Jurnal Perkembangan

THE RELATIONSHIP BETWEEN CHILDREN’S PERCEPTION OF VIOLENCE

AND AUTHORITARIAN PARENTING STYLE WITH SELF CONCEPT

IN SABU AND ROTE ETHNIC ENVIRONMENTS

IN KOTA KUPANG

Bunga[1], Ekowarni[2]

Program Magister Psikologi

Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada

ABSTRACT

One of the impacts of child abuse is negative self concept. In the fact, both of parents or teachers ways to educate their children used by a violence. This research   examines the relation between children perception of violence and authoritarian parenting style with self concept viewed by Sabu and Rote ethnic environment at Kota Kupang. The sample is the children live in ethnic Sabu and Rote environment, it has also Sabu and Rote ethnic (N= 150, age 11-12). The method used in the research is the scale of children’s perception of violence, the scale of authoritarian of parenting style and the scale self concept.

The result showed that children perception of violence and authoritarian of parenting style together influence the self concept (F= 5.311, R2= 0.067, p = 0.006). t-test result showed no self concept differences between children live in Sabu and Rote ethnic environments (t hitung = 0.932 dan t tabel = 1,640).

Key words : Children’s perception of violence, Authoritarian parenting style, Self- concept


[1] Program Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada

[2] Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada

Pengantar

Salah satu tugas perkembangan yang harus diselesaikan pada tahapan kanak-kanak adalah konsep diri anak. Konsep diri memiliki peran yang cukup penting dalam penentuan  sikap, perilaku dan reaksi anak terhadap orang lain dan lingkungan sekitarnya.

Banyak anak yang mengembangkan dengan konsep diri yang cenderung negatif. Namun sayang orangtua, guru dan orang dewasa yang bertanggung untuk membimbing mereka tidak menyadari hal itu.

Konsep diri yang cenderung negatif ini banyak terlihat pada anak-anak di Kota Kupang. Ini tampak jelas ketika anak mulai melebarkan sayap ke Sekolah Dasar. Anak-anak di Kota Kupang sangat pemalu, tidak percaya diri, penakut, cepat putus asa, selalu mengatakan “tidak”, selalu mengatakan saya “tidak dapat/ mampu”, mengatakan “saya tidak berani”.

Perilaku-perilaku tersebut memang dianggap tidak baik oleh para orangtua dan pendidik, tetapi justru mereka memperkuat berkembangnya konsep diri yang negatif itu dengan kekerasan, baik fisik seperti memukul untuk membuat anak mau melakukan sesuatu, kekerasan emosional seperti menghina anak di depan kelas. Model ini diperkuat orang dewasa seperti orangtua, guru dan orang dewsa lainnya dengan keyakinan bahwa kekerasan yang mereka terima dulu itulah yang membuat mereka menjadi orang yang berguna saat ini.

Banyak faktor yang mempengaruhi tumbuh dan kembang anak, termasuk pembentukan konsep diri anak. Bronfenbrener dalam Santrock (1999), seorang pencetus teori ekologi mengungkapkan bahwa lingkungan sosiokultural anak sangat mempengaruhi perkembangan anak. Lingkungan itu dimulai dari lingkungan yang sangat dekat dengan anak yaitu hubungannya dengan keluarga, meluas pada teman sebaya, sekolah, dan masyarakat; bagaimana pengalaman yang anak alami dalam lingkungan-lingkungan tersebut; bagaimana interaksi antara lingkungan-lingkungan itu mempengaruhi anak dan kemudian meluas pada bagaimana kebudayaan dalam lingkungan tempat tinggal anak mempengaruhi perkembangannya. Apabila lingkungan disekitar anak di Kota Kupang penuh dengan kekerasan baik yang dilakukan orangtua, guru dan masyarakat, tentunya akan mempengaruhi perkembangan kepribadiannya. Apa yang anak Kota Kupang lihat, dengar mengenai sikap orang lain terhadap dirinya bahkan apa yang dirasakan akibat perlakuan orang lain, akan dievaluasi anak menjadi suatu konsep tentang dirinya.

Secara khusus penelitian ini mengambil lingkungan etnis sebagai salah satu objek amatan. Peneliti ingin mengetahui bagaimana perbedaan lingkungan tempat tinggal anak ini mempengaruhi konsep diri yang anak kembangkan.

Berdasarkan fenomena  yang disajikan diatas, menarik bagi penulis untuk mengetahui lebih lanjut tentang :

  1. Apakah ada hubungan antara persepsi anak terhadap kekerasan dan pola asuh otoriter dengan konsep diri ditinjau dari lingkungan etnis Sabu dan Rote di Kota Kupang.
  2. Apakah ada hubungan antara persepsi anak terhadap kekerasan dengan konsep diri ditinjau dari lingkungan etnis Sabu dan Rote di Kota Kupang.
  3. Apakah ada hubungan antara pola asuh otoriter dengan konsep diri di tinjau dari lingkungan etnis Sabu dan Rote di Kota Kupang.
  4. Apakah ada perbedan konsep diri antara anak yang tinggal di lingkungan etnis Sabu dan Rote.

Teori utama mengenai konsep diri yang dipakai adalah teori konsep diri yang dikemukakan oleh Shalvelson. Menurut Shalvelson  (Marsh et al., 1983) konsep diri adalah persepsi individu tentang dirinya yang terbentuk dari pengalaman individu dalam lingkungan, interaksi dengan orang-orang terdekatnya (significant others) dan atribut-atribut yang dikenakan padanya. Konsep diri menurut Fitts dalam Tarakanita (2001) adalah bagaimana diri diamati, dipersepsi dan dialami oleh individu tersebut. Didalam konsep diri juga mengandung unsur penilaian dan mempengaruhi tingkah laku seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain. Lanjutnya Fitts juga mengemukakan bahwa konsep diri merupakan suatu konstruk sentral untuk mengenal dan mengerti individu yang erat hubungan dengan dunia fenomenalnya, sehingga dalam dunia fenomenalnya aspek yang memegang peranan penting adalah dirinya sendiri.

Penelitian ini menggunakan model konsep diri dari Shalvelson, Hubner dan Stanton. Berikut model konsep diri umum yang diajukan Shavelson, Hubner dan Stanton dalam Song (1984) :

Gambar 1. Model Konsep Diri oleh Shavelson,

Hubner dan Stanon (Song, 1984)

Bagi Shalvelson (Marsh et al., 1984), konsep diri ini sangat multi dimensi dan bergerak secara hirarki. Dimulai dari konsep diri akademik (matematika dan membaca) dan kemudian ke konsep diri secara umum. Konsep diri ini kurang multifaced seiring dengan dengan perkembangan individu, bayi menjadi dewasa dan tergantung juga dengan sistem lain yang individu terima dalam kelompok.

Shavelson menetapkan skala yang lengkap mengenai konsep diri (Marsh et al., 1983) . Secara ringkas aspek konsep diri tersebut dapat dilihat dari tabel berikut :

ASPEK DESKRIPSI
Kemampuan fisik Kemampuan dan minat yang berkaitan dengan olahraga maupun aktivitas fisik lainnya
Penampilan Fisik Sejauh mana seseorang memiliki fisik yang menarik.
Hubungan dengan lawan jenis Interaksi dengan sahabat seumur yang memiliki jenis kelamin berbeda
Hubungan dengan sesama jenis Interaksi dengan sahabat seumur yang memiliki kesamaan jenis kelamin
Hubungan antara anak dengan orangtua Interaksi anak dengan orangtua
Matematika Kemampuan, rasa suka, dan ketertarikan pada matematika dan ilmu logika
Verbal Kemampuan, rasa suka dan ketertarikan pada bahasa, khususnya bahasa inggris dan membaca
Sekolah secara umum Kemampuan, rasa suka dan ketertarikan pada subjek-subjek yang berkaitan dengan sekolah
Konsep diri secara umum Kemampuan untuk menghargai diri sendiri dan membangun rasa percaya diri

Tabel 1.  Aspek Konsep Diri menurut Shalvelson

Menurut Burns (1979), konsep diri dipengaruhi oeh beberapa faktor yaitu bagaimana diri fisiknya dan bagaimana anak mencitra kondisi fisiknya; umpan balik orang-orang terdekat anak seperti orangtua, teman sebaya dan guru juga praktek membesarkan anak atau pola asuh.

Praktek-pratek pengasuhan dan hubungan anak baik dengan teman sebaya maupun guru serta masyarakat yang diwarnai kekerasan di Kota Kupang mempengaruhi perkembangan konsep diri anak. Menurut Walgito (2002) persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan, yakni merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera.. Jadi apa yang dialami oleh anak selama 11 tahun merupakan stimulus awal yang kemudian diorganisasikan dan diinterpretasikan sehingga individu menyadari, mengerti tentang apa yang diindera dan memunculkan respon (Branca, dalam Walgito, 2002). Anak di Kota Kupang, dengan inderanya menangkap stimulus yang ada berupa kata-kata makian, penghinaan, pemukulan dan perbuatan kasar lainnya, mengorganisasikan dan menginterpretasikannya sehingga anak menyadari apa yang dialaminya sebagai bentuk kasih sayang ataukah penolakan orangtua maupun lingkungan terhadapnya, kemudian memunculkan respon dengan mengembangkan konsep diri yang positif ataukan negatif.

Kekerasan terhadap anak biasa dikenal secara global sebagai “child abuse”. Kekerasan pada anak adalah tindakan melukai yang berulang-ulang secara fisik dan emosional terhadap anak yang ketergantungan, melalui desakan hasrat, hukuman badan yang tak terkendali, degradasi dan cemoohan permanen atau kekerasan seksual, biasanya dilakukan para orangtua atau pihak lain yang seharusnya merawat anak (Baker dalam Huraerah, 2007). Banton (2004) mendefenisikan kekerasan terhadap anak sebagai perilaku-perilaku yang merugikan anak-anak dalam kondisi apapun, atau kegagalan dalam menyediakan kebutuhan  dasar anak. Menurut Richard Gelles dalam Huraerah (2007), kekerasan terhadap anak adalah perbuatan disengaja yang menyebabkan kerugian atau bahaya terhadap anak-anak secara fisik maupun emosional.

Persepsi anak terhadap kekerasan adalah proses pemaknaan stimulus yang di tangkap anak lewat inderanya (melihat, mendengar, merasakan kekerasan yang dilakukan orang-orang yang seharusnya mengasihi nya). Proses pemaknaan inilah yang menjadi dasar perilaku anak.

Skala perespsi anak terhadap kekerasan ini dikembangkan berdasarkan aspek-aspek dibawah ini :

  1. Kekerasan merupakan pewarisan kekerasan antar generasi (intergenerational transmission of violance).

Menurut Gelles (Huraerah, 2007), pewarisan kekerasan antar generasi adalah perilaku kekerasan dipelajari seorang anak dari orangtuanya  kemudian mengembangkannya ketika dewasa/ menjadi orangtua nantinya. Orangtua dulunya menjadi patuh, disiplin dan berhasil karena di perlakukan keras oleh orangtua mereka masing-masing, sehingga mereka meyakini bahwa cara pendidikan yang mereka terima dahulu adalah cara yang efektif untuk menghasilkan generasi yang unggul.

  1. Kekerasan fisik

Menurut Tampubulon, et al (2003) kekerasan fisik adalah semua tindakan yang mengakibatkan luka fisik pada anak. Kekerasan fisik itu meliputi menampar, menjewer, mencubit, memukul dengan dahan pohon, dengan tongkat, cambuk atau benda keras lainnya, melempar dengan benda keras, mendorong, menendang, membenturkan anak ke dinding, mengikat anak di pohon, push up, jalan dengan lutut dan dijemur.

  1. Kekerasan emosional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: