Hubungan persepsi ttg kekerasan dgn Konsep diri

 

THE RELATIONSHIP BETWEEN CHILDREN’S PERCEPTION OF VIOLENCE AND AUTHORITARIAN PARENTING STYLE WITH SELF CONCEPT IN SABU AND ROTE ETHNIC ENVIRONMENTS IN KOTA KUPANG

 Bunga[1], Ekowarni[2]

 Program Magister Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada 

ABSTRACT

             One of the impacts of child abuse is negative self concept. In the fact, both of parents or teachers ways to educate their children used by a violence. This research   examines the relation between children perception of violence and authoritarian parenting style with self concept viewed by Sabu and Rote ethnic environment at Kota Kupang. The sample is the children live in ethnic Sabu and Rote environment, it has also Sabu and Rote ethnic (N= 150, age 11-12). The method used in the research is the scale of children’s perception of violence, the scale of authoritarian of parenting style and the scale self concept.

            The result showed that children perception of violence and authoritarian of parenting style together influence the self concept (F= 5.311, R2= 0.067, p = 0.006). t-test result showed no self concept differences between children live in Sabu and Rote ethnic environments (t hitung = 0.932 dan t tabel = 1,640).


[1] Program Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada

[2] Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada

Pengantar

                Salah satu tugas perkembangan yang harus diselesaikan pada tahapan kanak-kanak adalah konsep diri anak. Konsep diri memiliki peran yang cukup penting dalam penentuan  sikap, perilaku dan reaksi anak terhadap orang lain dan lingkungan sekitarnya.

                Banyak anak yang mengembangkan dengan konsep diri yang cenderung negatif. Namun sayang orangtua, guru dan orang dewasa yang bertanggung untuk membimbing mereka tidak menyadari hal itu.

                Konsep diri yang cenderung negatif ini banyak terlihat pada anak-anak di Kota Kupang. Ini tampak jelas ketika anak mulai melebarkan sayap ke Sekolah Dasar. Anak-anak di Kota Kupang sangat pemalu, tidak percaya diri, penakut, cepat putus asa, selalu mengatakan “tidak”, selalu mengatakan saya “tidak dapat/ mampu”, mengatakan “saya tidak berani”.

                Perilaku-perilaku tersebut memang dianggap tidak baik oleh para orangtua dan pendidik, tetapi justru mereka memperkuat berkembangnya konsep diri yang negatif itu dengan kekerasan, baik fisik seperti memukul untuk membuat anak mau melakukan sesuatu, kekerasan emosional seperti menghina anak di depan kelas. Model ini diperkuat orang dewasa seperti orangtua, guru dan orang dewsa lainnya dengan keyakinan bahwa kekerasan yang mereka terima dulu itulah yang membuat mereka menjadi orang yang berguna saat ini.

Banyak faktor yang mempengaruhi tumbuh dan kembang anak, termasuk pembentukan konsep diri anak. Bronfenbrener dalam Santrock (1999), seorang pencetus teori ekologi mengungkapkan bahwa lingkungan sosiokultural anak sangat mempengaruhi perkembangan anak. Lingkungan itu dimulai dari lingkungan yang sangat dekat dengan anak yaitu hubungannya dengan keluarga, meluas pada teman sebaya, sekolah, dan masyarakat; bagaimana pengalaman yang anak alami dalam lingkungan-lingkungan tersebut; bagaimana interaksi antara lingkungan-lingkungan itu mempengaruhi anak dan kemudian meluas pada bagaimana kebudayaan dalam lingkungan tempat tinggal anak mempengaruhi perkembangannya. Apabila lingkungan disekitar anak di Kota Kupang penuh dengan kekerasan baik yang dilakukan orangtua, guru dan masyarakat, tentunya akan mempengaruhi perkembangan kepribadiannya. Apa yang anak Kota Kupang lihat, dengar mengenai sikap orang lain terhadap dirinya bahkan apa yang dirasakan akibat perlakuan orang lain, akan dievaluasi anak menjadi suatu konsep tentang dirinya.

Secara khusus penelitian ini mengambil lingkungan etnis sebagai salah satu objek amatan. Peneliti ingin mengetahui bagaimana perbedaan lingkungan tempat tinggal anak ini mempengaruhi konsep diri yang anak kembangkan.

Berdasarkan fenomena  yang disajikan diatas, menarik bagi penulis untuk mengetahui lebih lanjut tentang :

  1. Apakah ada hubungan antara persepsi anak terhadap kekerasan dan pola asuh otoriter dengan konsep diri ditinjau dari lingkungan etnis Sabu dan Rote di Kota Kupang.
  2. Apakah ada hubungan antara persepsi anak terhadap kekerasan dengan konsep diri ditinjau dari lingkungan etnis Sabu dan Rote di Kota Kupang.
  3. Apakah ada hubungan antara pola asuh otoriter dengan konsep diri di tinjau dari lingkungan etnis Sabu dan Rote di Kota Kupang.
  4. Apakah ada perbedan konsep diri antara anak yang tinggal di lingkungan etnis Sabu dan Rote.

Teori utama mengenai konsep diri yang dipakai adalah teori konsep diri yang dikemukakan oleh Shalvelson. Menurut Shalvelson  (Marsh et al., 1983) konsep diri adalah persepsi individu tentang dirinya yang terbentuk dari pengalaman individu dalam lingkungan, interaksi dengan orang-orang terdekatnya (significant others) dan atribut-atribut yang dikenakan padanya. Konsep diri menurut Fitts dalam Tarakanita (2001) adalah bagaimana diri diamati, dipersepsi dan dialami oleh individu tersebut. Didalam konsep diri juga mengandung unsur penilaian dan mempengaruhi tingkah laku seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain. Lanjutnya Fitts juga mengemukakan bahwa konsep diri merupakan suatu konstruk sentral untuk mengenal dan mengerti individu yang erat hubungan dengan dunia fenomenalnya, sehingga dalam dunia fenomenalnya aspek yang memegang peranan penting adalah dirinya sendiri.

Penelitian ini menggunakan model konsep diri dari Shalvelson, Hubner dan Stanton. Berikut model konsep diri umum yang diajukan Shavelson, Hubner dan Stanton dalam Song (1984) :

GENERAL SELF CONCEPT
ACADEMIC SELF CONCEPT
PRESENTATION OF SELF
ABILITY SELF CONCEPT
PEER SELF CONCEPT
SOCIAL SELF CONCEPT
CONFIDENCE SELF CONCEPT
FAMILY SELF CONCEPT
ACHIEVEMENT SELF CONCEPT
CLASSROOM SELF CONCEPT
PHYSICAL SELF CONCEPT
NATURAL SCIENCE
SOCIAL STUDIES
LANGUAGE
MATHEMATICS

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Model Konsep Diri oleh Shavelson,

 Hubner dan Stanon (Song, 1984)

 

 

Bagi Shalvelson (Marsh et al., 1984), konsep diri ini sangat multi dimensi dan bergerak secara hirarki. Dimulai dari konsep diri akademik (matematika dan membaca) dan kemudian ke konsep diri secara umum. Konsep diri ini kurang multifaced seiring dengan dengan perkembangan individu, bayi menjadi dewasa dan tergantung juga dengan sistem lain yang individu terima dalam kelompok.

Shavelson menetapkan skala yang lengkap mengenai konsep diri (Marsh et al., 1983) . Secara ringkas aspek konsep diri tersebut dapat dilihat dari tabel berikut :

ASPEK  DESKRIPSI 
Kemampuan fisik Kemampuan dan minat yang berkaitan dengan olahraga maupun aktivitas fisik lainnya
Penampilan Fisik Sejauh mana seseorang memiliki fisik yang menarik.
Hubungan dengan lawan jenis Interaksi dengan sahabat seumur yang memiliki jenis kelamin berbeda
Hubungan dengan sesama jenis Interaksi dengan sahabat seumur yang memiliki kesamaan jenis kelamin
Hubungan antara anak dengan orangtua Interaksi anak dengan orangtua
Matematika Kemampuan, rasa suka, dan ketertarikan pada matematika dan ilmu logika
Verbal Kemampuan, rasa suka dan ketertarikan pada bahasa, khususnya bahasa inggris dan membaca
Sekolah secara umum Kemampuan, rasa suka dan ketertarikan pada subjek-subjek yang berkaitan dengan sekolah
Konsep diri secara umum Kemampuan untuk menghargai diri sendiri dan membangun rasa percaya diri

Tabel 1.  Aspek Konsep Diri menurut Shalvelson

                Menurut Burns (1979), konsep diri dipengaruhi oeh beberapa faktor yaitu bagaimana diri fisiknya dan bagaimana anak mencitra kondisi fisiknya; umpan balik orang-orang terdekat anak seperti orangtua, teman sebaya dan guru juga praktek membesarkan anak atau pola asuh.

Praktek-pratek pengasuhan dan hubungan anak baik dengan teman sebaya maupun guru serta masyarakat yang diwarnai kekerasan di Kota Kupang mempengaruhi perkembangan konsep diri anak. Menurut Walgito (2002) persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan, yakni merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera.. Jadi apa yang dialami oleh anak selama 11 tahun merupakan stimulus awal yang kemudian diorganisasikan dan diinterpretasikan sehingga individu menyadari, mengerti tentang apa yang diindera dan memunculkan respon (Branca, dalam Walgito, 2002). Anak di Kota Kupang, dengan inderanya menangkap stimulus yang ada berupa kata-kata makian, penghinaan, pemukulan dan perbuatan kasar lainnya, mengorganisasikan dan menginterpretasikannya sehingga anak menyadari apa yang dialaminya sebagai bentuk kasih sayang ataukah penolakan orangtua maupun lingkungan terhadapnya, kemudian memunculkan respon dengan mengembangkan konsep diri yang positif ataukan negatif.

Kekerasan terhadap anak biasa dikenal secara global sebagai “child abuse”. Kekerasan pada anak adalah tindakan melukai yang berulang-ulang secara fisik dan emosional terhadap anak yang ketergantungan, melalui desakan hasrat, hukuman badan yang tak terkendali, degradasi dan cemoohan permanen atau kekerasan seksual, biasanya dilakukan para orangtua atau pihak lain yang seharusnya merawat anak (Baker dalam Huraerah, 2007). Banton (2004) mendefenisikan kekerasan terhadap anak sebagai perilaku-perilaku yang merugikan anak-anak dalam kondisi apapun, atau kegagalan dalam menyediakan kebutuhan  dasar anak. Menurut Richard Gelles dalam Huraerah (2007), kekerasan terhadap anak adalah perbuatan disengaja yang menyebabkan kerugian atau bahaya terhadap anak-anak secara fisik maupun emosional.

Persepsi anak terhadap kekerasan adalah proses pemaknaan stimulus yang di tangkap anak lewat inderanya (melihat, mendengar, merasakan kekerasan yang dilakukan orang-orang yang seharusnya mengasihi nya). Proses pemaknaan inilah yang menjadi dasar perilaku anak.

Skala perespsi anak terhadap kekerasan ini dikembangkan berdasarkan aspek-aspek dibawah ini :

  1. Kekerasan merupakan pewarisan kekerasan antar generasi (intergenerational transmission of violance).

Menurut Gelles (Huraerah, 2007), pewarisan kekerasan antar generasi adalah perilaku kekerasan dipelajari seorang anak dari orangtuanya  kemudian mengembangkannya ketika dewasa/ menjadi orangtua nantinya. Orangtua dulunya menjadi patuh, disiplin dan berhasil karena di perlakukan keras oleh orangtua mereka masing-masing, sehingga mereka meyakini bahwa cara pendidikan yang mereka terima dahulu adalah cara yang efektif untuk menghasilkan generasi yang unggul.

  1. Kekerasan fisik

Menurut Tampubulon, et al (2003) kekerasan fisik adalah semua tindakan yang mengakibatkan luka fisik pada anak. Kekerasan fisik itu meliputi menampar, menjewer, mencubit, memukul dengan dahan pohon, dengan tongkat, cambuk atau benda keras lainnya, melempar dengan benda keras, mendorong, menendang, membenturkan anak ke dinding, mengikat anak di pohon, push up, jalan dengan lutut dan dijemur.

  1. Kekerasan emosional

Kekerasan emosional adalah semua tindakan yang berpengaruh buruk terhadap perkembangan emosi dan sosial anak. Menurut Banton (2004) kekerasan emosional seperti memarahi, menghardik, memaki, mengatai anak sebagai anak yang tidak berguna, tidak dicintai, bodoh dan selalu mengecewakan orangtua; dan Vaughan (1996) menambahkannya yaitu membicarakan kegagalan anak terus menerus dan menghinanya.

  1. Kekerasan seksual

Kekerasan seksual adalah semua tindakan yang memaksa atau merayu anak untuk mengambil bagian dalam aktivitas seksual, baik itu yang disadari atau tidak. Menurut Lawson (Huraerah, 2007) kekerasan seksual meliputi kontak fisik, penetrasi/ tidak penetrasi, memegang bagian tubuh yang tidak boleh disentuh, serta aktivitas bukan kontak fisik seperti mengajak anak menonton adegan porno, memperlihatkan gambar-gambar porno, menganjurkan anak untuk berperilaku yang tidak pantas seperti exhibitionism, mengajak anak berbicara porno, tindakan yang menyebabkan anak masuk dalam tujuan prostitusi atau menggunakan anak sebagai model foto porno.

Sedangkan pola asuh otoriter atau  pola pengasuhan authoritarian menurut Diana Baumrind dalam Santrock (1999) adalah suatu gaya yang membatasi dan menghukum yang menuntut anak untuk mengikuti perintah-perintah orangtua dan menghormati pekerjaan dan usaha. Orangtua yang otoriter menetapkan dengan tegas dan tidak memberi peluang yang besar kepada anak-anak untuk berbicara (bermusyawarah). menuntut kepatuhan dan konformitas yang tinggi.  Mereka lebih suka menghukum, diktator dan kaku dalam menerapkan disiplin bagi anak-anak.

Pola asuh otoriter ini akan di ukur menggunakan ciri-ciri pola asuh otoriter menurut Diana Baumrind dalam Mahmud (2004) yaitu orangtua menuntut kepatuhan yang tinggi, tidak boleh bertanya, menghukum bila anak melanggar tuntutan, tidak membicarakan berbagai masalah dengan anak, sedikit sekali memberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaan, tidak memberi kesempatan kepada anak untuk mengatur dirinya sendiri.

Metode

Penelitian mengunakan analisa regresi dan uji t-test untuk hipotesis mengetahui perbedaan yang akan diukur.

Subjek penelitian adalah anak usia Kelas 5 dan 6 SD, usia 11- 12 tahun, jenis kelamin Laki dan Perempuan, tinggal di lingkungan etnis Sabu dan etnis Rote dan bersuku Sabu dan Rote

Penelitian ini dilaksanakan di 4 Sekolah Dasar yang ada di Kelurahan berbasis etnis yaitu 2 kelurahan etnis Sabu dan  2 kampung etnis Rote. Kampung etnis Sabu yaitu SDN Nunbaun Sabu di kelurahan Nunbaun Sabu dan SDI Nunbaun Delha di kelurahan Nunbaun Delha; sedang kampung etnis Rote yaitu SDI Osmok di kelurahan Namusain dan SDI Kayu Putih di  kelurahan  Oebobo.

 

 

Hasil Penelitian dan Pembahasan

                Hasil uji hipotesis yang menunjukkan persepsi anak terhadap kekerasan dan pola asuh otoriter secara bersama-sama berperan negatif terhadap konsep diri, artinya variabel persepsi anak terhadap kekerasan dan pola asuh otoriter bersama-sama merupakan prediktor yang baik bagi konsep diri, yaitu semakin tinggi persepsi anak dan semakin otoriter pola asuh yangditerima anak, semakin rendah konsep diri yang anak kembangkan (F = 5.311, p = 0.006, R = 0,260, R2 = 0,067. Ini dapat diketahui bahwa sumbangan efektif kedua prediktor terhadap konsep diri sebesar 6,7 %, sedangkan sisanya (100% – 6,7% = 93,3 %) dijelaskan prediktor-prediktor lain. Ini berarti hipotesis pertama dalam penelitian ini diterima. Hasil penelitian ini mendukung pendapat Coopersmith dalam Calhoun & Joan  (1990) yang menyatakan bahwa konsep diri anak dipelajari melalui kontak dan pengalaman anak bersama orang lain, belajar diri sendiri melalui cermin orang lain. Anak belajar untuk memahami penilaian orang lain terhadap dirinya sendiri (Puspasari, 2007).  Burns (1979) menegaskan bahwa  bagaimana umpan balik yang diberikan orang-orang terdekat di sekitar anak dan bagaimana bentuk pengasuhan yang dikembangkan orangtua, dipersepsi dan dipahami anak apakah sebagai ancaman, pujian hukuman ataukah penghargaan, yang kemudian akan dikembangkan menjadi suatu konsep mengenai siapa dirinya.

                Secara terpisah, persepsi anak terhadap kekerasan berperan negatif terhadap konsep diri. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa hipotesis ini diterima. Ini berarti semakin tinggi persepsi anak terhadap kekerasan, semakin negatif konsep diri anak. Ini bisa dilihat dengan nilai beta 0.257, t = 3.175, dan p =  0.002, taraf signifikansi p < 0.05 (signifikan). Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Isliko (2008) bahwa ada hubungan positif antara persepsi remaja terhadap budaya kekerasan di Kota Kupang dengan tingkat agresifitas remaja. Berarti semakin tinggi persepsi remaja terhadap budaya kekerasan semakin tinggi juga tingkat agresifitasnya. Penelitian serupa mengenai persepsi anak terhadap kekerasan, yang dilakukan oleh  Lating (2007) menunjukkan bahwa ada semakin tinggi persepsi anak terhadap kekerasan semakin rendah tingkat ketrampilan sosial yang dikembangkan anak. Apa yang anak persepsilah yang sebenarnya mempengaruhi apakah sebuah stimulus atau rangsangan yang dilihat dan dirasakan itu menjadi ancaman atau penghargaan.

                Hipotesis ketiga berbunyi “ada hubungan negatif antara pola asuh otoriter dengan konsep diri”. Dari hasil uji regresi menunjukkan bahwa hipotesis ini ditolak. Ini dibuktikan dengan nilai beta sebesar -0.104, t = -1.289, p = 0,199, dengan taraf signifikan p < 0,005. Ini berarti ada kemungkinan semakin otoriter pengasuhan yang diterima anak, maka semakin positif konsep diri yang dikembangkan anak dan sebaliknya juga ada kemungkinan semakin tidak otoriter pengasuhan yang diterima anak, maka semakin negatif  juga konsep diri anak.

Anak di kota Kupang sangat terbiasa dengan pola pengasuhan yang otoriter, misalnya semua diatur dan ditentukan orangtua, anak tidak punya hak untuk bertanya, kekerasan menjadi pilihan terakhir ketika menyelesaikan konflik orangtua anak, anak harus menuruti semua kemauan orangtua tanpa boleh membantah. Setiap hari anak diperhadapkan dengan kondisi seperti itu, akhirnya anak telah terbiasa dan tidak menganggap itu sebagai masalah.

                Hipotesis keempat berbunyi “ada perbedaan konsep diri antara anak yang tinggal di lingkungan etnis Sabu dan Rote”. Konsep diri anak yang tinggal di lingkungan etnis Sabu lebih tinggi dari etnis Rote. Uji t-test konsep diri antara anak yang tinggal di lingkungan etnis Sabu dan Rote, yang diasumsikan bahwa anak yang tinggal di lingkungan etnis Sabu memiliki konsep diri lebih tinggi daripada anak yang tinggal di lingkungan etnis Rote, tidak terbukti. Nilai t hitung lebih kecil dari pada nilai t table (t hitung < t table = 0.932 < 1,640). Ini berarti tidak ada perbedaan konsep diri antara anak yang tinggal di lingkungan etnis Sabu dan Rote. Hasil penelitian ini serupa dengan penelitian yang dilakukan Phinney (dalam Tarakanita, 2001) yaitu tidak menemukan adanya hubungan antara status identitas etnik dengan self esteem pada kelompok etnik remaja minoritas dengan kelompok mayoritas.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan pada bab terdahulu, maka terdapat beberapa point penting yang dapat disimpulkan :

  1. Ada hubungan antara persepsi anak terhadap kekerasan dan pola asuh otoriter dengan konsep diri. Ini berarti variabel persepsi anak terhadap kekerasan dan pola asuh otoriter bersama-sama merupakan prediktor yang baik bagi konsep diri.
  2. Ada hubungan negatif antara persepsi anak terhdap kekerasan dengan konsep diri. Ini berarti semakin tinggi persepsi anak terhadap kekerasan, semakin negatif konsep diri anak
  3. Tidak ada hubungan antara pola asuh otoriter dengan konsep diri. Ini berarti ada kemungkinan semakin otoriter pengasuhan yang diterima anak, maka semakin positif konsep diri yang dikembangkan anak.
  4. Tidak ada perbedaan konsep diri antara anak yang tinggal di lingkungan etnis Sabu dan Rote.

Penelitian ini memberi masukan bagi pada pemerintah untuk menggalakkan sosialisasi UU N0.23/ 2002 ke para orangtua, sekolah-sekolah dan masyarakat. Para orangtua agar tidak mengembangkan pola pengasuhan yang diwarnai kekerasan dan orangtua juga harusnya dilibatkan dalam program anti kekerasan terhadap anak. Guru diharapkan tidak lagi mengembangkan pola pendidikan keras yang sudah terjadi turun temurun dan sekolah-sekolah serta guru-guru juga harus dilibatkan dalam program anti kekerasan terhadap anak. Pelatihan cara mengajar yang lebih efektif bagi guru-guru. Ini dimaksudkan agar guru dapat mencari alternatif memberi hukuman tanpa kekerasan Studi ini bisa menjadi studi awal bagi pergerakan pemberantas kekerasan terhadap anak di Kota kupang. Perlu sosialisasi mengenai kekerasan terhadap anak dan dampaknya bagi perkembangan anak. Metode penelitian yang digunakan dapat diperluas dengan menggunakan metode lainnya seperti metode experiment, atau kualitatif

DAFTAR PUSTAKA

Banton, R., 2004, dalam Child Abuse, Childhood Study, an Intrduction, Australia: Blackwell Publishing.

 Burns, R. B., 1979, The Self Concept : Theory, Measurement, Development and Behavior, London: Longman Group Limited.

 Calhoun, J.F & Joan R. A., 1990, Psychology of Adjustment and Human Relationships, New York: Mc Graw-Hill.

Huraerah, A., 2007, Child Abuse (kekerasan terhadap anak), Bandung: Nuansa.

 Lating, A. D., Hubungan antara Persepsi Anak terhadap Kekerasan dengan Ketrampilan Sosial di tinjau dari Lingkungan yang Berbeda,. Tesis, Program Studi Psikologi, Universitas Gadjah Mada, 2007, tidak diterbitkan.

 Mahmud, H. R.,2004, Hubungan antara gaya pengasuhan orangtua dengan tingkah laku prososial anak, Jurnal Psikodinamika, Vol. 6, No. 2, hal 48-57

 Marsh, W. H, Joseph R & Ian D. S., 1983, Self-Concept: The Construct Validity of Interpretations Based Upon the SDQ, Journal of Personality and Social Psychology, Vol 45, No. 1, hal. 173-187.

Marsh, W. H, Len C, Joseph R, Jennifer B & Ray L. D., 1984, The Relationship Between Dimensions of Self-Attribution and Dimensions of Self Concept, Journal of Educational Psychology, Vol. 76, No. 1, hal 3-32

Puspasari, A., 2007, Mengukur Konsep Diri Anak, Cara Praktis bagi Orangtua untuk Mengukur dan Mengembangkan Konsep Diri Anak, Jakarta: Alex Media Komputindo.

Santrock, J. W., 1999, Life-Span Development, New York. McGraw-Hill College.

Song, In-Sub, John H., 1984, Home Environment, Self Concept and Academic Achievement: A causal Modeling Approach, Journal of Educational Psychology, Vol. 76, No. 6, hal 1269-1281.

Tampubulon, L. H, Rianto A, Elli B. H & Nur H., 2003, Pengkajian Mengenai Kekerasan terhadap Anak di Kabupaten Sikka dan Ende, NTT, Kerja sama UNICEF, Cooperazione Italiana & NZIAD.

Tarakanita, I., 2001, Hubungan Status Etnik dengan Konsep Diri Mahasiswa (Studi pada Kelompok Remaja Akhir Etnik dan Etnik Cina di Universitas Kristen Maranatha Bandung), Jurnal Psikologi, Vol. 7, No. 1, hal. 1-15.

Vaughan, R. P., 1996, Child Abuse and Its Consequences, Human Development Magazine, Vol.17, No. 2, hal. 12-16.

Walgito, B., 2002, Pengantar Psikologi Umum, Yoyakarta : Andi Offset.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: