Novel : San Pek Eng Tay

Wajah

Wajah : San Pek Eng Tay

Judul : San Pek Eng Tay : Romantika Emansipasi Seorang Perempuan

Pengarang          : OKT

Penerbit              : Yayasan Obor Indonesia

Halaman              : 302 hal

Tahun terbit       : 1990

Novel ini di rekomendasikan oleh seorang teman baik. Namun sebelumnya, saya pernah mendengar Judul novel ini dari sebuah drama seri Cina.

Kisah kehidupan San Pek Eng tay ini merupakan salah satu karya cina yang sangat mendunia. Cerita ini merupakan cerita rakyat sehingga banyak versi yang beredar mengenai kisah ini.  Mulai dari yang kisah roman percintaan sampai pada perjuangan wanita menggangkat hak nya di negeri tirai bamboo ini.

Di Indonesia sendiri bahkan mengalami enkulturasi dengan kebudayaan Indonesia. Saduran pertama di tulis pertama oleh Boen Sing Hoo berjudul “tjerita Daholoe Kala di Negeri Tjina, Terpoengot dari Tjerita’an Boekoe Menjanjian Tjina Sam, tahun 1885.

Menurut catatan sejarah, kisah ini terjadi pada masa pemerintahan raja Bok Tee, Raja kelima dinasti Chin Timur yang memerintah tahun 345-357 Masehi.

Masa kehidupan mereka masuk dalam zaman “enam dinasti” atau “zaman yang amat gelap gulita” yang berlangsung dari tahun 220-589. Pada zaman ini terjadi peperangan dan perebutan kekuasaan terjadi silih berganti.

Pada masa ini, mulai berkembang sekolah-sekolah tetapi hanya terbatas bagi kaum laki-laki dan kaum wanita hanya boleh mengenyam pendidikan dengan les dirumah, dan itu pun hanya sampai kelas menengah, tidak boleh bergaul dengan laki-laki.

Pada masa mereka ini juga mulai berkembang teknologi pembuatan kertas sehingga diduga San Pek dan Eng telah membaca karya-karya seperti Ngo Keng (lima kalsik), Su si (empat kitab), Tao They Ching, dll.

Versi yang saya baca adalah gubahan dari seorang pengarang Indonesia yang mendedikasikan waktunya untuk menulis ulang cerita ini bagi kaum Novelist Indonesia. Versi yang satu ini menampilkan dua tema diantaranya, yaitu kisah percintaan yang romatik dan dramatis serta kisah kegigihan seorang wanita menmbus dinding kebudayaan yang radikal.

Kisah ini menceritakan kehidupan Eng Tay. Seorang putri tunggal dari mantan Bupati. Seorang gadis dengan perawakan cantik, cerdas dan sangat santun berumur 21 tahun. Telah menghabiskan waktunya untuk belajar di rumah dan telah mencapai tingkat paling tinggi yang di peruntukan bagi perempuan. Selanjutnya Eng Tay hanya akan belajar menyulam dan tidak boleh bergaul dengan siapapun sampai seseorang datang memintanya menjadi istri. Eng Tay tidak ingin kehidupannya berakhir hanya sampai di situ, sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku bagi perempuan pada masa itu. Eng Tay ingin belajar lebih tinggi lagi. Keinginannya begitu kuat, sehingga merencanakan untuk menyamar menjadi laki-laki agar dapat belajar lebih tinggi lagi.

Tentunya hal ini meresahkan kedua orangtuanya. Disatu pihak, mereka menghormati adat istiadat, tetapi juga di pihak lain anak mereka Cuma satu-satunya yaitu Eng Tay. Tapi akhirnya, setelah meyakinkan orangtua nya dan dengan kesepakatan untuk tetap menjaga kehormatannnya sebagai perempuan, akhirnya Eng Tay berangkat di temani abdinya, Gin Sim, yang juga menyamar sebagai laki-laki.

Dalam perjalanannya Ia bertemu dengan San Pek seorang pemuda dari dusun Nio di                                            Hwe-ke yang juga ingin belajar di tempat yang sama yaitu di Hang Ciu, pada seorang guru tua bernama Ciu Su Cian di Ni San. Sejak saat itu mereka menjadi “saudara”.

Di asrama pun mereka menjadi teman sekamar dan hidup bersama selama 3 tahun. Selama kebersamaan mereka berbagi suka dan duka, tidak terpikirkan oleh San Pek bahwa Eng Tay adalah seorang perempuan cantik. Bahkan tanda-tanda pun tidak di pahami oleh San Pek.

Tahun ketiga, setelah banyak yang dipelajari, Eng Tay dipanggil pulang orangtuanya yang rindu setengah mati padanya. Sebelum pergi, Eng Tay menghadap istri gurunya (Ho Si) dan menceritakan kebenarannya bahwa dia seorang perempuan dan menitipkan Kupu-kupu kemala untuk diberikan kepada San Pek dan memohon Ho Si menjaadi perantara cinta mereka.

5 hari berlalu, Eng Tay dengan  gundah menanti San Pek yang berjanji akan mengunjunginya dalam waktu 5 hari kedepan. Dan dalam 5 hari itu juga datang seorang perantara dari keluarga terhormat, mantan seorang gubernur yang hendak menjodohkan Eng Tay dengan anak laki-laki mereka. Niat itu disambut baik oleh orangtuanya dan tanpa membicarakan lebih lanjut, kedua orangtuanya setuju akan perjodohan tersebut.

Jelas Eng Tay menolak setelah mendengar kabar dari abdinya Gin Sim dan ketika ibunya datang memberitahukan. Sehingga terjadilah keteganan diantara Ayah-Ibu dan anak. Eng Tay menolak mentah-mentah perjodohan tersebut sementara orangtuanya sudah terlanjur mengiyakan dan memberi persayaratan “tertentu” yang sudah disanggupi pihak laki-laki.

Eng Tay masih setia pada janji San Pek yang akan datang, namun telah terjadi perjodohan dirinya dengan putra keluarga terhormat. San Pek datang juga dan akhirnya bertemu Eng Tay dan mencertiakan semua hal tersebut.

Bukan main sakitnya hati San Pek mendengar perihal tersebut. Pulang dengan kondisi yang sungguh tidak baik. Dan disitulah awal ketidak berdayaan San Pek. Ia jatuh sakit. Dan berita itu sampai ketelinga Eng Tay yang telah berjanji tidak akan menikah dengan siapa pun kecuali San Pek.

Abdi San Pek mengirim surat dan menyampaikan keadaan tuan mudanya kepada Eng Tay. Dengan berat hati akhirnya Eng Tay menulis surat balasan.

Setelah membaca surat dari Eng Tay, San Pek merasa ini adalah kehendak TUhan bahwa mereka tidakbisa bersatu. Mengetahui ajalnya sudah dekat, San Pek berpesan agar di kuburkan di Ow Kio Tin, tempat dimana terdapat kuburan sepasang suami istri. Di tempat ini mereka pernah mengikrarkan janji bahwa suatu saat nisan keduanya akan tertulis disana.

Tengah hari, abdi San Pek datang untuk mengabari kematian San Pek kepada Eng Tay. Kaget dan kehilangan arah Eng Tay mendengar kabar tersebut. Dengan ijin orangtua, Eng Tay pergi melayat di dusun Nio. Eng Tay sangat bersedih. Setelah penguburannya, Eng Tay pulang ke dusun Ciok.

Perjodohan pun tetap dijalankan. Eng Tay bersedia untuk berjodoh. Hari pernikahannya, para perantara dan abdi pihak laki-laki datang menjemput Eng Tay. Ia bersedia ikut dengan syarat mereka harus melewati Ow Kio Tin  dan San Pek meminta ijin ayahnya untuk member penghormatan kepada San Pek ketika melewati kuburannya.

Peristiwa dramatis dan ajaib terjadi ketika Eng Tay sampai di kuburan tersebut. Seakan sudah mmengetahui takdirnya, Eng Tay datang dengan menggunakan pakaian merah-merah dan berdandan cantik. Kuburan San Pek tiba-tiba terbuka, dan menelan Eng Tay bersamanya.

Gin Sim serta para abdi pihak laki tercengang melihat peristiwa tersebut.

Itulah akhir kisah perjuangan seorang wanita mempertahan hak nya sebagai perempuan yang sering berada dalam posisi bub ordinat. Tidak boleh bersekolah tinggi bahkan menentukan jodoh nya sendiri.

Hm……….

Kisah ini mendapat tempat tersendiri di hati saya, bukan soal cinta, tapi soal bagaimana Eng Tay memahami betul apa yang terbaik yang ia butuhkan dan memiliki keberanian untuk mempertahankan nya. Tidak larut dalam kondisi akan kehilangan kenyamanannya sebagai seorang yang di hormati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: