lain untuk menulis baginya.
Hufff, banyak sekali hal negative yang terjadi hanya karena sebuah masalah kecil, yaitu tidak punya kemampuan untuk menulis.
Menulis itu sebenarnya mudah. Ini berkaitan dengan keahlian. Artinya sesuatu yang semakin dilatih, semakin bagus. Kemampuan berpikir sistematis pun dapat di latih. Di bawah ini beberapa tips tentang bagaimana menulis :
1. Yakinkan diri Anda bahwa Anda mampu membuat karya yang bagus.
2. Katakan pada diri anda bahwa Anda Bisa
3. Mulailah memaksakan dirii Anda untuk membaca. Jika hal itu masih sangat sulit, mulai dengan sesuatu yang Anda senangi. Misalnya, jika Anda suka membaca novel atau cerpen atau komik atau artiike atau humor atau majalah otomotif atau buku masakan atau cerita-cerita bijak…mulailah dengan membaca hal tersebut. Usahakan membacanya setiap hari.
4. Komitment dengan jadwal yang Anda atur…usahakan setiap hari membaca 1 tulisan.
5. Perbanyak jumlah bacaan yang Anda baca ketika sudah mulai terbiasa membaca.
6. Biasakan buat reading report untuk semua yang kita baca. Termasuk untuk novel atau artikel-artikel.
7. Coba mulai menulis dengan topic-topik yang kita senangi terlebih dahulu.
8. Minta orang lain untuk membaca karya kita dan member masukan.
9. Berlatihlah setiap saat.
10. Selamat mencoba……………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: