Menjadi PNS

Tulisan ini sebenarnya sudah menjadi perenungan sejak dahulu, hanya mencoba menuangkannya dalam tulisan baru terinspirasi setelah membaca blog menarik (Romisatriowahono).

Sebenarnya menjadi hal tidak adil ketika memberi sedikit perenungan terhadap etos kerja PNS, karena rasanya banyak pihak yang melayangkan protes atau kritikan. Dan saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang “sering” sekali protes tentang bagaimana PNS bekerja. Sudah sejak kecil, saya sudah berjanji untuk tidak mengikuti dab bahkan menjadi PNS. Ini akibat sering main di kantor Bapak saya sejak kecil. Sejak otak saya masuk dalam tahap analisis operasional. Melihat kerja staf dalam departemen yang Bapak saya pimpin (kebudayaan & sejarah) yang terlihat sejak pagi membaca Koran, maen catur, cerita di pojok-pojok ruangan dan bahkan mengajak anak bos untuk diajak cerita atau bermain. Suasana dalam ruangan memang sangat diam, teduh dan kondusif untuk menghasilkan sebuah karya, seperti menujukkan sebuah kualitas pekerjaan yang dilakukan. Ternyata apa yang terjadi adalah, setiap orang sibuk dengan “pekerjaan” nya masing-masing.

Kondisi ini tidak terlalu saya ambil pusing karena keadaan saya ketika masih kecil. Pengamatan serta analisis ini berkembang seiring dengan pertambahan pengetahuan yang saya alami. Melihat bahwa PNS selalu berkeliaran di toko-toko, rumah-rumah makan bahkan pasar dan seringnya berdiskusi dengan teman yang juga memperhatikan fenomena tersebut, dan kenyataan bahwa di Kota Kupang, menajdi PNS adalah cita-cita tertinggi setiap orang dan anak muda yang mencari pekerjaan, saya juga akan berpikir, suatu waktu, ada kemungkinan saya akan menjadi PNS juga.

Kemungkinan ini mendorong saya untuk berpikir mencari celah dimana menjadi PNS yang “bekerja” dan berkualitas. Dari semua kemingkinan tersebut, profesi PNS yang bekerja hanya terjadi bagi mereka yang bekerja sebagai tenaga pengajar. Sejak saat itulah, kemungkinan menjadi PNS hanya saya peruntukan untuk profesi sebagai tenaga pengajar saja. Pemahaman dan keyakinan seperti itu bertahan sampai saya menyelesaikan strata 1 saya.

Kondisi itu bertahan dan diperkuat setelah saya melanjutkan strata 2. Memiliki teman-teman yang berbagi cerita tentang kehidupan pekerjaan mereka menjadi PNS, lalu mengalami sendiri setelah hampir 20 tahun yang lalu di dalam kantor bapak saya. Saat melakukan permohonan ijin melakukan penelitian di tanah air beta ini, betapa terkejutnya ketika saya mendapati bahawa hari senin, jam 9 pagi, PNS-PNS dalam ruangan tempat melakukan permohonan ijin sedang ramai. Ruangan itu kira-kira seluas 6×7 m, berisi sekitar 10 orang PNS dan bunyi suara TV dan dengungan tidak jelas dari mereka yang bercerita, beberapa yang menonton, beberapa yang membaca Koran, dan tak 1 pun yang sedang terlihat serius melakukan tugasnya. Ketika saya masuk, butuh waktu 20 detik untuk membuat mereka sadar akan kehadiran saya padahal saya sudah mengetuk pintu dan mengucapkan salam selamat pagi. Entah sengaja atau memang sibuk dengan aktivitas mereka itu, saya tak dihiraukan.

Setelah masuk pun, hanya 1 orang yang memperhatikan saya dan menyakan tujuan saya datang tanpa meminta saya duduk karena tidak ada 1 kursi yang tersisa untuk melayani warga karena di penuhi oleh PNS yang melakukan “aktivitas” mereka. Saya pun dilayani dengan keadaan berdiri.

Sambil senyum-senyum memahami kondisi ini, saya segera menyelesaikan tugas dan bergegas pergi ke ruangan dan, dan hasilnya pada hari itu saya berkeliling 3 ruangan dan tidak ada hasil. Surat yang harusnya bisa diselesaikan saat itu juga, baru bisa diambil besok dengan alasan “maaf, saya bekerja sendiri, jadi sibuk”, padahal kondisinya saat saya datang adalah (bisa ditebak) sedang bercerita. Dan semakin kuatlah saya untuk tidak ingi bekerja sebagai PNS dengan jabatan structural.

Setelah menyalesaikan strata 2 saya, niat untuk pulang dan membangun Kota Kupang menjadi tujuan utama adalah dibidang pendidikan. Setelah 1 tahun bergabung dengan LSM local akhirnya saya di terima di salah satu Universitas Negeri terbesar dan tertua di Kota Kupang di fakultas FKIP. Syukur pada Tuhan untuk keberuntungan ini.

Hari ini, tepatnya 1 bulan 29 hari sejak saya menjalankan tugas sebagai PNS (tetapi status PNSnya sudah 6 bulan 29 hari).

Sudah hampir 2 bulan saya menjalankan status saya dan bukan tugas sebagai PNS. Menjalankan status yaitu wajib lapor, wajib mengikuti apel pagi sebagai wujud pengabdian pada negara dan institusi (atau apalah itu namanya) dan pastinya menerima gaji bahkan uang lauk pauk. Sedangkan tugas saya sebagai dosen, tidak tersentuh sama sekali hampir 2 bulan ini.

Dan berikut beberapa hal yang ingin saya share, tentang kekagetan saya setelah menjadi PNS dalam jabatan fungsional alias tenaga pengajar.Biar lebih detail, saya akan menceritakan bagaimana kegiatan saya sehari-hari…

Terhitung tanggal 1 juni, kami diwajibkan datang pagi untuk mengikuti apel pagi pada pukul 07.15 Witang. Lamanya cereminy tersebut tergantung siapa yang menjadi pemimpin apel hari itu. Kira-kira 1/2 jam kemudian kami dibubarkan. Setelah itu, aktifitas lanjutan adalah mencari “tempat” yang nyaman untuk “bercerita”. Karena Kami (saya dan 2 teman lainnya yang baru masuk) bukanlah tipe yang senang menghabiskan waktu dengan cara seperti itu, maka kami memilih pulang untuk melanjutkan aktifitas masing2 yang menunggu.

Kegiatan seperti diatas, berlangsung sampai hari ini. Kami hanya mampu bertahan 30 menit berada di Fakultas tercinta itu.  Sisanya kami habiskan dengan aktifitas lain.

Kondisi ini sangat membuat saya merasa bersalah dengan “tanah dan bumi”. Liat saja, ditengah-tengah susahnya orang bekerja untuk mendapatkan gaji yg layak ntuk bertahan hidup, saya bahkan tidak mengerjakan apa-apa dan mendapat bayaran yg bagus. dan karena rasa bersalah ini saya sempat menanyakan pekerjaan apakah yang bisa saya kerjakan? dan jawabannya adalah saya mendapat senyuman yang terlihat seperti mengejek…(“sok banget seh”). Akhirnya, untuk mengurangi rasa bersalah ini, saya membawa pekerjaan (yang tentunya berkaitan dengan pendidikan) untuk saya kerjakan di kampus. Hasilnya memang saya bertahan menyelesaikan waktu tugas saya di kampus.

Sampai pada tahap ini, akhirnya saya berpikir bagaimana tidak larut dalam system, tetapi menjadi diri sendiri dengan system PNS yang ada. Semoga saya tidak menunda-nunda pekerjaan, semoga tidak melihat berapa uang yang menjadi jatah saya jika bekerja, semoga tepat waktu, semoga tidak mencari muka dan semoga produktif.

Tetapi tidak semua PNS seperti itu, setelah saya amati, semua ini hanya masalah “mind set” yang perlu bongkar dan di tata kembali. Seburuk apapun system, ketika mind set orang bagus, tidak sulit untuk menjadi agen of change.

Mari menjadi PNS yang berdedikasi dan berkualiatas…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: