Story telling therapy

belajar bercerita

Judul Jurnal    : If your mother were an animal, what animal would she be? Creating play-stories in family therapy: The Animal Attribution Story-Telling Technique (AASTT)

Penulis            : Arad, D

Penerbit         : Family Process, 43(2), halaman 249-263

Tahun             : 2004

 

Arad (2004) menyatakan bahwa anak, baik yang mempunyai perkembangan fisiologis maupun biologis perlu berkomunikasi dengan anggota keluarga ataupun dengan lingkungan sekitarnya. Anak yang mengalami attention deficit/hyperactive disorder (ADHD) dan conduct disorder (CD) biasanya mengalami permasalahan dalam berkomunikasi. Di dalam memberikan terapi kepada anak dan anggota keluarga tersebut, Arad memodifikasi sedikit terapi storytelling yang ada, yaitu menggunakan animal storytelling. Tujuannya adalah bahwa anak tidak merasa terbebani dengan penggunaan jenis binatang sebagai pengganti anggota keluarga. Dengan menggunakan nama-nama binatang tersebut, maka anak akan lebih nyaman karena seakan-akan proses terapi ini hanya merupakan permainan belaka. Akan tetapi, tujuan utamanya adalah bahwa pemilihan nama atau jenis binatang yang dilakukan oleh anak merupakan simbol dari apa pendapat anak terhadap orang tersebut.

Di dalam proses terapi, masing-masing anggota keluarga diberi suatu cerita yang menggunakan jenis binatang sebagai karakter-karakter utama (seperti fabel) dan diwajibkan untuk mengasosiasikan masing-masing anggota keluarga dengan binatang-binatang yang ada di dalam cerita. Setelah itu, masing-masing anggota keluarga diajak untuk menceritakan alasan pengasosiasian tersebut. Hasil percakapan terarah ini menunjukkan proyeksi masing-masing anggota keluarga terhadap satu sama lain dapat menyebabkan permasalahan ataupun memberikan keuntungan di dalam berkomunikasi.

 Robertson & Karagiogiz (2004) berusaha meneliti bagaimana reaksi anak-anak 22 pre-adolesen keturunan Yunani yang tidak dapat berbahasa Yunani terhadap cerita-cerita Yunani. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki bagaimana reaksi mereka terhadap pandangan gender di dalam cerita tersebut, bagaimana pemahaman mereka terhadap ceritanya, dan bagaimana pendapat mereka terhadap karakter-karakter tersebut. Cerita yang diperkenalkan ada 2 judul: (a) Chrisofeggaraki bercerita tentang seorang wanita yang harus melarikan diri dari rumah karena selalu diincar untuk dibunuh oleh kakak-kakaknya sendiri. Selama dalam pelariannya, Chrisofeggaraki mencoba bertahan dengan adanya cobaan-cobaan yang menghadangnya; (b) The Greek Children bercerita mengenai perjuangan kakak beradik George dan Maria yang dalam melawan musuh mereka, Master Agas. George dan Maria merepresentasikan warga Yunani di abad 18 dan Master Agas merepresentasikan warga Turki.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui kegiatan bercerita dengan menggunakan cerita-cerita rakyat dan diiringi oleh pertanyaan-pertanyaan yang terarah, anak mampu menganalisa cerita tersebut dan menceritakan kembali pendapat mereka. Dalam hal hubungan antar keluarga, ketika membaca bacaan pertama, anak mampu mengatakan bahwa kakak adik seharusnya tidak saling menyakiti dan seharusnya saling mendukung. Reaksi umum terhadap bacaan kedua adalah bahwa bagi siswa laki-laki dan perempuan, George merupakan pahlawan yang mempunyai keberanian dan keteguhan; sedangkan bagi siswi perempuan, Maria merupakan tokoh yang mempunyai keteguhan tinggi, kemauan yang keras dan determinasi yang kuat. Pada intinya, melalui cerita legenda/mitos, anak dapat belajar tentang budaya Yunani sekaligus menemukan pesan moral yang tersirat di dalam cerita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: